Ada kalanya aku diam-diam bertanya kepada Tuhan, bagaimana seseorang yang pernah menjadi sebab dari runtuhnya begitu banyak bagian dalam diriku, justru terlihat begitu baik-baik saja setelah pergi. Ia menemukan rumah yang mungkin selama ini ia cari, seseorang yang barangkali menjadi jawaban dari doanya, anak-anak yang tumbuh di pelukannya, kendaraan, kecukupan, dan kehidupan yang dari kejauhan tampak begitu sempurna.
Sedangkan aku, masih di sini. Masih menambal hidup dari sisa-sisa yang pernah ia tinggalkan. Masih belajar berdiri tanpa banyak hal yang dulu kupikir akan kumiliki. Bahkan untuk sekadar merasa cukup, aku masih harus berjuang sedemikian rupa.
Bukan karena aku ingin melihat hidupnya runtuh. Sungguh, tidak. Hanya ada bagian kecil dalam diriku yang sesekali bertanya dengan suara yang sangat pelan: kalau dulu aku yang hancur karena perbuatannya, mengapa setelah itu hidupnya justru terlihat begitu indah? Dan kalau hidup memang tentang ujian, di bagian mana Tuhan menyelipkan ujian untuknya?
Mungkin aku hanya sedang lupa bahwa hidup seseorang tidak pernah benar-benar bisa dibaca dari apa yang tampak. Kita hanya melihat rumahnya, bukan sunyi di dalamnya. Melihat keluarganya, bukan apa yang mereka sembunyikan di antara percakapan. Melihat bahagianya, tanpa pernah tahu apa yang harus ia bayar untuk mendapatkannya.
Dan mungkin, hidupku memang belum sampai pada halaman yang indah itu.
Mungkin Tuhan sengaja membuat jalanku lebih panjang, agar ketika akhirnya aku sampai pada sesuatu yang baik, aku tidak lagi menjadi perempuan yang samaβyang mudah percaya, mudah menyerahkan seluruh hati, dan mengira bahwa dicintai berarti harus bertahan meski terus dilukai.
Barangkali aku tidak sedang tertinggal.
Barangkali aku hanya sedang ditempa dengan cara yang tidak semua orang sanggup lihat.
Dan jika suatu hari nanti hidupku akhirnya terasa ringan, semoga saat itu aku tidak lagi sibuk menoleh ke belakang untuk bertanya mengapa seseorang yang pernah menghancurkanku justru mendapatkan kehidupan yang indah.
Semoga aku sudah sampai pada titik di mana kebahagiaanku sendiri terasa jauh lebih penting daripada keadilan yang dulu pernah ingin kutemukan.















