Permata yang Terkubur di Balik Bayang-Bayang
Di bawah kubah langit-Mu yang maha luas,
Aku pernah menjadi pengagum yang kehilangan arah.
Mataku terpaku pada kilau permata di mahkota orang lain,
Memuja kesalehan mereka, mengagungkan cahaya di wajah mereka,
Hingga aku lupa bahwa di dalam dadaku sendiri,
Engkau telah menitipkan sepercik Nur yang merindukan sentuhan.
Aku terbelenggu dalam penjara yang kubangun sendiri,
Menjadikan "lemahku" sebagai tameng untuk tetap lari.
Katakan padaku, wahai jiwa yang bersembunyi:
Bukankah seringkali kita menjadikan "ampunan-Nya" sebagai alasan,
Untuk kembali berkubang dalam lumpur yang sama?
Kita memanipulasi kasih sayang Sang Rahman,
Seolah-olah dosa adalah niscaya, dan taubat hanyalah kata-kata tanpa rupa.
"Aku tak pantas," bisikku pada bayangan.
Sebuah kalimat tawadhu yang ternyata adalah racun kesombongan,
Karena aku berani membatasi luasnya samudera rahmat-Mu dengan sempitnya hinaku.
Aku jadikan kekurangan sebagai dalih untuk tidak berdiri,
Seolah keindahan iman hanya milik mereka yang bergelar,
Milik para kyai yang lisannya basah oleh dzikir,
Atau para ustadz yang jemarinya akrab dengan kitab-kitab tua.
Namun kini tersingkaplah tirai itu...
Keindahan pribadi bukan monopoli para penyambung lidah firman-Mu.
Sebab Tuhan tidak hanya bersemayam di atas mimbar-mimbar yang tinggi,
Tapi juga di hati yang hancur namun mencoba bangkit kembali.
Engkau tidak menciptakan hamba-Mu sebagai produk gagal,
Setiap jiwa adalah naskah indah yang ditulis oleh tangan-Mu.
Maka, kutinggalkan berhala kekaguman pada selain-Mu,
Dan kutinggalkan kenyamanan dalam rasa bersalah yang palsu.
Sebab menjadi lebih baik bukan tentang melampaui orang lain,
Tapi tentang menghargai hembusan ruh-Mu dalam diriku sendiri.
Aku bangkit, bukan karena aku kuat,
Tapi karena aku malu terus menerus mencurangi cinta-Mu yang tak terbatas.
Catatan untuk Jiwa yang Sedang Berjuang:
"Seorang Ustadz hanyalah manusia yang kebetulan dititipkan hafalan, namun setiap manusia adalah pemegang amanah keindahan Tuhan. Jangan biarkan "rasa tidak pantas" menjadi penghalangmu untuk memuliakan Allah melalui perbaikan dirimu."



















