I found another way for 'nyambat' about this life. Hahahahaha.. sedari dulu sudah ter-install di hp, tapi baru sadar.
It's okay.
Misplaced Lens Cap
tumblr dot com
Xuebing Du
Sweet Seals For You, Always
Jules of Nature

⁂
DEAR READER
almost home

if i look back, i am lost

izzy's playlists!

JBB: An Artblog!
Stranger Things
Three Goblin Art
cherry valley forever
Show & Tell

Origami Around

Kiana Khansmith
Monterey Bay Aquarium
AnasAbdin

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Germany
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United Kingdom

seen from Australia
seen from United States
seen from Brazil
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from United States
@theslavespots
I found another way for 'nyambat' about this life. Hahahahaha.. sedari dulu sudah ter-install di hp, tapi baru sadar.
It's okay.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Hi, boys.
Being your mom is the greatest gift that i've ever got. Please be kind and spread the love to the others around you.
Love you, Nak ❤️
Ghazanvar.
Putra keduaku yang, saat itu, belum kuharapkan. Tapi, siapa sangka akan menjadi sebuah hadiah berharga untuk kami sekeluarga.
Maaf, De.. saat itu ibu kaget dan kebingungan karena tiba-tiba hamil tanpa diharapkan sama sekali. Saat itu, kakakmu masih kecil dan sedang butuh pengobatan. Ibu pikir, bagaimana nasib kakakmu kalau ibu punya bayi lagi sedangkan dia sangat membutuhkan ibu? Bagaimana jika nanti ibu terlalu sibuk mengurusmu, sedangkan kakakmu akan ibu lalaikan? Bagaimana jika nanti dia merasa iri bahkan cemburu karena kehadiranmu? Begitulah dalam benak ibu setiap hari. Tak luput dari rasa bersalah kepada kakakmu.
Begitu kamu lahir, Nak.. ternyata kakakmu punya rasa penasaran yang tinggi. Mungkin dia bertanya-tanya, "Siapa gerangan bayi kecil ini?", "Kenapa dia tiba-tiba ada di rumah?", "Kenapa aku harus memanggilnya 'Adek'?". Mungkin begitu.
Selama perjalanan 3 bulan ini, perlahan kakakmu membuka hati untuk menerima kehadiranmu. Memberikan sedikit ruang di hatinya untuk mengisinya denganmu. Meskipun ada saat dimana dia iri dan cemburu karena ibu dan abah menggendongmu, tak apa. Semua akan melewati prosesnya, proses menerimamu untuk menjadi bagian dari hidupnya.
Maaf, De.. kamu harus berbagi kasih sayang dengan kakakmu bahkan sebelum kamu lahir. Kalian hanya berjarak 2 tahun, dan kalian sangat membutuhkan ibu.
Maaf, ya.. ibu masih banyak sekali kekurangan. Tapi, menjadikan kalian prioritas adalah hal yang selalu ibu usahakan.
Fatahillah.
Itulah namanya. Sesosok bayi mungil yang semakin membesar inilah putra yang sangat aku nantikan kehadirannya. Menunggumu adalah hal tersulit, Nak.. tapi kau hadir di saat aku benar telah berserah dan berpasrah pada-Nya.
Nak.. lahir di dunia bukanlah pilihanmu, tapi aku yang menginginkannya. Rasa sakit bahkan kegalauan di kehidupan ini kelak kau akan rasakan. Maaf ya.. bukan maksudku ingin membuatmu terluka atas kerasnya dunia, tapi sosokmu yang kuinginkan menjadi generasi penerusku kelak.
Nak.. maafkan, kau harus terlahir dari diriku yang miskin ini. Terlahir dari ibu dengan segala kekurangan dan kebodohan. Tapi, Nak.. aku akan berusaha dan terus belajar seiring berjalan waktu sembari aku membesarkanmu, karena kaulah sejatinya yang mengajarkanku banyak hal.
Nak.. kaulah teman sejatiku. Selamanya akan jadi teman sejati dan teman setiaku, walau suatu saat kau akan menemukan teman setia untuk hidupmu sendiri.
Nak.. tetaplah menjadi sosok yang baik hati dimanapun kau berada. Tetaplah ingat bahwa kami selalu menyayangimu sampai kapanpun.
With love, Ibu.
Assalamu'alaykum, our little one ❤️
"Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka akan berhasil."
Bukan kau yang ingin lahir di dunia, Nak.. tapi kami yang merindukan sosokmu untuk melengkapi kami, menjadi penyejuk mata bagi kami, dan penerus generasi kami.
Alhamdulillah, setelah penantian dan beribu doa kami panjatkan, Allah ijinkan kami menyambutmu dalam keluarga kami.
Maa syaa Allah, TabaarakAllah..
Semoga kelak kami dapat membersamaimu merajut kehidupan dengan baik.
With love,
Umma, Abah.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sebuah cerita yang kuambil dari masa lalu. Sebuah kenangan terbentang dalam garis waktu. Bagai siluet terbetik dalam memori, tak lekang.
Masa kecil adalah masa yang paling ingin kuulang. Dimana letak kebahagiaan hanya ada pada senyuman dan tawa sebab candaan. Atau karena tangisan yang terpekik sebab terjatuh saat belajar sepedaan. Haha..
Hidup terus bergulir. Dan masa seperti ini.. Akan menjadi giliran putra-putriku kelak.
Berharap kepada suatu hal yang salah, akan menjadi bumerang bagi diri sendiri. Sesal di kemudian hari tidak dapat dihindari. Jika Tuhan masih berbaik hati, mungkin kau akan dapat kesempatan; merefleksi dan memperbaiki diri.
Jangan anggap sakit hati berasal dari dia yang telah rela meninggalkanmu; mencabik hati dan kemudian berlalu, berpaling pada sosok yang lebih ayu.
Jangan pernah berharap pada manusia, karena sejatinya, diapun tak pernah punya apa-apa.
Selalu Ada Kesempatan
Aku nulis ini, supaya orang-orang tahu dan sadar, bahwa selalu ada kesempatan kedua dan seterusnya. Apalagi bagi mereka yang mau merefleksi dan memperbaiki diri.
Aku bilang gini, bukan bermaksud apa-apa. Aku cuma ingin sedikit bercerita tentang pelajaran berharga yang aku dapatkan beberapa waktu terakhir ini. Mungkin sebelumnya, ada yang sudah pernah aku tulis di sini, tapi akan aku sampaikan lagi. karena ini alur yang sebenarnya.
Sedikit flashback ke tahun 2021, dimana aku memasuki tahun ketiga pernikahan. Selama dua tahun, aku masih terus berharap hal yang sama; segera hamil dan punya momongan. Aku pernah gagal di tahun 2019, berjuang mati-matian setelahnya sampai di tahun 2021. Rupanya, Allah punya rencana lain.
Awal tahun 2021, masih belum ada tanda-tanda, tapi aku tetap berusaha, tentunya dengan suami juga. Sampai akhirnya, masuk bulan Ramadhan yang bertepatan dengan bulan April 2021, kami berdua sakit, terjangkit Chikungunya. Memang, saat itu di lingkungan kami banyak yang kena juga. Mengawali bulan puasa dengan tidak berpuasa kurang lebih satu minggu karena sakit, menjadi evaluasi bagi kami juga, mungkin Allah ingin meluruhkan dosa kami dengan sakit ini.
Setelah beberapa minggu sembuh dari sakit, aku mulai merasa ada yang aneh dengan badan ini. Tidak punya rasa curiga apapun, aku tetap menjalani puasa hingga hampir akhir bulan ramadhan. Hingga suatu hari, aku telat haid hampir seminggu. Aku menyampaikan hal ini pada suamiku, dan berencana akan konsultasi dengan dokter setelah libur lebaran,
Alhamdulillah, setelah konsultasi ke dokter, aku dinyatakan hamil. Saat itu sekitar bulan Mei 2021.
Minggu demi minggu aku lewati dengan penuh perjuangan. Tak beda dengan kehamilan pertama. awal-awal kehamilan selalu menjadi hal yang berat; mual, muntah dan tidak nafsu makan. Terlebih kondisi psikis yang lebih sensitif dari biasanya. Sebenarnya aku hanya minta pengertian dari orang-orang di sekitar, tapi yaaa.. kadang tidak semua orang bisa mengerti, terutama di lingkungan pekerjaan. Aku sempat stress karena lingkungan kerja yang terkesan kurang mendukung, tapi aku pikir, aku harus profesional.
Dua bulan kemudian, tanggal 7 Juli, aku sudah agendakan untuk kontrol rutin ke dokter. Tapi, ada hal mengagetkan terjadi ketika aku bangun tidur. Aku pendarahan. Bagaikan dilempar ke kejadian 2019 lalu, tanpa ada tanda dan aba-aba sama sekali. Meskipun tidak sepanik sebelumnya, tetap saja ada kekhawatiran dan kegelisahan akan hal ini.
Sekitar jam 9 pagi, aku dan suamiku pergi ke rumah sakit terdekat untuk kontrol. Sembari menunggu panggilan, perut sudah mulai terasa sakit, rasanya seperti nyeri haid. Rasanya timbul hilang setiap 5 menit. Saat itu aku sudah tidak banyak berharap, pasrah saja.
Benarlah, setelah di USG menurut dokter, sudah tidak terdeteksi lagi detak jantung janin. Terlebih, usia janin yang masih stuck di 8 minggu, padahal seharusnya sudah 12 minggu lebih. Dokter tidak menyarankan untuk rawat inap, hanya menyarankan untuk istirahat total dan meresepkan obat penguat.
Tidak sampai 24 jam, jam 9 malam, aku kembali lagi ke rumah sakit karena pendarahanku semakin banyak, dan rasa sakit di perut semakin terasa. Aku sudah menduga bahwa memang aku sudah keguguran. Ini kali kedua.
Jam 11 malam, aku harus masuk ke ruang rawat inap dan mempersiapkan diri untuk menjalani kuretase besok pagi. Aku tidak merasa takut atau sedih berlebih, mengingat ini adalah kedua kali pengalaman yang sama seperti dua tahun sebelumnya.
Pagi harinya, sekitar pukul 11, aku menjalani tindakan kuretase. Oya, di sekitar ruang rawat inap sampai area ruang tindakan sepiiiiiii.. banget. Saat itu memang angka covid di Cilacap sedang tinggi, sehingga perawat dan bidan di ruangan tsb banyak ditugaskan di bangsal covid khusus ibu hamil.
Pasca kuretase adalah hal terberat. Masih di bawah pengaruh bius, aku meracau tidak jelas bahkan menangis. Didampingi suamiku, yang sabar mendenagar semua omelanku. Aku mencoba kuat, dan harus menyadari bahwa semua ini adalah ketetapan-Nya.
Satu bulan pasca kuretase, rupanya Allah belum selesai ‘memandikan’ kami dari dosa-dosa di masa lalu. Lagi, kami berdua harus merasakan sakit. Di awal Agustus 2021, kami positif terpapar covid. Rupanya kami harus meramaikan khazanah pandemi di tahun ini. Tapi, kami tidak mengeluh. Hanya saja, aktivitas dan mobilitas kami sedikit terhambat karena covid ini. Kami berusaha sebaik mungkin meng-handle pekerjaan kami dari rumah. Kami harus isolasi mandiri selama 14 hari, kira-kira hingga pertengahan bulan Agustus. Masa isolasi mandiri kami isi dengan ibadah, bekerja dari rumah, olahraga ringan, dan aktivitas lainnya.
Semua yang kami alami di tahun 2021 lalu, memberikan banyak pelajaran berharga bagi kami. khususnya aku pribadi, untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Allah punya maksud baik dari setiap apa yang Dia gariskan pada hamba-Nya.
Hingga masuk 2022, aku melewati hari-hari dengan lebih baik pasca menelan semua manis pahit di 2021. Menjadi diri yang lebih legowo, qana’ah dan lebih ikhlas menjalani segala takdir dari-Nya. Alhamdulillah, Allah berikan hadiah istimewa yang sudah kami nantikan. Bulan Maret 2022 ini, aku dinyatakan hamil. Ini adalah kesempatan ketiga bagi kami. Penuh rasa syukur, juga was-was akan kejadian sebelumnya, tapi kami tetap berbaik sangka pada-Nya, dan yakin kali ini akan menjadi kesempatan yang tidak akan kami sia-siakan.
Aku hanya berharap, semoga dengan kesempatan ketiga ini, aku mampu melewati dengan baik, serta menjadikanku lebih dekat dengan-Nya, dan mengubahku menjadi pribadi yang lebih baik dan bertaqwa.
Aku selalu yakin bahwa Allah akan memberikan apa yang kita harapkan di waktu yang tepat, selama kita berusaha untuk meraihnya, dan selalu mencoba mendekatkan diri pada-Nya. Ya, selalu ada kesempatan.
10 posts!
Saking tidak pernah nulis. Oke, baiklah.
Aku tidak pernah berkata bahwa aku telah rela. Bukan, bukan maksudku tak merelakan masa lalu, ataupun dirimu. Lebih pada semua yang aku terima darimu, termasuk rasa kacau balau kala itu. Haha.. aku telah menerima kehidupanku saat ini. Namun, akan sangat bodoh apabila aku telah melupakan luka yang menganga dengan segala perih terasa. Mungkin, akan lebih baik menganggapmu tak pernah singgahi hati.
Kau tahu.. Sebuah kaca yang retak bahkan hancur itu tidak akan pernah menjadi sempurna seperti sebelumnya, bukan?

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
📌 Gedung Roedhiro, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, ID
Ada banyak kegalauan, kegelisahan bahkan kesedihan yang masih tertinggal di hati, tapi jiwa ini enggan dan menolak untuk merasakan. Sampai suatu ketika, saat sendiri, lepas bersujud pada-Nya, aku menyadari, bahwa aku tak lebih dari 'rapuh'.
Lulusan Covid-19
Alhamduillaah.. bisa nulis di sini lagi. Mau berbagi sedikit pengalamanku yang kemarin sempat terpapar covid bareng sama suami.
Jadi sekitar awal Agustus, tepatnya Senin, 2 Agustus 2021, suamiku badannya mulai anget nih. Aku pikir sumeng biasa, karena hari sebelumnya, dia sempet pergi dan kehujanan, dan gak ada curiga ke arah covid sama sekali.
Dua hari, tiga hari, masih begitu juga, ditambah tenggorokan yang sakit, katanya. Akhirnya aku paksa buat periksa ke dokter, ya minimal ngadu lah, kenapa kok bisa sumeng tiga hari, minum obat tapi gak ada perubahan.
Jadi, pas hari Rabu 4 Agustus, langsung konsultasi ke dokter, dan diagnosa sementara dari dokter bahwa kemungkinan covid, jadi disarankan untuk tes swab Antigen di Laboratorium. Oke, nurut aja mah, pikirku gitu. Setelah di tes antigen, ternyata negatif. Makin bingung lah saya, ini suami kenapa.
Setelah itu, suami konsultasi masalah hasilnya ke dokter. Dokter menyarankan buat langsung isolasi mandiri aja, walaupun hasil negatif, dan nunggu hari ke-5 gejala, supaya tes antigen lagi.
Besoknya, Kamis 5 Agustus, suami tanya-tanya sama temen yang memang sudah pernah terpapar, dan disarankan buat langsung tes PCR aja di RS. Akhirnya ya, dilakukanlah tes PCR di RS hari Jum’at, 6 Agustus. Sebenernya agak sayang sih, karena tes PCR terbilang mahal. Hari Kamis itu, aku udah makin gak enak badan juga sih, sejak Rabu mulai flu dan pernafasan udah gak nyaman.
Hasil tes PCR keluar hari Jum’at malam, dengan dikirim via email. Dan ya.. positif. Akhirnya kita berdua langsung memutuskan buat isolasi mandiri selama 14 hari, terhitung dari mulai hari pertama bergejala. Aku gak tes antigen atau PCR, karena aku kontak erat dan sudah bergejala maka kemungkinan besar jelas positifnya.
Hari-hari kami lalui dengan berdiam diri di rumah; makan, tidur, ibadah, main game, dengan tetap berjemur dan olahraga ringan di dalam rumah. Kebetulan pas kita isoman, cuaca lagi sering mendung, jadi gak bisa setiap hari berjemur. Untuk makan, saya tetap usahakan masak, meskipun kadang-kadang, karena banyak tetangga dan saudara yang kirim makanan. Ya, alhamdulillah, berada di antara orang-orang baik.
Sampai akhirnya di hari ke-8, saya mulai agak batuk. Suami juga, dia hari ke-10. Akhirnya kita konsultasi lagi ke dokter via Whatsapp dan dikasih resep obat. Saat itu kondisi kita udah jauh membaik. Aku sendiri udah gak ada demam atau pusing. In sya Allah, sebentar lagi sembuh. Gitu pikirku.
Hari berganti hari, sampai akhirnya di hari ke-14. Udah bisa masuk kerja besoknya. Tapi si bos minta aku buat tes antigen dulu, untuk memastikan bahwa aku udah bener-bener negatif. Oke lah.. dan setelah antigen, ya hasilnya jelas negatif. Tapi, memang masih ada gejala-gejala yang tertinggal; sering nggliyeng kayak orang darah rendah, leher kaku, batuk dan flu.
Jadi ya.. setelah covid ini memang badan kita tidak bisa 100% pulih sehat seperti sebelum covid. Kadang masih pegel, batuk, pusing dsb. Kalau menurutku, lebih gak nyaman kondisi pasca covid ketimbang pas covid, karena gejalaku dan suami, termasuk gejala yang sangat ringan. Ya karena itu tadi, gejala yang tertinggal itulah yang bikin badan gak nyaman. Atau dokter bilang namanya Long Covid, atau juga ada dokter lain yang bilang itu fase sekuel. Ya apapun itu namanya, tetep di badan belum nyaman, dan itu artinya kita belum 100% sehat. Masih harus berhati-hati dalam beraktivitas, membatai mobilitas, dan perlu banyak istirahat.
Mungkin segitu aja ceritaku pas isoman karena terpapar kemarin.
Semoga lekas Allah pulihkan bumi ini, hilangkan covid dan Allah berikan kita kesehatan dan perlindungan selalu. Aamiin..
“Adukan saja kepadaNya semua derita, semua kesakitan, dan semua keterlukaan. Jika ingin menangis, maka tumpahkan segalanya di dalam sujud. Karena semesta tidak perlu tahu, bahwa saat ini kau sedang babak belur. Cukup Allah saja, penolongmu. Allah yg menjadi penguatmu.”
— dalam buku “KepadaMu Kulabuhkan Cintaku”
Goodbye, Lil Baby!
Kali ini bakal sedikit cerita tentang suka duka berumah tangga setelah kurang lebih 2 tahun lebih menikah.
Pernikahan, pasti gak akan jauh-jauh urusannya dari rumah dan anak. Itu-itu aja, muter. Terkhusus sering banget jadi bahan ghibah netijen julid hehe.. Ya, begitulah hidup; Allah yang nentuin, kita yang jalanin, orang lain yang komentarin. Udah rumus mutlaq. Pake ‘qof’ wkwk..
Jadi tanggal 7 Juli 2021 adalah pengalaman kali keduaku kehilangan calon anak. Sebelumnya, 27 Juli 2019, aku juga pernah mengalami hal yang sama, karena kasusnya BO (Blighted Ovum) atau dikenal dengan hamil kosong. Sedangkan tahun ini, aku harus ngerasain hal yang sama, dengan kasus yang berbeda. Kali ini, janinku gak berkembang. Jadi usianya bukan usia yang seharusnya, dan ditambah saat itu detak jantung janin (DJJ) sudah tidak bisa terbaca USG.
Serasa dibenturin ke tembok, shock banget rasanya. Hal yang dinanti sejak keguguran yang pertama, usaha ke sana-sini, minum obat macem-macem, kontrol ke dokter sebulan bisa dua kali, berderai air mata kalo tiap bulan masih haid dan lain-lain. Ya Allah, kenapa? Gitu pikirku. Tapi, aku gak ada hak bertanya “Kenapa?”, karena ini semua ketetapannya. Berusaha legowo aja, ikhlas, nerima aja. Udah takdirnya melewati kaya gini.
Akhirnya aku dan suami harus ikhlas. Tindakan kuretase gak bisa dihindari lagi. Kedua kalinya aku keguguran, dan kedua kalinya pula aku dapet tindakan kuretase. Sebenarnya, yang sulit dari ini adalah pasca kuretase dimana di situ adalah masa pemulihan fisik dan psikis yang sebetulnya santai, tapi cukup menguras tenaga. Karena akan ada drama tiba-tiba keinget terus nangis lah, ada drama denger omongan orang yang ga enak lah, dan masih banyak lagi. Belum lagi kalo ada masalah kerjaan. Wah.. wes lah, angel angel..
Sehari, dua hari, setelah kuret dilewatin, kok terasa berat banget ya? Masih sering nangis, badan masih gak nyaman, tensi up and down. Sampai aku gak mau ketemu orang dulu, kecuali kalau emang ada tamu datang mau jenguk, ya it’s okay, masa gak mau nemuin? Tiga hari, badan sudah enakan, bisa dibawa aktivitas biasa. Ehh.. pagi buat aktivitas, siangnya drop lagi, pake demam juga, tensi turun, perut senut-senut. Bingung lagi. Akhirnya menangkap tanda bahwa sepertinya memang belum boleh terlalu cape.
Istirahat lagi. Gak boleh banyak gerak. Akhirnya ijin lagi, gak masuk kerja. Yaa dipermasalahkan. Susah. Pengen bisa berangkat, keluar RS langsung cuss kerja juga aku mau. Tapi, keadaannya gini sih, masa iya mau maksa berangkat? Katanya kalau gak ada saya, urusan repot. Lha kalau saya masuk, terus saya kenapa-napa, gak akan repot juga? Bukannya malah repot ya, jadi ngurusin orang sakit? Wkwk.. ya sudahlah, suka-suka boss aja.
Wanita pasca keguguran itu mentalnya labil banget. Dia sedang nifas, dalam kondisi tidak sah untuk sholat dan ibadah lainnya. Ngadu sama Allah agak susah. Paling gak hanya istighfar dan dzikir aja. Mbok ya jangan ditambahin pikirannya dengan hal-hal yang bisa membuat mentalnya lebih down, akhirnya ngaruh ke fisik; mumet lagi, tensi drop lagi, dsb. Maunya gitu sih. Maunya aku, sayangnya orang lain gak mau gitu ehehe..
Mungkin orang liat aku banyak bercanda, aneh, ceria aja. Padahal paling cengeng dari dulu. Dikit-dikit nangis, dikit-dikit baper, dikit-dikit marah, sakit hati, jengkel. Pokoknya semua serba dikit-dikit. Percayalah, itu hanya pelarian supaya saya tidak ingat dengan beban dan kesedihan saya, uhuk uhuk.. Mencoba tersenyum, meski rasa hati pahit sekali, kayak brotowali. Senyum gak ikhlas, ya bodo amat, yang penting senyum.
Sampai saat ini, karena ini baru enam hari setelah keguguran, aku masih cari banyak cara supaya lebih bisa bangkit dari kehilangan, supaya lebih ceria dan fokus untuk tujuan selanjutnya. Ya.. berharap nifas cepat selesai, jadi bisa sholat lagi huhu..
Demikian ceritaku yang sedikit, gak tau ada faedahnya apa gak, yang penting berbagi aja sih.
Terimakasih.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Wanita berkarier, bolehkah?
Sebenernya mau angkat tulisan ini tuh, maju mundur syantiquee.. Maksudnya, ini bakal jadi tulisan yang cukup sensitif sih, bagi beberapa orang, terkhusus wanita.
Langsung aja ya..
Wanita, terutama yang sudah jadi istri, boleh nggak sih, bekerja? Boleh? Nggak boleh?
Sebenernya kalau aku telaah dari sisi agama dan non agama, semuanya tergantung situasi dan kondisi dalam rumah tangga. Boleh dong, aku bahas dari sudut pandangku dan suami? Hehe.. karena ini semuanya bersifat pendapat, meskipun semua sudah kita sesuaikan supaya tidak keluar dari koridor agama.
Jadi, dalam agama Islam sendiri, karena aku muslimah ya, sebaik-baik tempat untuk wanita adalah rumahnya. Seperti yang Allah firmankan dalam Q.S. Al- Ahzab : 33, yang artinya,
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
Yang dimaksud dengan ayat ini adalah hendaklah wanita berdiam di rumahnya dan tidak keluar kecuali jika ada kebutuhan. Jelas ya? Kalau tempat terbaik wanita itu di rumah. Jadi, bagi para istri nggak ada salahnya kalau mau jadi ibu rumah tangga, yang kerjaannya cuma di dapur, sumur, kasur. Nggak usah malu, kalau perempuan sarjana tapi nggak kerja cuma di rumah aja, karena sunnahnya seperti ini, dan in syaa Allah lebih terjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan di luar rumah. Adanya hukum seperti ini, tidak lain bertujuan untuk memuliakan dan menjaga wanita dari fitnah.
Terus, gimana dengan istri yang bekerja di luar rumah? Kantoran? Guru dsb?
Kalau dari apa yang saya pelajari selama ini, wanita atau istri bekerja itu boleh kok. Asal, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain:
1. Menutup aurat (berpakaian syar’i)
2. Menghindari fitnah
3. Ada izin dan ridha dari wali, orangtua, atau suami (bagi yang sudah menikah)
4. Ada mahram ketika safar
5. Tetap melakukan kewajibannya di rumah (mengurus anak, suami dan rumah)
Minimal syarat-syarat ini bisa dipenuhi dulu supaya bisa bekerja di luar rumah. Jelas semuanya harus dibicarakan dengan mahramnya, orangtua bagi yang masih sendiri, dan suami bagi yang sudah menikah.
Saya yakin, semua wanita ingin membantu suami mencari nafkah. Tapi, perlu diketahui dan ditekankan di sini, bahwa istri mencari nafkah bukanlah perkara yang wajib. Bekerja bagi wanita menjadi wajib apabila si wanita tersebut menanggung beban hidup anak karena suami sudah meninggal. (Bahasan ini lebih luas lagi, dan saya masih fakir ilmu untuk menjelaskan perihal bab ini).
Jadi, bagi wanita, terutama istri, bekerja atau tidak adalah sebuah pilihan, dan semua ada konsekuensi yang harus dihadapi. Silahkan bekerja, asal memenuhi syarat-syarat tsb di atas, dan sudah dibicarakan dengan matang dengan suami. Apabila suami tidak memberi izin, in syaa Allah, itu sudah yang terbaik untuk kita, sebagai seorang istri yang harus taat pada suami. Kalau ingin di rumah saja, itupun sesuai dengan sunnah.
Kurang lebih begini yang saya dan suami saya lakukan, mendiskusikan, menimbang dan menyesuaikan dengan apa yang sudah diatur oleh Allah. Sebenernya, suami mengizinkan saya kerja lagi, dengan catatan saya siap dan sanggup. Kebetulan saya masih belum punya ghirah lagi untuk bekerja, karena sedang fokus menjalani program hamil. Selain itu, belum sanggup untuk bekerja kantoran yang terikat dengan kontrak, aturan, dan jam kerja yang padat. Setelah berhenti kerja kurang lebih 1,5 tahun, saya memilih untuk mengajar les privat anak, karena waktunya yang lebih fleksibel dan jam kerja yang relatif sedikit.
Orientasi saya selama bekerja nggak selamanya perkara upah. Tujuan saya membantu para wali murid yang saat ini kesulitan mencari guru privat yang bisa datang ke rumah membantu proses belajar anak. Dari saya pribadi, saya bersyukur bisa membantu dan setidaknya bisa untuk menyambung hidup saya dan keluarga juga.
Jadi begitu pendapat saya tentang wanita atau istri yang bekerja. Hal ini murni pendapat dan pengalaman pribadi. Saya nggak mengharuskan orang lain sama dengan saya, atau saya harus sama dengan orang lain. Karena saya yakin, setiap orang lebih tahu dan lebih paham bagaimana mengatur rumah tangganya, asal tidak meninggalkan peran masing-masing sebagai imam atau makmum dan tidak keluar dari koridor agama.
Artikel rujukan:
https://muslimah.or.id/4498-perempuan-bekerja-boleh-saja-asal.html
https://dalamislam.com/hukum-islam/hukum-wanita-bekerja-dalam-islam