Renungan Keumatan 2019
@edgarhamas
Masjidil Haram ramai. Masjid Nabawi riuh. Kita bersyukur dua tempat suci itu terjaga dengan digdaya, dan berdoa moga Allah menjaga keamanannya. Tapi sisi lain diri kita terganjal perih luka ketika ingat, hadits Rasulullah menyebut tiga masjid untuk dikunjungi. Yang dua aman sentosa, satunya dirundung nestapa.
Al Aqsha, jantung umat itu masih diterkam serigala.
Kita rindu bisa mengamalkan hadits itu suatu hari nanti tanpa kesusahan. Kita kangen bisa berlayar lepas di laut kita sendiri menyebrangi selat dan samudra menjelajah negeri-negeri muslim yang makmur perkasa, timur hingga baratnya tanpa kesusahan.
Kita ingin bisa melihat umat kita berdiri gagah menjadi polisi penjaga bumi, lagi.
Saya tak pernah ragu untuk membayangkan itu akan terjadi. Bercita-cita tinggi itu tak berdosa. Bahkan saya kira itu adalah bentuk optimisme yang idealis. Sekalipun, faktanya, rasanya ia hanyalah khayalan utopis. Tahun ini buktinya kita semakin di ujung tanduk.
Di penghujung 2019, 14 abad semenjak wafatnya Rasulullah, mungkin ini salah satu saat-saat paling genting dalam lintasan umur Umat Islam. Segenting Baghdad ketika terbakar, segenting Baitul Maqdis ketika dijajah, semiris Andalusia ketika ditikam satu persatu kotanya. Namun kita yakin Umat ini tak pernah mati. Ia hanya tertidur.
Kita hanya tertidur.
Bagaimana rasanya badan raksasa luarbiasa besarnya diminta untuk bangun dari tidur pulasnya? Berat. Amat berat. Tapi bisa, walau perlahan-lahan. Itulah yang sekarang kita rasakan. Sendi dan tulang kita mulai bergerak seiringan menata badan untuk kembali berdiri.
Daging-daging ototnya yang tadinya kekar di Arab, Persia dan Turki kini sedang mencari lagi otot yang baru di "tempat lainnya." Kebangkitan badannya tentu membuat tanah bergetar hebat, namun ada bagian tubuhnya yang masih luka memar; di India, Suriah, Rohingya, Yaman. Memar paling biru ada di Uighur dan Palestina.
Darahnya masih mengucur sepanjang tahun.
Namun kini ia benar-benar bertekad untuk bangun dari tidur. Dunia yang tanpanya makin tak benar arah jalannya. Bumi sudah rindu ia yang kembali memimpin. Langit sudah kangen ia yang kembali mengambil komando. Tapi tentu ada serigala yang sudah menjaga kekang yang merantai tangan dan kakinya agar tak bisa bangun.
Serigala sedang senang-senangnya menikmati rusaknya bumi tanpa ada yang mengusiknya.
Mereka bisa saja terus menikam, tapi otot-otot itu makin menguat, sendi-sendinya mulai bergerak. Cepat atau lambat, tubuh besar bernama Umat itu akan berdiri lagi seperti sedia kala, seperti dulu menjaga bumi 1200 tahun lamanya. Taman bunga yang sudah mekar buru-buru mereka rusak, namun mereka tak sadar bahwa musim semi tak satu makhlukpun bisa menunda datangnya.
Aku dan kamu memang belum menjadi pahlawan besar. Belum jadi orang penting yang bisa menciptakan gelombang yang menggerakkan banyak manusia. Namun, bagi tubuh bernama "Umat" itu, kita bisa menjadi syaraf yang hidup. Bisa jadi nadi yang mengalirkan darah segar ke penjuru badannya.
Agar ia bangun lagi, dan bisa menyelesaikan narasi Muhammad ﷺ yang belum terjadi.















