Musibah yang tidak terduga
Qadarullah. Kejadiannya kemarin pukul 12.30 Wita di sebuah jalanan daratan tinggi yang sedang dalam perbaikan. Tanahnya di keruk, hingga membuat jalanan sebagian besar adalah tanah. Membuat jalan yang sedikit beraspal itu berdebu, berkerikil, dan bolong-bolong. Jalanannya dikeruk untuk diratakan ketinggiannya hingga diberlakukan buka tutup jalan.
Di jam 11.00 hingga 13.00 wita jalanan buka. Membuat lebih banyak kendaraan yang lewat dan harus buru-buru sebelum jalanan tutup kembali.
Dijalan yang penuh belokan dengan posisi menurun itulah aku mengalami kecelakaan tunggal. Motorku refleks terjatuh. Penyebabnya aku tidak sadari diawal, hingga seorang bapak pengendara motor lain bersama istrinya singgah sebentar melihatku yang sudah berdiri dan seseorang lainnya mengangkat motorku.
"Ibu kenapa bisa jatuh,"tegur si Bapak
"tidak tahu pak, tiba-tiba jatuh saja" Kataku sambil menahan sakit di jemari kanan.
"ibu remnya mungkin langsung cakram. "AKu hanya mengangguk men-iyakan lalu bapak pamit sambil memberi wejangan lagi untuk berhati-hati karena pengendara lain juga antri dari atas sementara ada kendaraan juga dari arah bawah.
Ah, mungkin memang itu yang membuatku terjatuh, untuk menghindari dan menjaga jarak terlalu dekat dengan pengendara motor lain di depanku, sementara jalanan menurun.
Yang pertama kali kupikirkan saat terjatuh adalah jemari tangan kananku. Rasanya sungguh sakit karena telapak tanganku yang pertama kali menghempas aspal dalam posisi lurus ke depan. bersyukur aku memakai sarung tangan yang membuat tanganku terhindar dari goresan aspal yang kutahu akan sangat perih jika itu terjadi. Jemariku seperti tidak bisa bergerak. Aku menggunakan tangan kiri untuk memopang tangan kanan saat berdiri. Saat itu pula aku tidak memperdulikan motorku yang terkapar dalam keadaan menyala. Jujur hanya menunggu orang lain untuk mengangkatnya. menyadari aku sudah tidak sanggup untuk mengangkatnya.
Sangat berterima kasih pada pasangan muda yang saat itu membantu mengangkat motor dan menaikkannya ke pinggir jalan yang datar . Tempat truk pekerja jalan parkir. Mereka pun harus meneruskan perjalanan dengan memastikan keadaanku baik- baik saja.
Akupun melihat keadaan tas ransel yang kuletakkan di depan motor matic. Kondisinya pun sangat kotor oleh debu. Melihat ada mata air yang mengalir dengan segar dari gunung menggunakan bambu sebagai pipa tidak jauh dari daratan itu, aku pun berjalan ke arahnya. Memikirkan dengan air yang dingin mungkin akan membuat tangan bisa sedikit lebih baik. Aku juga turut berdoa pada Allah agar air itu menjadi obat. Lalu lanjut membersihkan bawahan pakaian yang kotor dengan air tersebut.
Kurasakan tanganku jauh lebih rileks setelah membasuhnya dengan air. Aku kembali ke dekat motorku dan beristirahat disana sambil memikirkan nasibku sendiri dengan kondisi tangan kanan yang tidak bisa menggenggam kuat.
"Bagaimana caranya aku membawa motorku, sementara jalan di depan penurunan yang cukup curam dan mengandalkan rem?" Aku menyadari tatapan pengendara mobil dan motor yang melihat seorang perempuan duduk sendiri sambil menatap motornya. Beberapa pengendara mobil bahkan menurunkan kacanya yang tertutup karena debu jalanan. Otak dan hatiku hanya memikirkan satu hal saat itu, yakni jika melihat pengendara motor laki-laki yang berboncengan akan aku stop buat bantuin bawa motor dan memboncengku agar bisa melewati jalan menurun ke bawah. Sudah tidak peduli lagi kalau harus dibonceng sama laki-laki yang bukan mahram yang memang sangat aku jaga batasan tersebut.
Qadarullah. Allah masih ingin menjagaku, karena tidak ada pengendara yang memungkinkan. Akhirnya kulihat jam di hp. Pukul 12.45. Lima belas menit lagi jalan diatas akan tutup. Satu-satunya cara menunggu jalanan tutup sehingga tidak ada lagi kendaaran yang lewat sehingga aku bisa mengurangi beban tangan kanan untuk mengerem. Akhinya memaksakan diri membawa motorku hingga tiba di tujuan 30 menit kemudian.
Diposisi jalan penurunan itu, aku biasanya sudah tidak mengerem lagi jika melihat kondisi jalan sepi sehingga motorku melucur sendiri meski kadang takut juga kalau tiba tiba ada warga dibawah sana keluar dari rumahnya. Maka aku nekatlah dikondisi habis jatuh itu untuk meneruskan perjalanan, meski masih memakasakan mengerem sedikit diturunan jalan. Namun sepanjang perjalanan aku memperlambat laju motor karena hanya mengandalkan ibu jari dan telunjuk tangan kanan memutar gasnya agar tetap jalan serta rem belakang.
Esok harinya yaitu hari ini. Punggung tangan kanan yang sejajar jari tengah, manis , dan keliking bengkak dan tidak bisa dibengkokkan melewati 45 derajat alias susah dan sakit jika harus menggenggam. Aku hanya mengompresnya hangat dan dingin.
Temanku menyarankan untuk ke rumah sakit disini. lantas kubalas chatnya:
"Nanti aku dimarahin dokter datang pas sudah bengkak" (padahal anak kesehatan wkwkwk)
"Paling cuma diceramahin nanti sama dokter" balas temaku menyertakan emot ketawa
Aku tidak mau bilang sih sama teman ini. Hanya saja kalau ada mobil ambulans dari rumah sakit tempatku kerja, merujuk pasien ke kota sini, aku mau nebeng ikut pulang. Jadinya harus konfirmasi. Meski aku tidak tahu nasib motorku bagaimana kalau ikut ambulans pulang. Terus nanti disana mau naik apa kalau masuk kerja pagi hahahaha.
Ya, sambil menunggu. Sepertinya harus istirahat dulu di kota.
Pelajaran apa yang kudapat dari pristiwa ini. Menyadari bahwa Musibah itu kalau memang harus terjadi pasti akan terjadi, meski kita sudah berdoa dari rumah sebelum berangkat.
Aku mengingat sebuah hadist yang aku baca di kitab Riyadhus Shalihin karya iman An-Nawawi (semoga Allah melimpahkan segala keberkahan atas ilmu beliau). Memiliki makna yang sama meski dalam konteks cerita berbeda. Bahwa meski seluruh manusia berkumpul untuk mencelakaimu maka itu tidak akan terjadi jika Allah tidak menghendaki.
Berhubung aku lagi tidak di rumah sehingga tidak bisa mengutip hadist tersebut, tapi aku menemukan kutipan hadist tersebut dari artikel Rumaysho yang juga sudah ada penjelasannya yang bisa dibaca lewat sumber yang disisipkan dibawah.
Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Pada suatu hari aku pernah berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.’” (HR. Tirmidzi, dan ia berkata bahwa hadits ini hasan shahih).
Sumber https://rumaysho.com/19629-hadits-arbain-19-menjaga-hak-allah-dan-memahami-takdir.html