ANTREAN YANG MENAKUTKAN
Oleh: Arfat Ardi Setiawan
Pernah tidak engkau melihat pabrik roti modern yang semua prosesnya sudah serba mesin dan otomatis? Bagaimana deretan roti berata di atas wadah berjalan, satu persatu dicelupkan ke kolam cokelat, lalu masuk ke dalam kemasannya. Semua terjadi sesuai dengan sistem yang telah ditentukan pemilik pabrik. Semua roti itu memiliki nasib yang pasti, yaitu dicelupkan ke dalam kolam cokelat lalu berakhir di dalam kemasan. Setiap biji roti berada di antreannya, tinggal menunggu waktu dan giliran untuk dicelupkan dan dikemas.
Hal yang sama berlaku kepada kita dalam kehidupan di dunia ini, bukan dalam perkara ketidakmampuan terhadap mengatur nasib, namun dalam perkara kepastian bahwa kita akan menjumpai titik akhir dari perjalanan hidup kita di dunia ini sebagaimana yang Allah ﷻ telah tetapkan, yaitu kematian. Allah ﷻ berfirman:
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ
“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. (Qs. Az-Zumar: 30).
Sebuah ketetapan yang tak dapat terelakan, sebesar apapun usaha untuk melawannya, atau sekuat apa pun usaha untuk lari darinya, Allah ﷻ berfirman:
أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…”. (Qs. An-Nisa: 78).
Namun atas hikmah Allah ﷻ kita tidak pernah tau di antrean ke berapa nama kita tertulis, bisa jadi beberapa tahun ke depan, atau bisa jadi justru hari ini. Antrian acak yang tidak dibariskan berdasarkan usia tua ataupun muda, atau keadaan fisik sehat maupun sakit. Sebuah ketentuan yang berada di luar makrifat makhluk-Nya. Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti”. (Qs. Luqman: 34).
Mungkin saja hal tersebut agar setiap insan senantiasa mempersiapkan diri terhadap kematian kapanpun ia datang. Sehingga ia selalu meningkatkan ketaatan, tidak menunda kebaikan ataupun taubat, serta takut untuk melakukan kemaksiatan karena khawatir kematian akan menghampiri saat diri sedang terjatuh dalam kubangan dosa.
Namun dibalik itu, kematian merupakan suatu ketetapan yang sangat menakutkan, namun pernahkah kita berfikir apa sejatinya yang membuat kita takut untuk menghadapi kematian tersebut? Semua berharap memiliki usia yang panjang di kehidupan dunia ini, lalu untuk apakah sebenarnya usia yang panjang itu? Apakah benar karena ingin mempersiapkan lebih banyak bekal untuk kehidupan selanjutnya? Atau karena ingin ‘menikmati dunia’ lebih lama? Bukankah di alam selanjutnya juga terdapat kenikmatan yang bahkan bisa jauh lebih nikmat dari semua kenikmatan yang ada di dunia ini? Atau kita takut kematian karena belum siap untuk menghadapinya? Kalau memang belum siap apa betul selama ini kita benar-benar mengambil langkah bersiap untuk menghadapinya? Mengumpukan bekal sebanyak mungkin untuk menghadapi perjalanan yang amat panjang tersebut. Atau justru kita tau bahwa diri kita belum siap namun lebih memilih menghadapinya dengan sikap seolah semuanya baik-baik saja, mencoba mencari segala sesuatu untuk melenakan pikiran dari hakikat kematian, mengalihkan perhatian dari ketakutan tersebut dan membiarkannya selalu menjadi kejutan yang tak disangka. Hingga akhirnya ketakutan itu selamanya akan bersarang dalam diri kita.
Seorang tabi’in bernama Abu Hazim pernah ditanya oleh sang khalifah Sulaiman bin Abdil Malik: “Mengapa kita membenci kematian?”, Beliau menjawab:
“Karena kalian hanya memakmurkan kehidupan dunia namun menghancurkan kehidupan akhirat kalian, sehingga hal tersebut membuat kalian benci untuk pindah dari tempat yang makmur menuju tempat yang hancur berantakan”
Hakikatnya setiap insan akan melalui tiga kehidupan, kehidupan di dunia, kehidupan alam barzah, dan kehidupan di negeri akhirat. Kehidupan yang pertama yaitu kehidupan dunia merupakan yang tersingkat, sangat singkat apabila dibandingkan dengan kehidupan selanjutnya. Namun dialah yang menentukan nasib seseorang di kehidupan selanjutnya. Sampai-sampai singkatnya kehidupan dunia apabila dibandingkan dengan kehidupan selanjutnya tergambar jelas pada apa yang Allah ﷻ firmankan:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْـًٔا وَّلٰكِنَّ النَّاسَ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ ، وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَاَنْ لَّمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا سَاعَةً مِّنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُوْنَ بَيْنَهُمْۗ قَدْ خَسِرَ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِلِقَاۤءِ اللّٰهِ وَمَا كَانُوْا مُهْتَدِيْنَ
“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri. Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa) seakan-akan tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali sesaat saja pada siang hari, (pada waktu) mereka saling berkenalan. Sungguh rugi orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk”. (Qs. Yunus: 44-45).
Begitu juga dalam permisalan yang baginda Nabi Muhammad ﷺ berikan dalam haditsnya:
ما لي وما للدُّنيا ، ما أنا في الدُّنيا إلَّا كراكبٍ استَظلَّ تحتَ شجرةٍ ثمَّ راحَ وترَكَها.
“Apa urusanku dengan dunia, tidaklah keberadaanku di dunia melainkan seperti orang yang sedang dalam perjalanan lalu dia berteduh di bawah naungan sebuah pohon, kemudian dia melanjutkan perjalanannya dan meninggalkannya (pohon tersebut)”. (HR. Imam Tirmidzi No. 2377).
Namun sayang, banyak yang memilih dunia sebagai ‘tempat menetap’nya, kehidupan akhirat urusan belakangan. Pergelutan yang ia lakukan setiap hari hanya untuk membangun istananya di dunia, yang belum tentu dapat ia wujudkan. Sedangkan akhirat baginya ‘antara ada dan tiada’, biarkan hal ukhrowi tersebut menjadi misteri. Padahal Allah ﷻ telah memperingati dalam firman-Nya:
وَمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. (Qs. Al-Ankabut: 64).
Pernahkah kita merenungkan, apabila Allah ﷻ mengirim malaikat maut-Nya untuk mencabut nyawa kita sekarang juga, kira-kira diri kita akan menghadapinya dengan senyuman atau malah penyesalan dengan penuh ketakutan?, kira-kira yang akan terlintas dalam benak adalah gambaran tentang semua ketaatan atau malah semua dosa dan kelalaian yang kita lakukan selama ini?. Jika jawabannya adalah yang kedua, masihkah kita mau untuk terus menjalani hidup dengan cara yang sama?
Padahal, apabila seseorang beramal untuk akhiratnya, maka dunia sendiri yang akan menyerahkan diri kepadanya. Sehingga saat dia membangun kehidupan yang baik untuk akhiratnya, kebaikan dunia akan mengikutinya. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi ﷻ:
من كانتِ الآخرةُ هَمَّهُ جعلَ اللَّهُ غناهُ في قلبِهِ وجمعَ لَه شملَهُ وأتتهُ الدُّنيا وَهيَ راغمةٌ ، ومن كانتِ الدُّنيا همَّهُ جعلَ اللَّهُ فقرَهُ بينَ عينيهِ وفرَّقَ عليهِ شملَهُ ، ولم يأتِهِ منَ الدُّنيا إلَّا ما قُدِّرَ لَهُ
“Barang siapa akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan menaruh kekayaan dalam hatinya, dan memudahkan urusannya, lalu dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Dan barang siapa yang dunia sebagai tujuannya, niscaya Allah akan menaruh kefakiran di depan kelopak matanya, dan urusannya akan dicerai beraikan, lalu ia tidak akan mendapatkan bagian dari dunia melainkan apa yang telah dituliskan untuknya”. (HR. Imam Tirmidzi No. 2465).
Selain itu, di saat kaum muslimin telah lebih memakmurkan dunia dari pada akhiratnya, yang mana hal tersebut akan menimbulkan rasa kecintaan yang mendalam terhadap dunia serta ketakutan untuk meninggalkannya, berlahan kemuliaan kaum muslimin akan hilang, menjadikan mereka tertinggal oleh umat-umat lain. Nabi ﷻ bersabda:
يُوشِكُ الأممُ أن تداعَى عليكم كما تداعَى الأكَلةُ إلى قصعتِها . فقال قائلٌ : ومن قلَّةٍ نحن يومئذٍ ؟ قال : بل أنتم يومئذٍ كثيرٌ ، ولكنَّكم غُثاءٌ كغُثاءِ السَّيلِ ، ولينزِعنَّ اللهُ من صدورِ عدوِّكم المهابةَ منكم ، وليقذِفَنَّ اللهُ في قلوبِكم الوهْنَ . فقال قائلٌ : يا رسولَ اللهِ ! وما الوهْنُ ؟ قال : حُبُّ الدُّنيا وكراهيةُ الموتِ
“Hampir saja para umat (non muslim) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagaikan sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ‘Wahn’. Kemudian seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu ‘wahn’?”, Rasulullah berkata, “Cinta dunia dan takut mati”. (HR. Imam Abu Daud No. 4297).
Dalam hadits lain beliau ﷺ bersabda:
إذا تبايعتُم بالعينةِ وأخذتم أذنابَ البقرِ ، ورضيتُم بالزَّرعِ وترَكتمُ الجِهادَ سلَّطَ اللَّهُ عليْكم ذلاًّ لاَ ينزعُهُ حتَّى ترجعوا إلى دينِكُم
“Apabila kalian telah berjual beli dengan cara Al-‘Inah (salah satu transaksi riba), dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi (bahasa kiasan menggarap tanah untuk ditanami) dan kalian telah ridha dengan perkebunan, lalu kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu kehinaan yang (Allah) tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian”. (HR. Imam Abu Daud: 3462).
Sehingga semakin kaum muslimin menenggelamkan diri dalam urusan dunia dengan mengenyampingkan perkara akhirat, hal itu tidak akan dapat mengembalikan kemuliaan dan kekuatan kaum muslimin, namun sebaliknya, justru dapat membuat rasa takut akan kematian tertanam dalam hati dan membuat tekad serta keberanian kaum muslimin tumpul.
Namun sebaliknya, apabila akhirat yang utama, sehingga keimanan dan ketakwaan selalu ditingkatkan untuk mengejarnya, maka sebagaimana yang Allah ﷻ janjikan:
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (Qs. An-Nur: 55).
Sehingga tidak heran apabila dahulu kaum muslimin pernah menikmati masa keemasan dan kejayaan mereka di dunia ini di saat akhirat dan beramal untuk mempersiapkannya masih menjadi perioritas utama mereka. Mengambil langkah yang tepat untuk kehidupan dunia dan persiapan untuk kehidupan selanjutnya, sehingga dunia dapat digenggam, kehidupan akhirat juga terjamin.
Penutup,
Nabi Muhammad ﷻ dan para sahabatnya merupakan orang-orang yang telah Allah ﷻ janjikan surga, tempat kehidupan abadi dengan kenikmatan yang sejati. Maka perbanyaklah membaca kisah hidup mereka, pelajari kedalaman keimanan mereka, pola pikir dan prinsip hidup mereka, dan bagaimana mereka menjalani kehidupan di dunia ini sampai mereka mendapat janji indah tersebut setelah dunia membuka pintunya untuk mereka. Semoga dengannya kita bisa mengambil tauladan, hidup kita tidak lagi hanya mengejar dunia sembari lari dari akhirat, dan semoga dengannya kelak kita memiliki nasib yang sama bersama mereka di surga firdaus-Nya ﷻ.
وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (Qs. At-Taubah: 100).
Allah Ta’ala A’lam.











