TENTANG DIRI
Seringkali aku menanyakan kepada diriku hal-hal acak yang spontan muncul di benak pikiranku. Semisal ketika aku telah berbuat sesuatu, apa respon orang terhadapku. Pernah juga, ketika aku selesai mengajar dan beranjak pulang. Saat di perjalanan pulang dengan mengendarai motor, saat itu juga muncul pertanyaan di pikiranku tentang adik-adik yang telah ku berikan materi pelajaran. Apakah mereka memahami maksudku saat aku menjelaskan kepada mereka materi yang ku ajarkan. Dan pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan selalu muncul ketika aku selesai melakukan sebuah pekerjaan. Tak jarang pertanyaan-pertanyaan itu membuatku sedikit tersiksa. Aku tidak menyalahkan otakku yang bekerja. Karena aku paham kerjanya otak adalah berpikir apa yang telah dilalui, apa yang sedang dan akan dilakukan berikutnya. Namun, yang aku sesalkan adalah mengapa aku sangat sulit mengontrol pikiranku sendiri. Seharusnya dan seyogyianya, aku sebagai pemilik tubuhku bisa mengontrol apa-apa yang direspon oleh tubuhku. Tetap saja, sampai saat ini aku masih kesulitan untuk mengontrolnya. Kata orang-orang aku adalah manusia dengan tipe suka berpikir. Okelah, aku mencoba menerimanya dengan lapang dada apa yang mereka nilai daripada diriku. Sederhananya adalah aku ingin berdamai dengan diriku sendiri.
Memang tidaklah mudah mengakui apa yang telah ditakdirkan Allah pada diri ini. Jikalau saja aku tidak bersyukur atas apa yang telah Allah berikan, bisa saja aku termasuk golongan yang kufur nikmat. Ah, sungguh aku tidak berkenan jika aku sama dengan Firโaun dan koleganya.
Sebenarnya aku beruntung memiliki tipe diri yang suka berpikir, hanya saja di satu sisi masih ada kekurangan yang belum dapat ku atasi dengan baik. Masalah mengatasi kekurangan ini, ada hal menarik yang pernah aku dapatkan. Saat itu, aku menjadi moderator dalam suatu seminar beasiswa. Saat narasumber menerangkan tips dan trik agar bisa berpeluang menjadi penerima beasiswa, salah satunya adalah menceritakan tentang kelebihan dan kekurangan diri. Narasumber mengajak para audiens untuk salin berinteraksi, saling melempar feedback. Beberapa orang bersedia menceritakan apa kelebihan dan kekurangan dirinya. Setelah aku dengarkan dan menyimak setiap feedback dari perserta, di situ aku mulai tercerahkan tentang tipe diri. Ternyata, setiap orang itu memiliki tipe yang berbeda, adapun yang mirip tipenya tapi tidak sama ada juga sisi sisi yang membedakannya. Ketika narasumber menjelaskan bagaimana cara menjawab pertanyaan pewawancara beasiswa tentang kelebihan dan kekurangan diri. Barulah aku menyadari, baik kelebihan dan kekurangan itu bisa saling melengkapi. Contohnya saja untuk orang yang memiliki kelebihan dapat fokus ke satu hal dan mampu selesai mengerjakannya dalam waktu yang ditentukan. Sisi lebihnya adalah orang tersebut bisa terfokus ke dalam satu hal dan memaksimalkannya sampai dengan tuntas. Sisi kurangnya adalah orang tersebut tidak bisa mengerjakan banyak hal dalam suatu waktu atau tidak bisa multitasking. Tapi, kekurangan seperti ini seharusnya bisa dimanfaatkan pula sebegai kelebihan. Sebut narasumber saat itu. Ketika mulai menceritakan kekurangan diri jangan lupa untuk menambahkan cara mengatasinya. Dengan begitu, kekurangan yang tampak sebagai celah ketidaksempurnaan diri bisa tertutupi.
Sejak pertemuan itu, aku selalu mengingat-ingat dan mendoktrin diriku agar kekurangan yang ku punya tidak perlu disesalkan malah justru menjadi sebuah kebangaan. Sebab, semua makhluk yang Allah ciptakan punya kekhususan masing-masing. Semoga tulisan yang ditulis ini, menjadi nasehat untuk ku sendiri. Sebab, aku menulis ini semata-mata untuk mengingatkan diriku jika suatu saat aku terlupa, aku bisa membaca kembali tulisan ini. Begitu juga jika yang membaca mendapatkan informasi tambahan, semoga bermanfaat dan menjadi keberkahan untuk kita semua melalui perantara tulisan ini. Barakallahu fiikum...
















