Apa yang membuat seseorang melakukan perbuatan dosa? Apa yang membuat seseorang melakukan pembunuhan? Pernahkah kita berpikir bahwa itu semua dapat dimulai dari sebuah kesalahan kecil orang-orang terdekat bagi mereka.
Sebuah kesalahan remeh, kesalahan yang tidak kita sadari, bahkan kebiasaan yang sudah mandarah daging. Berprasangka buruk. Ya, hanya dari berprasangka buruk orang bisa membunuh. Hanya dari prasangka buruk orang bisa menjadi pengedar narkoba. Karena dari berprasangka orang tersebut yakin bahwa sangkaannya adalah benar. Padahal mendekati pun tidak. Dengan prasangka logika dibutakan. Karena nafsu untuk menyalahkan terlanjur bergejolak, akal sehat dilupakan. Mungkin ini adalah hal yang remeh dan sudah sering dibahas. Peribahasa sudah menyebutkan. Hadits dan Al-Qur’an pun sudah membahas permasalahan ini. Lalu kenapa saya yang bukan siapa-siapa perlu membahas hal ini lagi. Karena ini merupakan hal serius yang tidak kita sadari.
Teruntuk mereka yang sering memunculkan prasangka tak berdasar, kesalahan ini merupakan kesalahan yang dapat merambat ke berbagai permasalahan lain. Orang baik akan menjadi buruk karena prasangka tersebut. Masalahnya, prasangka tersebut muncul bukan hanya dari orang yang tidak kita kenal saja. Prasangka bahkan bisa muncul dari orang terdekat. Tak terkecuali orang tua kita. Atau kita sebagai anak.
Jika seperti ini kata “orang terdekat” atau “keluarga” menjadi kabur definisinya. Kita bingung definisi keluarga yang sebenarnya. Jika sebatas pertalian ikatan darah maka definisi tersebut tidak akan berubah. Berbeda jika definisi keluarga adalah tempat kembali. Tempat tercurahnya isi hati. Tempat canda dan tawa dalam bercengkrama. Tempat yang memberikan rasa nyaman dalam melewati berbagai permasalahan kehiduan. Dalam banyak kasus yang terjadi sekarang ini, orang-orang yang selama ini disebut keluarga banyak yang mengkhianati kata tersebut demi egonya. Sehingga muncul lah anak-anak yang ditelantarkan. Pemakai narkoba. Pemabuk. Remaja pelaku zina. Jika keluarga dalam ikatan biologis tidak mampu memenuhi definisi yang dimaksud. Lalu siapa yang dapat memenuhi sebutan “keluarga” dalam hidup kita.
Mungkin ada beberapa orang yang bisa disebut seperti itu, sebuah kumpulan orang tanpa ikatan darah, yang dapat memenuhi definisi “keluarga” tersebut. Bahkan bias disebut sebuah keluarga ideologis. Dikarenakan adanya kesamaan dalam prinsip maupun ideologinya.