Demokrasi dilibas oleh birokrasi yang semakin mengeras
Hahahahaha Indonesia kita telah terjajah. Demokrasi kembali dilindas dengan birokrasi. Kebenaran kembali dibungkam.
Lucu sekali negara kita. Saat jejeran rakyat berusaha meneriakkan kebenaran, para pejabat berusaha membungkam, katanya teriakan-teriakan itu tidak sesuai prosedur.
Lalu pertanyaan yang muncul "demokrasi hanya milik kaum elite?" Atau bahkan para pelajar yang belajar akan demokrasi malah tidak mendapatkan hak-hak untuk berdemokrasi. Atau mungkin pelajar dianggap remeh, karena pengalaman yang katanya belum seberapa. Memang, kami para pelajar tidak memiliki pengalaman sebanyak mereka. Tapi paling tidak kami tahu bahwa apa yang kami suarakan adalah kebenaran. Dan kami paham bahwa kebenaran tak boleh dibungkam.
Sebenarnya untuk apa kami dididik apabila besar nanti kami hanya akan menjadi boneka. Saat ini kami disalahkan akan adanya sebagian dari kami melakukan kriminalitas dan perlakuan amoral. Tapi saat kami mengingatkan dengan membuat kampanye di depan umum. Kami disalahkan, padahal kami tahu bukan suara kami yang bisa menyadarkan mereka, tapi suara rakyat. Kami Dijatuhkan. Diinjak-injak harga diri kami. Lalu mana keadilan di negri ini. Ingatlah bahwa keadilan bukan sama rata. Tapi proporsional.
Bagi kalian para pengambil kebijakan, perhitungkan lah kami, karena kami putra-putri nusantara. Nasib negri ditangan kami. Kami tidak hanya butuh infrastruktur yang megah atau dukungan sekedar omongan yang melimpah. Kami hanya butuh peraturan yang sehat. Yang ditaati bersama.
Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana”
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku
Bisa kita lihat dari puisi ini, bahwa memang kemerdekaan yang diteriakan tak lagi sesuai esensi. Merdeka versi mereka hanya propaganda. Agar kita semakin mudah diatur.
Mari bersatu dan berjuang tanpa lelah meneriakkan kebenaran. Walau tubuh dibanjiri peluh, walau raga hancur lebur, walau darah tumpah ruah, walau harga diri ditelan oleh kebijakan penguasa, tapi pastikan hati tetap utuh dan tak luluh dalam menyemarakkan kebenaran. Karena saat ini Indonesia dalam krisis moral.
Dari aliansi pelajar istimewa Jogjakarta