Menjadi Utuh
Buat semuanya menjadi pelan, namun tetap berjalan.
Buat semuanya menjadi pelan, namun tetap dirasakan.
Buat semuanya menjadi pelan, namun tetap dilakukan.
Tentang memberanikan diri melepaskan,
tentang usaha merelakan,
tentang mencoba menyembuhkan,
tentang bangkit dari rasa sakit— semua tentang perjuangan kembali menjadi diri yang utuh.
Di antara luka yang pernah membekas, ada keheningan yang mengajarkan sabar.
Bahwa setiap air mata, bukan hanya tanda duka, tetapi juga benih kekuatan,
yang tumbuh perlahan.
Kita belajar,
bahwa kehilangan bukan akhir,
melainkan ruang kosong yang memberi tempat untuk tumbuh.
Bahwa merelakan bukan menyerah,
melainkan cara jiwa berdamai dengan yang tak bisa lagi digenggam.
Mencari makna adalah perjalanan panjang,
bukan sekadar jawaban singkat.
Ada hari penuh cahaya,
ada hari diselimuti kabut,
namun keduanya sama pentingnya, untuk sampai pada pengertian.
Dan pada akhirnya,
kita menemukan diri sendiri—
rapuh, namun berani.
Patah, namun tetap berdiri.
Sebab menjadi utuh
bukan berarti tak pernah retak,
tetapi mampu mencintai diri
meski pernah hancur.
-ica














