BERSUJUD DALAM SENYAP
Ada waktu di mana aku berdiri di bawah langit, memandangi bintang-bintang dan barisan pohon yang seperti sedang merunduk khusyuk. Langit itu begitu megah, membentang tinggi tanpa satu pun tiang yang menopangnya. Di hadapan semua itu, tiba-tiba muncul sebuah tanya: siapakah aku sebenarnya?
​Lucu rasanya. Kita ini tak lebih dari sebutir atom di tengah semesta yang tak berujung, tapi entah mengapa, sombongnya sering kali memenuhi dada. Hingga hari ini aku masih berjalan, meraba-raba, mencoba mencari tahu apa sebenarnya arti dari dunia yang aneh ini—sebuah tempat yang begitu riuh di luar, namun terasa teramat sepi di dalam.
Tuhan, tuntun aku pulang menuju cahaya-Mu. Aku ingin berjanji untuk melangkah dengan lebih baik setelah ini.
​Bukankah semua yang ada di alam raya ini diciptakan berpasangan? Karena memang hanya Engkau yang tunggal, yang mandiri. Bahkan seluruh galaksi pun tunduk dalam senyap, tak ada satu pun sudut yang luput dari pengawasan-Mu.
​Lalu di ujung perenungan itu, pelan-pelan aku mulai mengerti.
​Bahwa bahagia itu ternyata sederhana; ia bukan sebuah target di masa depan atau perkara "nanti". Bahagia adalah apa yang kita peluk erat-erat saat ini, detik ini juga. Dan harta yang paling mewah di dunia ini jelas bukan materi atau apa pun yang bisa dihitung dengan angka, melainkan waktu. Sesuatu yang terus mengalir pelan, menjauh, dan tak akan pernah bisa kita tahan.
~Ruangsenja
















