AMANI
Jangankan pulang
bahkan berjalan pun sulit
terengah di tengah
sesak nafas, yang dulu isak
kini adalah waktu yang entah
aman atasi hari-hari tak berhati
tidak pula yang berkilau itu
menghampiri pemurka
sekedar beri pelipur lara.
Ada juga enggan yang menahan
di balik bayang
berseteru dengan waktu
sampaikan satu per satu keluh.
Demi sebuah pertemuan yang kaku
ada cela di setiap sela
dan aku mengaku berdosa.
Langit semakin biru,
angin semakin abu,
orang-orang di sekitar semakin merah,
yang lalu semakin ungu,
botol-botol semakin hijau,
matahari semakin kuning,
bulan semakin putih,
dan sisanya semakin hitam.
Maaf.
Ada salah yang meresah
juga jengah yang pongah.
— Bandung, A.












