Adakalanya orang,sekelompok, kita, atau saya dicap merasa berbeda dari orang diluaran sana. Merasa lebih tercerahkan, merasa lebih cerdas, merasa lebih lurus,merasa lebih mendapat hidayah, merasa lebih mendapat hidayah, merasa lebih selamat dunia akhirat, merasa selalu eling dan waspada, merasa paling intropeksi, pokoknya merasa paling ekslusif.
"Hanya sedikit lho mas yang bisa sampai ke pembahasan ini" gitu katanya. Ketika ketemu orang yang daya nalarnya sama, pemahamanya disepakati kemudian merasa bahagia. Lantas begitu kritikan ini disampaikan muncul perkataan begini, " nah ini gaya ngledek yang top, smart, dan membahagiakan". Seolah si peledek yang justru kebakaran jenggot. Orang seperti ini juga akan berkomentar bahwa tiap orang punya perilaku dan journey masing², istilahnya belum sampai maqom untuk bahas konten yang biasa diranahnya.
Dalam konteks merasanya (merasa ini itu) harus diakui kita memang benar pernah melakukan dan sering. Namun dalam konteks ini itunya (cerdas,berhidayah,ekslusif, sadar,dll) ini perlu divalidasi ulang , karena kadang benar kadang tidak.
Terus gimana? Solusi terbaiknya adalah diedukasi, solusi terburuknya adalah dibiarkan, atau justru sebaliknya yaa. Kalopun dituduh keminter sebaiknya mengakui bahwa memang tidak pinter. Dan akui kalo dalam hal ini kita sedang sombong dan gagal berkomunikasi.
Keduanya harus paham, baik yang di kritik dan pengkritik. Manusia itu dinamis dan mudah berubah. Posisikan diri jika ada di posisi orang lain kemudian lawanlah diri sendiri terlebih dahulu.