THE MARSHMALLOW TEST (Ujian Istiqomah)
Percobaan marshmallow pertama kali ditemukan pada tahun 1960-an. Selama berdekade-dekade, percobaan ini pun digunakan terus oleh para psikolog untuk menguji anak -anak usia dini sebagai partisipan. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk memprediksi kesuksesan hidup anak pada masa depan.
Masing-masing anak ditempatkan dalam ruangan yang terpisah. Dalam ruangan tersebut, ada seorang penguji, meja & kursi, dan satu marshmallow lezat. Para penguji memberitahu anak bahwa marshmallow itu boleh dimakan. Akan tetapi penguji ingin keluar ruangan selama 5 - 10 menit. Jika penguji sudah kembali ke ruangan tersebut dan marshmallow ini masih utuh, anak itu akan mendapatkan 2 marshmallow lagi.
Konsep dari percobaan ini bisa dinamakan sebagai “kenikmatan yang tertunda” Jika Anda menahan diri dari suatu kenikmatan, makan balasannya adalah kenikmatan yang berlipat ganda di masa depan.
Singkat cerita, ada sebuah kamera tersembunyi dalam ruangan. Setelah pengujian ini selesai, ada 3 jenis hasil sebagai berikut:
Golongan anak-anak yang gagal menahan diri, mereka menghabiskan marshmallow itu sebelum penguji kembali
Golongan anak-anak yang licik, mereka tetap ingin mencicipi marshmallow dan tetap mendapatkan dua lagi. Ada yang mejilatnya dan ada pula yang memotek sedikit bagian dari marshmallow. Dan terakhir.....
Golongan anak-anak yang berhasil manahan diri. Mereka melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan marshmallow dari pandangannya. Semua itu dilakukan supaya fokus dalam tujuannya, yaitu mendapatkan 2 marshmallow tambahan
Percobaan marshmallow ini tak berhenti di pengujian tadi. Anak-anak yang telah menjadi partisipan terus dipantau selama 40 tahun. Hasilnya pun cukup menakjubkan
Golongan gagal menahan diri: Ditemukan bahwa mereka tidak melewati masa sekolah dengan baik, sering gonta-ganti pekerjaan. Dalam kehidupan sosial pun, mereka mempunyai teman, tapi tidak menjalin relasi yang sehat dengannya.
Golongan licik: Ditemukan bahwa golongan ini pada awalnya sangat berprestasi, namun di masa tuanya, mereka kehilangan segala pencapaiannya. Mungkin ini terjadi karena kebiasaan menipu dari kecil terbawa sampai mereka dewasa
Golongan berhasil menahan diri: Ditemukan bahwa golongan ini sangat berprestasi dalam pekerjaannya. Selain itu mereka mempunyai keluarga dan harta yang cukup
Konsep kenikmatan yang tertunda sudah ditemukan oleh Islam jauh sebelum adanya percobaan marshmallow. Adapun istilah khususnya, yakni istiqomah.
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al-Hud ayat 112]
Jannah memang tidak tampak, tapi biarlah janji Allah menumbuhkan semangat istiqomah dalam jiwamu. Jangan silau oleh seluruh kenikmatan dunia ini yang bersifat sementara. Kekayaan dunia dari hasil dosa tak ada bandingannya dengan kekayaan Jannah dari hasil taqwa.

















