Kiamat Jiwa
Ter-summon Kak @yunusaziz di postingan terbarunya dan kebetulan ada bahan tulisan yang mengendap di draft, jadilah aku mencoba membantu menambahkan alternatif jawaban. Disclaimer, ini juga bukan jawaban orisinil dariku, tapi hasil sintesis dari pemikiran orang-orang.
Pertanyaan sang penanya seperti ini:
Pikiranku langsung connect ke kutipan dari akun instagram seorang coach kesadaran, (at)muhammadfahmico, yang isinya:
"Ketika kamu ingin mengalami realitas eksternal yang baru (misal dari jomblo jadi menikah, dari jobless jadi bekerja) maka hal pertama yang harus di ubah adalah realitas internalnya terlebih dahulu, berupa identitas, pemahaman, emosi, pemikiran dan keseluruhan identifikasi atas itu semua yang merupakan diri fiksi kita."
Kalau orang mau menarik rezeki, jodoh, jabatan, pekerjaan, dan pertolongan Allah lainnya, maka dia harus masuk ke state kesadaran tertentu (catat: taqwa = consciousness). Ketika diri fiksi versi lama kita runtuh, maka akan lahir diri kita dengan versi yang lebih baru, dan tentunya dengan realitas yang baru juga.
Selaras dengan penelitian yang sedang aku kerjakan, di antaranya ada ayat yang pernah aku kumpulkan mengenai hak istimewa orang yang bertakwa (orang yang berkesadaran):
Allah akan memberikan jalan keluar baginya dan akan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah akan memudahkan pekerjaannya. Allah akan menghapus dosa-dosanya dan menambah pahala atas amal-amalnya. (65:2-5)
Kami (Allah dan 'aparat-Nya') mudahkan baginya jalan menuju kemudahan. (92:5-7)
Allah akan memberikan furqan atau akal budi (judging ability dan kemampuan decision making) dan akan menghapus serta mengampuni dosa-dosa. (8:29)
Satu hal lainnya yang langsung terkoneksi adalah postingan lama dari akun X Kak Tika Almira yang pada intinya menjelaskan, alih-alih fokus untuk mencari jabatan, fokuslah untuk memperbesar tabungan jiwa. (logika yang sama bisa di-apply untuk konteks pekerjaan tetap, jodoh, dll.)
Kenapa nasihat ini ngena banget? Karena hari ini banyak anak muda yang fokusnya pada personal branding dan mencari rezeki semata tapi wadah rezeki atau tabungan jiwanya gak ditambah. Gurunya Kak Tika (Pak Ridwan) menggambarkan ini ke dalam bagan 3 dimensi.
Dewasa ini kita banyak melihat orang "meminta jabatan" (atau pekerjaan, atau jodoh) atau "menampilkan dirinya" lebih besar dari tabungan jiwanya sendiri. Entah emang narsistik atau over valuing dirinya sendiri, tapi intinya nggak ber-haunan (nggak memiliki self awareness yang berketuhanan).
Banyak yang sampai mati-matian mengubah aturan dan menempuh jalan yang tidak dibenarkan secara moral, agar tabungan jiwa yang minim itu dipaksakan untuk "membayar" apa yang hendak dia peroleh. Artinya sebenernya kapasitas dia belum di situ.
Padahal ya sebuah posisi pilihannya cuma dua: memuliakan atau menghinakan. Kalau tabungan jiwa kita lebih kecil dari posisi kita hari ini, biasanya "utang" itu harus dibayar di kemudian hari. Cepat atau lambat, kekurangan itu akan muncul dalam bentuk konsekuensi. Entah berupa hilangnya integritas, rusaknya karakter, runtuhnya kepercayaan, atau penderitaan yang harus ditanggung di kemudian hari (kalau kitanya nggak menyusul bertumbuh).
Lagipula, menurut Carl Jung, perkembangan eksternal yang nggak diimbangi perkembangan kesadaran bisa menimbulkan ketidakseimbangan. Kita sama-sama tau bahwa jabatan, kekayaan, atau relasi baru pasti datang dengan tuntutan psikologis baru.
Sebenarnya bisa aja rezeki-rezeki itu datang waktu kitanya belum siap. Maka aku sepakat dengan Kak @yunusaziz di postingan terbarunya tentang mempersiapkan.
Jadi kalau kapasitas jiwanya belum berkembang tapi waktu dan takdir udah keburu menghadirkannya, outcome-nya entah bakal anxiety, depresi, narsis, atau hampa. Intinya nggak balance. Diagram ini mungkin bisa membantu memetakan skill dan challenge kita ada di spektrum mana. Penjelasannya cari aja di google.
Maka ber-isti'ablah (tingkatkan kapasitas diri). Semakin matang kapasitas batinnya untuk memikul amanah, Allah akan membukakan pintu-pintu baru dalam hidup. Based on diagram ini, makin high skill-nya, maka bakal semakin mudah (dibukakan pintu kemudahan). Dan semakin skill issue, bakal semakin takut menghadapi realitas eksternal yang baru (contoh: takut menikah).
Dan latihlah diri untuk peka dengan ayat/tanda kekuasaan Allah (not in a geer way) tapi dengan cara yang membuat kita mampu melakukan refleksi, retrospeksi, introspeksi, dan prospeksi secara adil dalam pikiran. Mana tau ternyata emang ada hal-hal yang dilakukan (in present) yang justru kontraproduktif dengan tujuan yang mau dicapai.
Terakhir, aku connect juga ke postingan Abdur Arsyad (ada di highlight ig beliau) mengenai rezeki yang datang lewat jalur silaturahmi. Intinya, jalan rezeki mah banyak dan semoga dalam menempuh jalan itu, kita nggak sambil menjauhi Sang Pemilik Rezeki.
Selamat menghidupi hidup dan stay excited!
— Giza, mengoleksi permata hikmah di kehidupan orang yang udah lebih dulu hidup
















