DI TERAS YANG TAK KUNJUNG TENANG
Puan yang enggan luput,
Tuan yang menuju maut.
Aku bertaruh pada semesta
bahwa manusia tidak pernah
mampu hadapi sepi
seutuhnya.
Daun yang jatuh begitu hampa
lemas ditiup angin
adalah aku yang tak pernah mengenal
jalan untuk dipijak.
Tiba saat pergi menghakimi
tertunduk malu
aku
pada pengharapan
yang terus menjadi teman.
Sisa-sisa abu rokok saat kumenunggu
adalah saksi bisu
berapa banyak nafas yang kuserahkan
untuk menggenggam satu kebahagiaan.
Jangan pernah menjadi entah
sedang kau begitu jelas
tertata di teras
sebagai inginku yang murah.
โ Bandung, A.












