Kenapa Terlambat Datang?
Kamu datang memelukku dari belakang. Aku terisak hebat, bahu dan tubuhku bergetar. Aku tetap berdiri tegak. Saat kamu datang, aku tahu pasti kalau yang datang adalah kamu. Kamu memelukku dengan erat, menyalurkan hangat yang kamu punya sekalipun tubuhku masih terguncang. Aku masih menangis, membiarkan tetes demi tetes air mata berganti menjadi bagaikan aliran sungai yang berderai. Dan kamu masih memelukku.
Lama-lama, dengan kamu yang memelukku tanpa suara, tangisanku pun mereda. Aku sesenggukan dan tanganmu masih melingkar nyaman. Aku membalik badan, menemukan matamu menatap tepat ke pupil mataku. Kamu memelukku sekali lagi, lalu sebuah maaf pelan lolos dari bibirmu seiring dengan tanganmu yang mengusap kepalaku lembut.
Kenapa kamu datang terlambat, Tuan?
Maaf, Nona.
Kenapa kamu terlambat datang, Tuan?
Maaf, Nona.
Kenapa baru datang sekarang, Tuan?
Maafkan aku, Nona. Aku di sini sekarang.
Selama ini aku sendirian dan semuanya terasa begitu berat. Aku tidak tahu harus melakukan apa selain menangis. Walau begitu, aku harus tetap berjalan. Air mata menggenang di telapak kakiku, Tuan. Aku harus berjalan dengan banjir di sekelilingku. Kamu ke mana saja sebenarnya, Tuan?
Aku tidak ke mana-mana, Nona. Aku di sini sekarang.
Maafkan aku yang terlambat datang, Nona. Pemilikku mengatakan, kamu harus melalui sendiri jalan panjang yang membawamu sampai ke sini sebab di sinilah kita semestinya bertemu, Nona. Aku tidak tahu pasti seberat apa pengelanaanmu. Tapi kamu sampai di sini, Nona. Kamu di sini. Dan aku di sini.
Aku minta maaf, Nona.
Aku pun perlu mendaki ribuan gunung yang berhasil kulalui itu sendirian. Akan ada banyak gunung lain yang menanti kita di depan sana, Nona. Tidak apa-apa. Kita jalani berdua, ya?
Aku mengangguk. Kamu tidak terlambat datang, Tuan. Kamu mempererat pelukanmu.
Terima kasih sudah datang, Tuan.
Senantiyasa, 2025.

















