Sejatinya, jika kita berani menelusuri lebih dalam tentang apa itu kebahagiaan, maka akan kita dapati sebuah kenyataan yang menenangkan sekaligus menusuk perlahan: bahwa kebahagiaan, sebagaimana dibayangkan manusia, tidak pernah benar-benar tinggal di dunia ini.
Selama napas masih keluar masuk dari tubuh kita yang fana, selama kaki masih melangkah di tanah yang penuh ujian, selama hati masih digoda oleh naik-turunnya takdir, kita tak akan pernah menemukan kebahagiaan yang utuh, sempurna, atau tak bercelah.
Kitab yang suci sudah lebih dahulu mengabarkannya. Sunnah yang mulia sudah lama membisikkan peringatannya.
Bahwa dunia ini bukan tempat menetap; ia hanya tempat lewat.
Bahwa yang menetap hanyalah letih, pergantian rasa, dan ujian yang datang silih berganti, sesuai janji Allah pada hamba-hamba-Nya.
Maka wajar bila kebahagiaan yang dikejar-kejar terasa selalu kabur, selalu berpindah, selalu menggoda namun tak pernah tinggal.
Sebab ia memang bukan milik dunia, bukan milik mereka yang masih berjalan.
Yang bisa didapatkan manusia hanyalah ketenangan, sejenis cahaya lembut yang turun ke dalam dada, bukan dari dunia, bukan dari manusia, tetapi dari mengenal Tuhan mereka, mengingat Nama-Nya, dan bersandar pada-Nya di antara gemuruh hidup yang tak kunjung diam.
Bukankah begitu?
Bahwa bahagia dunia selalu menggoda, namun ketenangan dari Allah-lah yang benar-benar menetap?
Dan barangkali…
itulah rahmat terbesar: Allah tidak menjanjikan bahagia di dunia, tapi Ia menjanjikan ketenangan bagi hati yang kembali pada-Nya.
Sebuah karunia yang tidak semua orang bisa rasakan, kecuali mereka yang hatinya masih hidup.
@clichemistry













