Senefelder Kalender 1931, illustrated by Georg Reuter.
seen from United Kingdom
seen from Spain
seen from United States
seen from Saudi Arabia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Norway
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from France
seen from United States
seen from United States

seen from Norway

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
Senefelder Kalender 1931, illustrated by Georg Reuter.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Januari Dawn - Anna Syperek
British b. 1949 -
Watercolour , 19 x 12.75 in.
Gerimis Januari
hujan turun pelan, kayak orang nyapa tapi sungkan. gerimis doang, tanpa petir, nggak bikin orang kaget. di teras, kopi hitam sudah mulai dingin, pisang rebus tinggal separuh, dan aku masih duduk menunggu sesuatu yang sebenarnya sudah lama pamit. ada orang-orang yang datang ke hidup kita seperti gerimis januari tidak heboh, tidak ribut, tapi bikin suasana berubah. mereka tidak menjanjikan pelangi, tidak memegang badai, mereka cuma hadir dan entah bagaimana membuat kita merasa “oh, begini toh rasanya ditemani.” Kalau mereka pergi pun tidak pakai drama. tidak ada unggahan sindiran. tidak ada status panjang. paling cuma sisa basah di kenangan yang lama keringnya. gerimis masih turun. aku seruput kopi. pisang sudah habis. dan di antara rintik itu, aku sadar satu hal yang paling bikin kangen bukan hujan deras, tapi gerimis pelan yang dulu pernah membasahi hari-hari kita dengan cara yang elegan
tji leng shi, 1101-2026 || 11.00 p.m

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Januari: Ganti Judul
"Ma, boleh gak sih kita berharap ke seseorang yang gak mengharapkan kita?" tanyaku pada si bungsu yang berusia tujuh belas tahun tapi sudah kuliah semester dua.
Sedikit ragu dia menjawab, "Boleh, sih, ..."
Aku masih menunggu potongan kalimat berikutnya.
"Tapi harus siap sakit hati," begitu tambahnya.
"Aku udah berhenti berharap ke manusia, Mbak. Kayak (misalnya) kita berharap ke diri sendiri aja susah, gimana mau berharap ke orang lain? Makanya berharapnya jangan ke manusia," katanya lagi, jauh lebih lancar dan yakin dengan jawabannya.
Obrolanku dengan si bungsu menghasilkan sebuah konklusi baru bahwa menikah itu bukan sekadar saling menginginkan, tapi juga saling membutuhkan. Rasa saling membutuhkan yang dimaksud itu adalah sesuatu yang Allah ciptakan dan izinkan terjadi. Bahasa gampang-nya, memang manusia sudah dirancang seperti itu. Sudah menjadi ketetapan Allah bahwa manusia diciptakan berpasangan, bukan? Kebesaran Allah yang indah berupa kebutuhan manusia untuk memiliki teman hidup, membersamai di dunia hingga ke surga, atau mungkin hanya di surga saja.
Percaya atau tidak, aku pernah berpikir untuk hidup single jika kelak Allah izinkan aku masuk surga. Padahal tidak ada yang akan Allah biarkan single di surga sebagai bentuk karunia-Nya. Masha Allah, aku memang harus lebih banyak belajar.
Belajar terus yang banyak agar semakin mengenal-Nya dan semakin jatuh cinta.
Patah hati kemarin membuatku belajar untuk mengubah cara ikhtiar dari yang awalnya mencari menjadi mendoakan. Aku percaya bahwa siapapun jodohku nanti, dia juga sedang berjuang mencari sakinahnya, mencariku. Seperti layaknya Adam yang tidak peduli siang atau malam, dia terus berjalan, berusaha menemukan Hawa. Jadi, sebagai bentuk dukungan paling tulus, aku akan terus menghiasi diri dengan ilmu dan sibuk mendoakannya.
Terakhir, ada dua hal yang belum aku ceritakan di tulisan sebelumnya. Aku yang biasanya ignorance dan merasa angkuh, kini terjun bebas hingga hampir merasa rendah diri (padahal seharusnya rendah hati). Satu lagi, sebenarnya saat ayahku menanyakan soal proses kami, AMZT menjawabnya dengan open ended statement.
"We ended it. But it may change, only Allah knows," kurang lebih begitu katanya.
Jadi, mulai dari sini, aku akan mengganti judul proyek mencari yang ke-12 menjadi mendoakan yang ke-12, siapapun dia nanti.
Semoga Allah karuniai yang terbaik (padaku dan dia) di dunia maupun di akhirat. Aku titipkan dan pasrahkan pada-Mu, Wahai Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang dari segala yang penyayang. Bismillahirrahmaanirrahiim.
Rindu ini bermetamorfosis, dari debar lembut menjadi gemuruh di dada.
Dulu ia sekadar bayang, kini menjelma menjadi nyeri yang tak bernama.
Kenangan berubah rupa, dari manis menjadi pahit yang perlahan menggerogoti hati.
Aku mencoba melupakan, namun rindu selalu menemukan celah untuk kembali,
menjadi sayap yang membawaku terbang ke masa lalu,
lalu menjatuhkanku tanpa ampun.
Sei. Ladi, 15 Januari 2020