Dalam Hidup Harus Memilih Satu Sisi
Photo by Kunj Parekh on Unsplash
Saya sebetulnya tidak suka membahas politik, politik dalam hal apapun, terutama politik negara ini. Saya tahu mungkin sudah bertahun-tahun kita memegang "Bebas Aktif", atau tidak berpihak kemana pun tapi memperjuangkan kepentingan banyak bangsa, cita-cita itu sungguh mulia, oh iya sekedar peringatan, tulisan ini merupakan opini saya pribadi dan kalau ada yang tidak setuju dengan pandangan saya ini itu sah-sah saja. Melihat kondisi dunia yang semakin terpecah, dan pergerakan para pejabat kita yang seakan tetap ingin merangkul semua pihak, tapi berujung seperti sedang dimanfaatkan oleh banyak pihak, membuat saya bertanya-tanya, apakah masih relevan pandangan "Bebas Aktif" tadi itu atau mungkin saat ini kita tidak menghayati dan menjalankan dengan sebenar-benarnya "Bebas Aktif" tersebut.
Kalau saya tarik ke contoh yang lebih membumi, dalam pekerjaan ataupun hidup bermasyarakat, tentu kita tidak asing dengan orang-orang yang berkuasa dan punya power, dikelilingi oleh para pengikutnya yang setia atau loyalis, suka duka dilalui kala sang pemimpin harus menderita karena menjadi lawan politik dari yang lebih kuat atau harus bersorak-sorai kala junjungannya memiliki kekuasaan, dan lagi-lagi contoh ini bisa kita lihat saat ini, ketika banyak dari para loyalis pada akhirnya memiliki jabatan yang prestisius dan bisa jadi kita juga bertanya, sebetulnya apakah orang-orang tersebut memiliki kompetensi yang sesuai dengan tugas yang diemban? Dalam bermasyarakat saja kita sudah tidak menganut nilai-nilai "Bebas Aktif", dimana kepentingan orang banyak diatas segalanya, justru yang kita lihat adalah kalau mau makmur, aman dan sejahtera adalah mengikuti mereka yang berkuasa dan kalau bisa jangan melawan "Boss".
Kalau berkaca terhadap dua contoh diatas, mungkin saya bisa menarik kesimpulan (lagi-lagi ini opini pribadi bukan kajian atau bisa disadur sebagai suatu teori), saat ini menjadi "Abu-abu" sudah tidak lagi relevan, maksud abu-abu disini adalah ketika kita tidak hitam atau tidak putih, karena ketika kita tidak 2-2nya, antara kita akan dijauhi oleh 2-2nya atau yang terburuk bisa jadi justru kita dimusuhi oleh 2 pihak tersebut, dan contohnya sesederhana dalam pemilihan umum pun kita tidak boleh golput bukan? ketika ada 2 calon atau lebih, kalau kita tahu yang satu lebih buruk, kita dipaksa untuk memilih yang "lebih baik" bukan? dan apa yang dikatakan kepada mereka yang golput? tidak nasionalis, atau bahkan ada yang bilang golput adalah dosa besar, dari sini saja kita belajar bahwa dalam hidup, kita tidak bisa tidak berpihak, tidak bisa menyenangkan semua pihak.
Lagi-lagi disini hanya opini pribadi dan saya sedih saja, melihat kondisi kita yang terombang-ambing sebagai bangsa, ingin menjangkau banyak hal, ingin menyenangkan sebanyak-banyak nya pihak, tapi justru mengorbankan kepentingan orang banyak, yang sebetulnya dijanjikan sebagai yang terpenting, dan menjadi pelajaran kehidupan untuk saya pribadi, bahwa ketika kita menjadi abu-abu, seringkali kita dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain, jadi sebaiknya dalam hidup kita memilih, antara menjadi hitam atau menjadi putih, dan jalani kehidupan dengan pilihan tersebut, jangan menjadi abu-abu.