seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from China

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from France
seen from South Korea
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Hungary
seen from Hungary
seen from Hungary
seen from Singapore

seen from Malaysia

seen from Russia

seen from United States
seen from China

seen from Malaysia
seen from China

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Julid, Untuk Apa?
Yang bikin lelah sering kali bukan banyaknya kerjaan, tapi atmosfer yang heavily charged — penuh bisik-bisik, sindiran samar, dan tatapan yang lebih tajam dari argumen.
Obrolan julid sering dikemas seolah ringan. “Cuma bercanda,” katanya. Padahal sering kali, di balik tawa itu, ada hati yang perlahan kering. Dan di situ, kita mulai kehilangan empati.
Kalau dipikir-pikir, apa sih yang bikin orang mudah julid? Mungkin karena merasa lebih tahu, mungkin karena haus validasi, atau sekadar ingin menutupi luka dengan menyoroti luka orang lain.
Dalam psikologi sosial, ini disebut projection — mekanisme pertahanan di mana seseorang menolak melihat sisi buruk dirinya, lalu melemparkannya ke orang lain. Dan ironisnya, semakin sering dilakukan, semakin kabur batas antara jujur dan jahat.
Pernah Rasulullah ﷺ bersabda:
“Cukuplah seseorang dianggap berdosa ketika ia menceritakan segala yang ia dengar.” (HR. Muslim)
Kalimat itu seolah mengingatkan, tidak semua yang kita tahu harus disuarakan, dan tidak semua yang kita dengar layak diteruskan. Diam, kadang, justru bentuk tertinggi dari kontrol diri.
Belakangan, aku belajar untuk mentally armor up sebelum melangkah ke lingkungan seperti itu. Bukan untuk menutup diri, tapi untuk menjaga emotional hygiene. Kalau ada yang memancing, aku memilih tak menari di nada yang sama. Kalau ada yang memutar fakta, aku memilih menjaga versi jujur di dalam diri.
Sampai akhirnya aku paham: Menang dalam ruang penuh julid bukan soal siapa yang lebih lantang. Tapi siapa yang tetap tenang — meski atmosfernya berat, meski hatinya nyaris retak.
Dan di situlah makna ayat ini terasa relevan:
“Janganlah kebencian suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Di ujung semua penilaian itu, ternyata yang butuh dipulihkan bukan mereka yang kita komentari, tapi hati kita sendiri. ❤️🩹
Perkara Maen Sosmed
Ada sosmed baru, wih enakan di sini. Masih hening ....
Enakan di sosmed B, kalau mau cari keheningan.
Sosmed C jauh lebih enak, penggunanya nggak toxic, jadi hening, tenang, tentram.
Hah?
Hah?
Hah?
Muke gile, kalau mau keheningan jangan di sosmed. Dodol!
Dodol emang deh.
Dodol
Dodol
Tapa tuh di gunung kelud, jangan bawa hape dan perangkat elektronik lainnya.
Dijamin hening!!!!
Palingan gandeng sora bangkong jeng tongeret.
#julidiah
Please, kalo mau ngomentarin hidup gue, tolong sekalian bayarin biaya hidupnya.
Istighfar. Ingat dosa @naim_ku

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Si Dzalim yang Luput dari Kamera
Hari-hari ini, rasanya berita yang tampak berlalu lalang adalah berita tentang varian kedzaliman yang terjadi di muka bumi. Mulai dari kekejaman isra3l, drama pajak terbaru, kerusakan alam yang merupakan CLBK (Cerita Lama Bersambung Kesana-kemari) dan masih banyak lagi. Tentu, empuk semua berita itu jadi menu utama ocehan lisan. Penuh sudah meja-meja dan karpet pertemuan; dari yang sajiannya segelas kopi berharga puluhan ribu, hingga sajian tempe mendoan yang (masih) seribu dapat dua; dengan obrolan macam diskusi para ilmuwan, satu persatu mengajukan secuil fakta yg sudah bercampur dengan opini aneka rasa, macam jin spoiler hoax yang berbisik pada dukun tentang berita langit yg satu kebenarannya dicampur ber-k-k kedustaan. Majelis pun terasa begitu hangat.
Akan tetapi, betapa seringnya kita lupa, bahwa ada kedzaliman yang rasanya tak pernah terangkat, dan memang sama sekali tidak boleh terangkat! Tentang kedzaliman oleh diri yg berbicara, terhadap diri pembicara itu sendiri! Ia tidak diberitakan di stasium tv manapun, juga tak jadi bahan perbincangan di khalayak warganet julid, tapi tentu saja kedzaliman itu nyata adanya, dan besar imbasnya. Tidak hanya bagi diri yang bersangkutan, tapi juga bagi bangsa dan negara; masa kini dan masa depan.
Lho, kok bisa?
Iya dong, semua makhluk yg dzalim terhadap dirinya sendiri; dengan segala kebodohannya, kekurangannya, dan kejahatannya yg sayang tak kunjung ditobati dan diobati; kelak akan menjadi manusia yg bisa jadi tak hanya mencukupkan untuk merugikan dirinya saja, tapi juga bangsa sedunia. Kebodohannya bisa jadi menular, apalagi kalau dia 'mendakwahkannya'. Kebodohannya bisa jadi semakin parah, kalau dia tak jaga jarak dengan kebodohannya!
Maka, tak cantiklah lisan ini jika hanya meraung-raung perihal kebiadaban dunia yg terjadi di luar pintu kamarnya, sedang di dalam kamar, ia simpan topeng seribu wajah untuk di bawa saat keluar rumah. Kebodohannya ia ctrl+S, bahkan ctrl+D, bukannya di delete. Tak cantik pula lisan yg menggunjing keburukan orang lain, siapapun itu; tapi jauh-jauh ia dari langkah menuju perbaikan; baik perbaikan dirinya sendiri, maupun perbaikan untuk dunia yg menanti hadirnya para hero berambisi nan beridealita tinggi macam para mujaddid zaman; Imam Syafi'i atau Imam Al Ghazali, atau kalau tak kenal, bolehlah sebut si Naruto sebagai contoh.
Dunia memang tak baik-baik saja, tapi kalau hanya lisanmu yg bergerak untuk komat-kamit mencela, apa bedamu dengan mereka yg di luar; toh sama-sama berbuat dzalim, meski objeknya beda.
Iya, dunia ini sedang tak baik-baik saja, maka kamu yg sama 'tak baik-baik saja'-nya pun harus segera berusaha menjadi baik, lalu ambil tindakan nyata; membooking bagian bumi mana yg hendak kamu beri usaha perbaikan.
Wallahu a'lam.
(Lepas LMDP 207, 12/06/21)
Setiap peranan yang kita ambil dalam hidup kita itu punya konsekuensi, dan itu tidak mudah.
Kuncinya adalah fokus dengan apa yang kau lakukan sekarang dan lakukan yang terbaik.
Tidak perlu repot dengan langkah orang lain yang mungkin berbeda denganmu.
Karena setiap orang memilih arena tempurnya masing-masing.
Takut Dianggap Tidak Baik
Kadang kita suka ngerasa takut melakukan sesuatu karena anggapan-anggapan orang. Karena tak jarang saat kita melakukan sesuatu dianggap salah dalam pandangan mereka. Tapi, coba tanyakan lagi pada hatimu. Jika kamu takut melangkah karena anggapan orang lain, apakah ada ketulusan dalam amalmu itu? Jangan takut melangkah, jangan takut berbuat baik hanya karena kamu takut dianggap tidak baik. Sebab yang lebih mengetahui hatimu adalah Allah. Biarlah orang lain memandangmu dalam salah, yang terpenting Allah melihat niat baikmu dengan benar.
@penaalmujahidah