[Cerpen] Fulan mimpi memimpin Negeri
Entah kenapa sore itu, tiba-tiba mata terkantuk. Meski perut ini bunyi keroncongan, tapi apadaya fulan tak mampu menahan kelopak mata yang perlahan menutup.
Hilang sudah pandangan mata fulan dan terhempas ke alam mimpi. Di sana fulan berlari ke sebuah rumah besar yang tampak megah. Terkagum-kagum bukan kepalang, maklum fulan hidup sebuah rumah kecil berdekat-dekatan dengan tetangga lainnya dan rumahnya pun tak memiliki halaman depan. Langsung berhadapan dengan gang yang menjadi tempat lalu lalang keramaian para pencari oleh-oleh khas daerah tempat tinggalnya.
Fulan tinggal di lingkungan yang sebagain besar ialah produsen oleh-oleh makanan khas daerahnya. Aroma kue itu selalu membuat fulan kenyang dan acapkalia menjadi pengantar dia tidur di sore hari. Hari ini pun ia terlelap sambil menghirup aroma kue yang begitu menggoda dan menghilangkan rasa lapar seketika.
Kembali ke alam mimpi. Fulan masuk ke dalam bangunan tersebut. Tetapi, langsung berubah kondisi bangunan menjadi reruntuhan dan tampak di sudut ruang itu. Sebuah kursi goyang yang cukup antik seakan memanggil dengan cantiknya agar fulan duduk sambil menikmati keripik. Ah, ada keripik di atas piring yang terletak di meja samping kursi goyang.
Namanya juga mimpi. Apa saja bisa terjadi. Fulan masih belum menyadari bahwa dirinya di alam mimpi. Dia pun duduk di kursi goyang sambil menikmati keripik singkong yang lengkap dengan serbuk bumbu pedasnya. Ketika rasa pedas itu menggelegar seketika datangnya pelayan yang mengantarkan air minum.
‘Ini tuanku fulan’, ujar pengantar minuman tersebut. Fulan bertanya ada apa ini kenapa begitu sepi negeri ini. Lalu obrolan berlangsung di antara mereka berdua. Dijelaskan olhe sang pengantar minuman yang ternyata adalah Perdana Menteri dari Negeri Antahberantah. Dijelaskan bahwa Fulan adalah Paduka Raja alias pemimpin dari Negeri Antahberantah yang kini luluh lantak hancur tanpa kejelasan dimana rakyatnya kini.
Tercerai-berai akibat berbagai cerita yang tidak bisa dilacak mana yang benar dan mana yang salah. Sebuah keambiguan atau kesimpangsiuran informasi yang tajam tampaknya membuat rakyat saling berperang.
Terdiam dan termenung dalam kesendirian. Tatkala sang pengantar minum telah hilang begitu saja dari sampingnya. Di salah satu sudut temboknya muncul gambaran sebuah perjalanan ruang dan waktu yang terjadi semenjak fulan menjabat hingga kini tak ada satu pun yang bisa dia pegang erat-erat.
Tampak kerumunan orang berkumpul di depan bangunan besar tersebut menyuarakan aspirasinya. Lalu tampak sebuah dunia sosial media begitu ramainya dengan berbagai perselisihan dan perbedaan pendapat yang kadang tidak disadari informasi yang kuat. Ya...informasi makin ambigu dan orang lebih tertarik membaca kata-kata ringkas tanpa melihat dan melakukan kroscek. Benar-benar tanpa daya. Pasukan siber yang konon dia persiapkan pun tak mampu membendung fenomena dunia maya. Terlebih kejadian di dunia makin tak karuan.
Bahkan, beberapa kali upaya Fulan untuk menengahi berbagai kejadian ternyata tak kunjung membuahkan hasil. Seketika itu, banjir bandang tiba-tiba datang dan layar di tembok itu lenyap.
Fulan terbangun dari tidurnya sambil fiuuuh wajah yang penuh air. Ternyata disiram oleh temannya yang sudah lama duduk menanti fulan terbangun.
Fulan hendak marah, namun tiba-tiba terdiam. Dia memilih untuk menceritakan mimpinya. Sambil bergumam...betapa beratnya menjadi seorang pemimpin, tentunya lebih berat dari seorang pemimpi yang belum mampu bangun dan sadar untuk memimpin dirinya sendiri.
Enschede, 3 Februari 2017
*Ini adalah cerita fiksi dan perjalanan mimpi yang khayal semata