Memimpin
Refleksi diri hari ke#40
Sebuah tindakan dimana namamu akan dipanggil kelak diakhirat dan diminta pertanggungjawaban. Bukan hanya tentang menjadikan diri yang lain lebih baik, tapi juga diri sendiri menjadi lebih mengerti.
Kerapuhan sebuah sistem hanya bisa diperbaiki dengan orang-orang yang ada didalam sistem itu. Karena begitu ketika Tuhan dan Rasul-Nya menceritakan tentang sebuah kaum. Orang yang ada diluar sistem itu hanya bisa menonton dan memerhati. Dan kelak perubahan hanya bisa datang bagi mereka yang sanggup bertujuan sama.
Diakhir masa juang ini izinkan aku pamit.
Dengan sebuah semangat optimisme diri, karena tau ada yang salah dan akan berdosa jika membiarkan yang salah, segala tahap telah dicoba. Hingga nilai diri dimata yang lain menjadi negatif dan semua menghujam dirimu. Tapi tak apa nampaknya, karena diri puas telah mencoba. Mencoba membenahi walau pada akhirnya memang harus diri yang terus berbenah karena ketidakramahan alam dalam menjamu niat baik.
Hijrahnya Rasul dari Mekkah bukan karena ia kabur dari tanggungjawab membenahi kota itu. Dia telah berjuang dengan segala yang bisa dilakukan, tapi sekali lagi jika sistem dan orang-orang yang ada dikota itu memang menolak perubahan ke jalan kebaikan, lantas diapakan? Mau tidak mau Allah membelajarkan umat Rasulullah untuk berhijrah. Berpindah ke tempat yang kelak akan bisa bersinar karena mau menerima perubahan yang dibawa oleh Rasulullah.
Lantas, ketika Rasulullah berjuang di kota Mekkah dan visi-misi nya tidak tercapai, beliau menghinakan dirinya dan umatnya? Apakah beliau menyalahkan dirinya (pemimpin) dan yang umatnya (dipimpinnya)? Sungguh kita telah banyak belajar sejarah islam dan mendapat IP yang baik, tapi masih jauh dari kata baik dalam mengambil hikmah dan merealisasikannya dalam kehidupan.
Kelak jika ada orang yang bertanya mengapa jalanku berubah arah? Ini yang akan aku berikan kepada mereka. Aku pamit dari rumah ini, izin berkelana mencari ilmu baru serta memakmurkan rumah lainnya yang memang butuh untuk dimakmurkan. Tapi tolong diingat, diri ini bukan macam orang yang dengan begitu gampang melupakan sejarah juang, termasuk tempatnya belajar menempa diri. Lantas bersabarlah adik-adik ku, diriku tetap mendukung jalan juang itu. Panggil aku jika kelak kalian butuh, waktu dan tempatku selalu ada untuk kalian.
"Maaf jika selama ini diri masih kurang baik ketika menjadi seorang pemimpin. Rasanya harus kembali berjuang walau di negeri yang tak dikenal. Terimakasih"













