"Tuhan, hujan memang berkah dari-Mu yang sungguh tiada kira. Burung-burung yang kedinginan, daun-daunan yang melambai bak penari yang melenggak-lenggokkan tubuhnya, hingga seorang kakek yang bergegas mengemasi barang dagangannya di pinggir jalan dari rintik air yang hampir mengguyur jalanan, mereka semua senang dengan karunia-Mu yang kau turunkan lewat hujan. Pun aku, saat hujan ku suka menatap ke arah jendela, membukanya sambil menghirup udara segar yang ditimbulkan. Harum sekali rupanya. Harus berapa kali ku bilang, bahwa sungguh kuasa-Mu memang tiada tara. Tapi Tuhan, bolehkah aku memohon malam nanti jangan dulu Kau beri hujan. Aku ingin bertemu dengannya" pinta sang gadis pada semesta.
Ia tak tahu harus lari ke siapa kala Bulan yang baru saja ia temui sebagai teman, beberapa hari belakangan malah tertutup awan. Kemolekan awan memang sungguh tiada lawan, ia menawan namun sayang tak bisa diajak berkawan. Saat malam tiba awan hanya menunjukkan gelap dan heningnya dengan seribu bahasa. Hanya Bulan lah satu-satunya tempat paling nyaman diantara ruang ternyaman, kala si gadis terpuruk dan butuh seorang teman.














