"Semalam ia datang, dengan wajah berseri, menanti kau muncul dari balik jendela kamar. Meski awan mendung bekas hujan yang sempat menutupinya seharian, ia tetap memaksa untuk menampakkan dirinya. Dalam keadaan basah kuyup dan kedinginan ia menunggumu, ingin melihatmu, kali ini ia sudah siapkan bahunya untukmu. Semalam suntuk ia pandangi jendela kamarmu, sepertinya kau sungguh terjaga dalam tidurmu. Tapi semalam kenapa batang hidungmu tak sedikitpun tampak? Bukankah penantianmu dalam lamunan kali ini sungguh panjang? Apalagi yang membuatmu enggan wahai gadis cantik pujaan Bulan?" — ucap lelaki tua, si penjual minuman di pinggir jalanan.
Lelaki keriput tua itu memandangi si gadis saban hari. Setiap malam saat turun hujan, saat semua orang enggan menatap keluar, si gadis selalu melongokkan separuh tubuhnya keluar lewat jendela kamar. Berharap ada Bulan di atasnya, dan ia akan melambaikan tangannya sambil menyapa. Tapi si gadis selalu tak tepat sasaran. Kecintaannya pada Bulan memang tak tergantikan. Hingga tiba hari semalam Bulan tlah siap untuk menemui gadis pujaan, namun si gadis segan menampakkan keinginan.













