Saya menulis ini bukan karna momen lebaran yang menyita banyak pikiran dan waktu pada pertanyaan-pertanyaan kurang bermutu. Hahaha
Maksud baik untuk mengingatkan agar kau tak terlena sendirian, tapi malah seperti menambah garam pada luka. Kata siapa? Kata mereka yang perasaannya lebih perasa, kata mereka yang tak kunjung berkeluarga, kata mereka yang patah arah karna usia.
Bersyukur sekali saya mempunyai keluarga kecil yang tak banyak menuntut. Apalagi perihal memilih pasangan. Keluarga besar? Pasti ada saja yang celetuk renyah kaya rengginang. Pasti itu mah.
Berkeluarga. Oke sebelumnya saya tidak pernah menulis tentang tema ini. Tapi saya coba nekat beranikan diri. Huh! *tarik napas
Begini, berkeluarga itu bagi sebagian orang mungkin terlihat mudah. Apa susahnya sih pacar udah punya, tapi giliran dibawa ke pelaminan ogah. Apa susahnya sih tinggal taaruf terus gak usah lama dan ribet, nikah deh.
Ternyata mudah itu hal yang subjektif. Bagi kamu mudah, belum tentu bagi sebagian orang juga mudah. Dan sebaliknya, yang menurutmu sulit tapi mudah bagi orang lain untuk mencapainya.
Kira-kira apa ya yang membuat orang lama tak kunjung berkeluarga?
Boleh jadi ia ingin mengejar karirnya dulu. Membahagiakan orang tuanya. Alah klasik! Ya mungkin bagimu klasik, tapi ada sebagian dari mereka yang ingin sekali mewujudkan impian ibu bapaknya karna sebelumnya ia belum sempat membahagiakannya.
Boleh jadi ia ingin mengejar sekolahnya dulu. Melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Yaelah kan bisa nikah sambil kuliah. Tidak begitu, ada banyak kerumitan yang tak perlu kau tahu tentang orang lain. Bagaimana ia berjuang atas capaian, lalu harus merelakan impian lain untuk melepaskan sementara waktu.
Boleh jadi ia ingin memahami ilmunya dulu. Nanti juga bisa kok berjalan dengan sendirinya. Itu kamu, tapi beda dengannya yang mungkin ingin mempersiapkan dengan matang, mematahkan kekhawatiran ke depan, menguatkan tekad nyali dengan membaca buku ini itu, mengikuti seminar sana sini, mengunjungi judul demi judul dengan tema yang sama. Kita saja yang sibuk menilai salah.
Boleh jadi ia ingin bersegera, namun takdir berkata lain. Belum ada yang berani mengajaknya berkeluarga. Usaha dong! Jangan suka menebak-nebak bagaimana orang lain bersikap. Mungkin saja ia sedang menjajaki setiap malam dengan doa. Terbuka berkenalan dengan banyak lawan jenis. Membuka hati seluas-luasnya pada siapa yang mendekati. Bersilaturrahim dengan berbagai komunitas yang diikuti. Mengamalkan setiap ibadah yang lebih baik darimu. Tak perlu banyak menafsirkan prasangka.
Berkeluarga adalah gerbang yang sakral untuk di lalui. Tak ingin gegabah dalam mengambil sikap, pun perlu pemikiran dan hati yang matang dalam memaknai setiap keadaan. Dan ini bukan ajang perlombaan. Bukan pula ajang berleha-leha.
Semoga Allah siapkan kita dengan segala perbekalam menuju berkeluarga. Semoga Allah mampukan kita dalam menujunya. Semoga Allah kuatkan kita dalam mengarungi bahtera.
Tak perlu khawatir. Allah sudah siapkan jawaban 5W+1H yang paling baik untuk masing-masing kita. Jangan banyak bertanya, banyaklah membalas 'chat' Allah dengan syukurmu.
Seperti biasa, yang menulis tidak lebih baik dari yang membaca.