Bersabarlah. Karena apa yang kamu egogakan hanya bersifat sementara, tidak akan lama. Bersabarlah. Sedikit lagi. Atau kita akan kehilangan lagi.
Beberapa waktu yang lalu seorang kawan meminta saran kepada saya perihal keeogisan dia dalam hubungan sosial. Menomorsatukan kenyamanan diri. Tidak ingin mengalah. “Aku tuh Mas, kalo aku gak mau ya udah gak mau. Pokoknya aku dulu, baru kamu.” Semacam pernyataan serupa juga sering kita jumpai pada diri sendiri, bukan?
Keegoisan mungkin memang bukan barang yang langka untuk ditemukan. Sering kita alami ke-akuaku-an pada hubungan sosial di sekitar kita; dengan teman satu pekerjaan, teman dalam kepanitiaan atau keorganisasian, teman satu angkatan. Saling merasa kepentingannya adalah hal paling penting. Selalu ingin dimengerti, tetapi tidak ingin mengerti situasi. Dan yang paling salah adalah menganggap kepentingan orang lain itu tidak jauh lebih penting dari kepentingannya.
Jika kita mau sedikit saja menyempatkan untuk menarik garis ulurnya. Membuka pandangan seluasluasnya. Sebenarnya setiap orang memiliki urusan mereka masing-masing, dan sama-sama penting. Tinggal bagaimana kita mengkomunikasikannya. Kalau mau jujur juga dengan diri sendiri sebenarnya kita bisa mencari celah dari urusan kita dan mengalah. Semisal kita ada sebuah janji untuk kerja kelompok. Semua anggota kelompok sepakat untuk mengerjakan pada akhir pekan, tapi kita merasa berat hati karena kita ingin pulang di akhir pekan. Padahal kerja kelompok tidak akan berjalan jika ada anggota kelompok yang tidak hadir. Namun kita tetap ngotot menyatakan ingin pulang dengan alasan mumpung masih bisa pulang, berbakti sama orang tua, dan alasan-alasan lainnya menyangkut keluarga supaya bisa dikatakan urusan yang kita kedepankan adalah penting. Yang nyatanya di rumah kita juga cuman males-malesan, Tidak ingin berkutat dengan dunia perkuliahan. Ketika disuruh ibu untuk membantu pekerjaan rumahan kita dengan mudah menolak dengan alasan capek, cuman punya kesempatan istirahat di akhir pekan, dan berbagai lain alasan. Atau kita pulang hanya ingin bertemu dengan kawan. Pulang, tetapi tidak menghabiskan waktu bersama ayah ibu. Permisalan ini tidak mutlak adanya. Masih banyak juga permisalan-permisalan lain yang menyangkut “jika kita mau jujur sama diri sendiri”.
Permasalahan sosial tentang keegoisan ini tidak akan terjadi jika kita mau jujur dan berkomunikasi. Jujur supaya antara otak dan hati kita saling mengerti. Berkomunikasi supaya orang lain mengerti kita, kita mengerti orang lain, dan tidak saling salah presepsi.
Saya lebih suka mengistilahkan bahwa masing-masing kita memiliki circle (lingkaran). Di kehidupan itu circle kita pasti beririsan dengan dengan circle orang lain. Entah itu dalam mengemban tanggungjawab bersama, kerja kelompok, temen satu angkatan, berkeluarga, dan masih banyak lainnya. Jadi, apa yang kita lakukan, yang kita mengira itu hanya berdampak pada diri kita sendiri ternyata berdampak juga pada orang lain. Bisa saja kita sudah merasa (ny)aman dengan keputusan sepihak yang kita ambil, tetapi nyatanya kita tidak merasa tenang? Kita itu saling tekoneksi dan kita dituntut untuk lebih peka.
Dan yang perlu kita pahami bahwa kebahagiaan pribadi tidak hanya datang dari diri sendiri. Kadang, melihat orang lain bahagia dangan dimudahkan urusannya melalui kita juga bisa jadi sumber kebahagiaan yang jauh lebih hakiki.
Mas Satria pernah mengatakan bahwa orang hebat itu adalah mereka yang sadar bahwa bahagia bersama itu jauh lebih penting daripada bahagia sendirian saja, dalam konteks ini kita lebih memilih kepentingan kita lebih dulu. Dan tahukah? Yang paling mahir dalam hal ini adalah orang tua. Coba tanyakan pada mereka tentanag pengorbanan mereka supaya kita bahagia. Tanyakan tentang air mata yang sering mereka sembunyikan supaya kita terlihat ceria. Kita tidak akan sanggup berkata karena mata kita sudah dahulu basah berkaca.
Sabar itu memang modal awal dan kita harus bisa untuk mempertahankannya.
Begitu banyak orang yang kehilangan sabar, kemudian kehilangan lebih banyak lagi. Orang yang dicintainya, pekerjaan yang ditunggu-tunggu, kesempatan yang hanya datang sekali, semuanya ikut hilang beserta hilangnya sabar. (Kurniawan Gunadi)
Yang paling bisa membuat kita untuk terus sabar hanyalah Allah semata. Jangan lupa untuk terus meminta pertolongan Allah supaya lebih kuat dan diberi lebih luas kesabaran.
Apa tidak cukup janji Allah selalu berada bersama kita, untuk kita tidak bersabar?