Sebenarnya, ketika ibuk sibuk membersamaiku dalam mencari yang ke-11, ayahku juga tidak kalah sibuk. Meski dengan gaya dan caranya sendiri, ayah sudah lebih dulu dan lebih banyak mengambil langkah serta keputusan.
Seperti misalnya, calon pertama yang ayah tawarkan padaku adalah 'anak didik'-nya di kantor. Ayahku percaya diri dengan calonnya yang satu ini karena sebut saja namanya Har memiliki ambisi yang tinggi untuk belajar, bekerja, hingga hidup di luar negeri. Mungkin ayah seperti menemukan cermin atas dirinya sendiri.
Walau calon ini akhirnya tidak jadi melanjutkan karena tidak ingin 'melangkahi' kakaknya yang belum menikah dan dia juga ingin fokus membangun kariernya terlebih dahulu, ayahku masih terus sibuk.
Terlebih di saat aku berhasil menyelesaikan syarat pamungkas untuk menjadi anak ayah (re: lulus kuliah S2), ayah semakin giat menghubungi rekan-rekannya untuk mencari peluang menemukan yang ke-11.
Di waktu yang bersinggungan dengan aku yang juga menemukan calon dari aplikasi, ayahku juga sibuk menyambut kawan lamanya untuk datang ke rumah membawa anak laki-lakinya. Sejujurnya, aku cukup bingung menghadapi calon yang satu ini, hingga setiap prosesnya pun penuh drama dan perbedaan pendapat.
Berlanjut ke calon ketiga dan keempat dari ayah, ternyata perbedaan pendapat masih betah bertahan di antara kami bertiga.
Misalnya, di saat ayah bersemangat menyambut calon yang kedua, aku masih ragu dan ibuk juga tidak nampak memberikan lampu hijau. Pun, calon kedua ini tidak kunjung memberikan kejelasan. Bagiku, yang sudah belajar dari pengalaman Kil, ketidakjelasan adalah kejelasan itu sendiri.
Contoh lainnya, di saat calon ketiga sudah mengantongi persetujuan ibuk dan aku, tapi ayah malah ragu dan tidak melanjutkan prosesnya lebih jauh. Sedangkan yang keempat, ketika kami bertiga sudah hampir sepakat, salah satu anggota keluargaku -yang kenal dekat dengan calon keempat beserta keluarganya- tidak merekomendasikan karena beberapa fakta yang mereka miliki.
Sebagai gantinya, mereka menyarankan untuk berproses dengan calon kelima yang masih merupakan anak laki-laki dari lingkaran pertemanan ayah.
Dari ratusan pencarianku bersama ibuk ditambah betapa sibuk ayahku mencari, ada satu hal yang sangat kusyukuri yaitu ayah dan ibuk yang tidak menyerah padaku.
Mereka tetap menerimaku apa adanya lengkap dengan segala 'badai' yang aku bawa. Plus, tidak berhenti dan selalu sibuk berusaha, berdoa, serta berpasrah pada setiap ketetapan-Nya.
Tidak sepertiku yang kadangkala tidak ubahnya seperti anak kecil yang rewel saat gagal membeli tas sekolah idaman yang setiap hari dipandangi lamat-lamat di etalase toko.
Eh, bukan 'tidak', tetapi 'belum'. Nanti juga ada masanya aku bisa dewasa seperti ayah dan ibuk, insya Allah. Mungkin segala kisah yang dilalui dalam mencari yang ke-11 ini menjadi salah satu caranya.
Jadi, mari kita move on ke calon berikutnya. Semoga ayahku selalu diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menempuh jalan yang sibuk demi mencari yang ke-11.