Assalamuβalaikum, Kamu.
Kita pernah sama-sama memutusakan untuk saling pergi dan meninggalkan.Β
Lalu diri belajar apa yang disebut sebagai keikhlasan.Β
meronta pada penciptanya untuk membantu hati merasakan apa yang disebut sebagai kesabaran. Seperti sabarnya Nabi Ibrahim βAlaihisalam saat menerima perintah untuk menyembelih satu-satunya anak kesayangan. Juga, seperti ikhlasnya Nabi Ismail βAlaihisalam saat akan disembelih oleh Ayah tersayang.Β
Kesabaran dan keikhlasan yang diminta, Dia genapkan memenuhi dada. Hingga, tak sedikitpun ku ingat semua tentang cerita kita. Bagiku, semua yang menjadi kisah lalu hanya boleh di kubur saja.Β
Semesta menunjukkan hal berbeda, masing-masing dari kita hadir di antara Istikharah padaNya. Kamu kembali datang, mengetuk pintu rumah di suatu Rabu malam. Padahal, diluar sedang hujan. Menemui Ibu Ayah tujuanmu, sudah ku bilang jangan! saat kau mengabarkan akan bertamu ke rumah. Ah, sudahlah, aku sedang bekerja saat kau ternyata benar-benar datang, dengan ehm.. dirimu basah kegerimisan. Tanpa ragu, Ayah Ibu bilang saat sepulangku kerja, bahwa ada laki-laki yang ingin memperjuangkan kembali anak sulung mereka yang keras kepala. Ingin serius dan menikahi puteri mereka yang pertama.Β
Aku hanya tertawa dalam hati, getir sebenarnya yang ku rasa.Β
βApakah mungkin? Apakah bisa?β
βTerserah Teteh, keputusan ada di Teteh. Ibu Ayah nggak bisa maksa.β Hanya itu jawaban yang ku dengar dari mereka.Β
Dan inilah kamu, di belakang punggungmu aku ikut menghadapNya. Mengucap syukur tak terhingga. Bahkan, kalau saja bisa ku tuangkan secara nyata, mungkin sudah bisa meluap semua apa-apa yang ku rasa.Β
Kamu menoleh ke belakang, memandangiku.Β
Aku hanya bisa tertunduk malu.Β
Walaupun sebelumnya, banyak air mata yang menemani perjuangan kita berdua hingga sampai pada titik dimana Sang Penguasa Alam Raya akhirnya mengabulkan setiap detail pinta kita.Β
βAssalamuaβlaikum, Kamu.βΒ
Aku mengangkat wajah seraya mencium punggung tanganmu masyhuk ,Β βWaβalaikumsalam, Suamiku.βΒ
Aku membuka tiap lembar album yang berisikan potret orang-orang tercinta yang diwajahnya hanya ada senyum dan tawa. Daun pintu kamar terbuka perlahan, aku mengadah, ada dirimu disana sambil tersenyum manis sekali.Β
βLagi apa? Ayo lari! Aku belum liat kamu olahraga seminggu ini.β
βAaaaaks tidaaaak! Kasur ini lebih posesif, jadi aku nggak bisa kemana-mana.β Kataku meletakkan album dan kembali tiduran sambil menarik selimut.Β
Kamu menghampiri dan menggulingkan tubuhku yang di tutupi selimut.Β
βNggak, nggak! harus bangun! Ayo gerak biar sehat! Katanya mau langsing.β
Aku bergerak bangun,Β βOhiya, ayok lah! Haha.β
Dan begitulah kisah kita pasutri muda yang masih dimabuk cinta, aheuy!Β