Menjadi Material Terbaik Umat
Dalam sebuah taujih, guru kami mengutip tulisan Ust. Solikhin Abu Izzuddin yang merindukan individu aktivis dakwah sebagaimana berikut: siangnya diisi dengan bekerja dengan penuh amanah, maghribnya mengisi kajian, setelah isya dilanjut dengan memperdalam ilmu di halaqah khusus, sepertiga malamnya dihidupkan dengan qiyam, lalu selepas subuh mengisi taujih, dan paginya berangkat bekerja tepat waktu.
Seolah mustahil bukan? Tapi nyatanya pernah terjadi dalam masa tertentu. Atau barangkali juga masih eksis hari ini dalam kesunyian tanpa exposure. Ah betapa memang individu aktivis yang sedemikian militannya, selain cakap dalam teknis, tapi juga mendalam secara ideologis itu dirindukan.
Tulisan ini hadir karena keresahan penulis atas tergesernya prioritas kelas kelas komprehensif dibanding event yang sifatnya tematik, dan cenderung pada entertainment sesaat. Penulis tidak hendak mengatakan event itu tidak penting. Tapi justru harus dilanjutkan pada kelas komprehensif yang serius.
Event tematik sangat penting dalam fungsinya memberikan nuansa islami di tengah masyarakat, membakar semangat membangun peradaban, bahkan membuat semangat menikah muda terlepas sudah cakap keilmuannya atau belum. Tapi event semacam itu tak cukup mampu untuk mengilmui hal-hal yang mendasar. Bukan karena sulit. Terkadang karena tidak populer saja untuk dibahas. Padahal yang mendasar itu penting sebagai landasan berfikir atas banyak hal besar.
Umat islam sering diibaratkan sebagai sebuah bangunan. Dan setiap individunya adalah batu bata yang siap ditata agar bangunan ini kokoh dan megah. Tapi mari kita gunakan istilah ‘material’ dan ‘komponen’ karena tidak semua bisa menjadi bata, adakalanya individu seterang lampu, ada juga yang semegah gerbang penyambut tamu, ada juga yang setangguh krikil walau kecil, ada juga yang seindah cat dinding, dan lain sebagainya sesuai dengan potensi masing-masing.
Dalam maratibul ‘amal yang disusun Syeikh Hassan Al Banna kita akan menemukan bahwa cita cita besar membangun peradaban islam yang menjadi soko guru peradaban justru dimulai dengan langkah kecil “islahun Nafs” Atau perbaikan individu secara khusus. Yang tolok ukurnya dijabarkan dalam 10 sifat muslim / 10 muwashafat.
Hajat untuk menjadi material terbaik umat ini adalah hajat yang sangat mendesak bagi setiap individu aktivis dakwah. Individu yang lurus aqidahnya, benar ibadahnya, kokoh akhlaqnya, luas wawasan pemikirannya, sehat tangguh jasmaninya, yang berdikari, berdaya juang, yang waktunya terjaga tak terbuang percuma, rapih profesional dalam urusannya, dan menebar manfaat seluas yang ia bisa.
Cita-cita luhur menjadi individu terbaik umat ini agaknya akan sulit terwujud hanya dengan event tematik dengan bermodal semangat. Membangun peradaban tak cukup dengan itu, ia butuh diilmui setahap demi setahap, perlu nafas panjang, perlu guru yang mengakui dirimu muridnya dan ia adalah gurumu. Cita-cita luhur ini membutuhkan forum yang komprehensif kurikulumnya, panjang waktunya, terpantau setiap progres tumbuh kembangnya.
Forum Khusus Yang Terlupakan
Sahabat, event besar tentu penting untuk terus digalakan. Ia mewarnai dunia yang sudah hingar bingar dengan seruan seruan lain yang sifatnya duniawi bakan cenderung pada kemaksiatan. Ia penting sekali untuk membangkitkan kembali ghirah umat ini, menyerukan kebenaran, menyuarakan hak yang tertindas, dan kepentingan lainnya.
Tapi jika mengharapkan materi yang komprehensif dan berkelanjutan, maka forum khusus yang kecil, sederhana, terbatas, adalah kebutuhan paling mendasar dalam membangun kepahaman yang lebih baik.
Memang, forum khusus dalam bentuk taklim, halaqah, liqo, cenderung sepi, ia tak seramai dan semegah panggung event tahunan itu, atau tidak semeriah tabligh akbar ustadz kondang nasional. Tapi disinilah pemahaman tauhid dibedah, siroh perjuangan nabi membangun peradaban diruntut dan dimaknai, segala kebingungan bisa ditanyakan, bahkan strategi dakwah bisa dirumuskan secara lebih konkrit. Maka mengembalikan prioritas halaqah kecil ini adalah hajat mendesak bagi setiap aktivis yang mendambakan peradaban. Karena setiap amal tentu harus berlandaskan ilmu yang benar. Bukankah seorang alim lebih baik daripada seorang abid yang tak berilmu?
"Keutamaan ahli ilmu dibanding ahli ibadah sama seperti keutamaan bulan pada malam purnama dibanding bintang-bintang lainnya." (HR Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya dari Abu Darda)
Kita perlu jujur dalam hal ini, problematika forum khusus terkadang tidak hanya tentang pesertanya, tapi juga tentang pengampunya: tidak meluangkan waktu, tidak mau meningkatkan ilmu, tidak menyiapkan materi, tidak belajar mengelola forum, dll. Maka disini, perlu kesadaran betul untuk meningkatkan pribadi pengampunya agar peserta kelompok erat ukhuwahnya, antusias, tidak terbebani, memahami pentingnya forum, dll.
Pentingnya Materi yang Mendasar
Sekali lagi, pentingnya forum kecil adalah disana terdapat materi yang komprehensif dan guru yang mendampingi. Materi materi yang tidak populer dibahas sebagai bekal mendasar menghadapi isu yang besar. Agar langkah-langkah yang diambil tidak melanggar yang prinsip.
Contohnya begini, ketika tak memahami betul posisi perasaan dan ketundukan pada syariat, jangan heran ada yang mengglorifikasi romansa pacaran atasnama cinta, atau memaksakan pernikahan beda agama atas nama cinta, dan ekspresi cinta lainnya yang bahkan melanggar syariat.
Atau ketika tak memahami betul ukhuwah terhadap sesama umat muslim, ketika berbeda sedikit malah memilih adu jotos dibanding tabayun secara baik-baik, menekan kelompok lain yang bersebrangan, membubarkan kajiannya, tapi di lain waktu bermesra ria dengan kawan beda aqidah bahkan zionis sekalipun atas nama kemanusiaan dan toleransi.
Ketika tak memahami betapa mengerikannya tuduhan bid’ah pada sesama, tak terbiasa bertoleransi pada perbedaan pandangan madzhab, maka dengan mudah menerakakan saudaranya lewat jalur bid’ah.
Ketika tak memahami mana syariat, mana adat, mana pemikiran islam yang lurus, mana yang tercampur dengan ashobiyah golongan, maka jangan heran akan ditemukan pengkultusan berlebihan atas nama takdzim, enggan merubah kultur buruk atas nama adat, dll.
Ketika tak mau duduk dan mengkaji fiqh dakwah, shiroh nabi, dan mengilmui hal lain yang memadai untuk dakwah, maka jangan heran ada aktivis yang kebingungan harus melakukan apa, berdasar apa, dalilnya apa. Karena pada dasarnya bermodal semangat tapi kepala kosong tanpa ilmu!
Sahabat, dalam konteks yang lebih besar maka kita akan menemukan pertentangan ekstreme yang haris disikapi dengan kaidah keilmuan yang benar, pikiran yang lurus, dan menekan tendesi emosional. Seperti pejuang palestina yang disupport persenjataannya dari Iran padahal Iran negeri Syiah, menggunakan instagram sebagai wasilah perjuangan padahal yang punya ya yahudi juga, bagaimana menyikapi hutang 10 tahun lalu yang nilai kurs uangnya pasti sudah berubah, bagaimana menyikapi politik dalam demokrasi padahal kalau kita tidak terlibat akhirnya umat tidak memiliki wakil sama sekali dan tak memiliki penjaga atas hukum-hukum yang ditetapkan, bagaimana tahapan membangun peradaban umat dan siapa yang akan jadi khalifahnya, dan bagaimana format negaranya.
Semua itu, dan banyak kasus lain akan bisa kita jawab jika memiliki ilmu ilmu yang mendasar yang hanya di bahas dalam forum forum terbatas itu.
Mari kembalikan prioritas atas forum khusus itu, kembali hubungi guru mu itu, mari membangun peradaban setahap demi setahap, mengilmuinya setetes demi setetes, mimpimu akan perdaban islam yang gemilang tak cukup bisa diwujudkan hanya bermodal semangat.
Mari menjadi material terbaik umat ini. Dengan pemahaman yang benar, dengan ruh yang teduh, dan dengan jasmani yang siap siaga.