Menemui Kehilangan Part Terakhir
Aku menaiki tangga dengan penuh kekesalan. Setelah mendapat info mengejutkan dari Ika tadi dan mengkroscek infonya di HP nya, aku langsung pulang untuk mengkonfirmasi ke Nana langsung. Kalau Ia memiliki ponsel, mungkin ada rasa-rasa yang bisa dialirkan terlebih dahulu, namun kerena tidak punya maka kekesalanku masih penuh. Tangga ini sungguh, menjadi saksi banyak gejolak rasaku akhir-akhir ini.
“Nanaa..” ku naikan sedikit suaraku agar dia menyadari kepulanganku. Aku tahu dia ada di rumah karena skripsinya telah selesai. Saat ini kebanyakan dia hanya melengkapi administrasi-administrasi untuk daftar wisuda. Nana juga bisa jadi sudah mendapat info tentang kekesalanku dari Ika, atau dari caraku memanggilnya secara full.
Ku buka pintu kamarku ternyata tak ada Nana disana. Namun tanda-tanda keberadaannya terlihat. Lalu diujung lorong terdengar suara deras air mengalir. Nana sedang di kamar mandi, mencuci baju berarti dia belum mengecek handphonenya. Ku dengar derap langkah berat dia keluar kamar mandi mengangkat ember penuh pakaian cucian. Ku segera hampiri masih dengan pertanyaan penuh di kepala.
“Udah pulang Han?”
“Na, maksud kamu apa si ngelakuin hal-hal kayak gitu?”. Seketika Dia menghentikan kegiatannya, sepertinya dia langsung faham hal apa yang aku maksud.
“Terkait urunan dana itu ya? Maaf ya Han kalau kamu kurang suka, aku cuma mau bantu aja.”
“Akunya mau dibantu ga? Na kamu harusnya tau aku ga suka diginiin. Kemarin kan udah aku sampein, aku bahkan ga suka orang-orang tahu Ibu kenapa. Kamu juga tau kemarin aku sama Iis kayak gimana”.
“Aku cuma kepikiran kamu butuh banget ini sekarang Han, lihat kamu nangis tiap hari, aku pikir kamu bener-bener butuh pulang”. Tervalidasi, jadi benar Nana sering terbangun mendengar tangisku di dini hari. Dari cerita ini bahkan dia jugalah dari semua orang yang ku duga yang ternyata menyebarkan info ini ke orang lain padahal sudah ku tekankan dalam-dalam aku butuh waktu sendiri.
“Dari semua orang, aku kira seenggaknya kamu faham Na. Mau bantu juga pasti ada caranya, kamu sudah kelewatan batas. Aku punya privasiku sendiri Na. Aku ga suka dikasihani kayak gini”
“Kita ga ngelakuin ini untuk ngerendahin kamu Han, semoga kamu ga ngerasa gitu, aku cuma mau bantu, kamu habis kena ujian beruntun yang aku rasa cukup berat, jadi inisiatif ngelakuin ini untuk meringankannya”.
“Ada etikanya Na kalau mau bantu, izin duluu, kali ini kamu udah ngelewatin batas.” Ku tinggalkan Nana di kamar. Saat ini aku tidak sanggup satu ruangan dengan dia, apalagi nampaknya dia tidak juga faham kenapa ini keterlaluan menurutku.
Ini adalah hal lain yang aku rasa sulit dilalui saat kehilangan atau sedang dalam musibah. Orang-orang terkadang mendobrak batasan diri yang coba kamu buat atas nama ingin membantu. Padahal jika tidak tepat, akan lebih merusak dari pada merekatkan pertemanan. Lagi-lagi menunjukkan betapa tidak tahunya kita menghadapi kesedihan. Banyak hal kita pilih tidak dibicarakan dengan dalih khawatir mengganggu atau kepikiran. Padahal persetujuan itu penting, sebagai tanda penghargaan, saling menghormati satu sama lain. Dan saat ini, aku tidak merasa demikian.
Aku berjalan kemana saja tanpa tahu arah, sampai rasanya kakiku capek melangkah. Banyak orang menatapku dengan tatapan kebingungan melihat aku menangis pelan sambil berjalan terang-terangan. Panasnya kota sore ini juga tidak membantu. Bukannya semakin cepat mengeringkan air mataku, tapi justru membuatnya tercampur dengan peluh. Aku butuh meneduh. Ku putuskan untuk menepi di masjid yang terlihat dari kejauhan.
Ku ambil basuh wajahku berharap dengannya hilang juga amarah dan kesedihanku. Dilanjutkan dengan mengambil wudhu. Mari kita coba sholat. Kalau semua terasa tidak kuat dipikul kita minta tambahan kekuatan dari yang Maha Segalanya. Ku lakukan sholat 2 rakaat tanpa terburu-buru. Berusaha memasrahkan semuanya. Memang tidak sepantasnya bergantung pada manusia. Kini di saat segalanya hilang meninggalkan, ku coba rasakan lagi bahwa Allah tidak demikian.
Ku perhatikan juga di sudut lain masjid anak-anak yang sedang belajar ngaji dengan ustadzah nya. Betapa cerianya mereka, seakan belum ada yang direnggut dari dirinya. Aku juga dulu pernah sesemangat itu. Rasanya ingin terus menjadi anak kecil saja. Perkara orang dewasa ternyata lebih sulit dilalui begitu saja. Kuedarkan pandanganku ke seluruh sisi masjid. Ada beberapa pesan-pesan yang merek gantung di dinding.
“Sabar, dunia ini hanya sebentar” begitu bunyi salah satunya. Ya Allah iya, bahkan kehilangan-kehilangan ini adalah tes dari Allah siapa yang bisa tetap menjaga keimanan. Memang dunia adalah tempat kecewa. Memang dunia adalah tempat berusaha. Kebahagian yang kekal abadi hanya di akhirat nanti. Tempat kita bersenang-senang mengistirahatkan diri. Melihat diriku belakangan ini, rasanya yang duluan hilang adalah diriku sendiri dan sekarang aku sedang mencoba menemukannya kembali.
“Bersama kesulitan ada kemudahan”. Mungkin memang sekarang rasanya kelimpungan. Tapi itu karena kamu coba merasionalisasi semuanya. Padahal bagi Allah ini mudah. Menggantikan seluruh sedihmu dengan kelapangan seperti membalikkan telapak tangan. Bisa jadi belum hadir karena selama ini aku lupa meminta. Alhamdulillah. Allah tidak biarkan aku jauh-jauh tersesat lebih lama. Dituntunnya aku menuju masjid sore ini, seperti membasuh luka.
Rasanya pikiranku terefresh jadi baru. Semua pikiran kacau tadi kita terurai satu-satu. Aku jadi bisa melihat lebih jelas, setelah emosi ku biarkan lepas. Perkara HP, Ibu juga Nana. Semua selalu bisa kulihat dari sudut pandang lain. Dengan kacamata yang lebih jernih dan lebih canggih. Kacamata prasangka baik. Ku biarkan diriku terbawa dalam ketenangan ini dan memutuskan untuk tidur. Mungkin tubuhmu butuh waktu untuk juga menyesuaikan dengan segalanya.
Aku terbangun karena suara anak kecil berhamburan keluar. Sepertinya waktu mengaji mereka sudah selesai. Ku tengok jam di atas mimbar. Sudah hampir magrib, aku juga harus pulang sebelum gelap. Mari bicarakan semuanya baik-baik dengan Nana di kosan. Dia pasti juga khawatir aku pergi begitu saja sendirian. Ku lipat perlahan mukena masjid yang tadi ku pinjam dan mengembalikannya ke rak lemari di belakang. Nikmat sekali bisa tidur di masjid lagi. Seperti dulu saat semuanya tidak serumit ini.
Sekarang masjid sudah berubah menjadi sepi. Yang tersisa hanya aku sendiri. Ku langkahkan kaki menuju pintu utama tempat tadi aku datang. Dan seketika mematung tak karuan. Tidak ada apa-apa disana, termasuk sendalku. “Ah, come on. Kehilangan lainnya? Di masjid pula?!”
Selesai












