“Ehmm….”, Ansel tampak berpikir sambil mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu, “Kalau aku bakal tetep maafin dia kak. Soalnya dia dulu pernah jadi temen deket aku. Aku juga pengennya bisa ikutan bahagia lihat dia punya temen baru. Selagi bisa, Ansel pengen punya banyak kenangan disini kak, apapun kenangannya, baik atau buruk gapapa”. Sesederhana itu pikiran anak-anak, Ara sedikit terbuka dengan penjelasan Ansel, sepertinya ada benarnya juga. Sesakit apapun ending dari kisah cinta Ara dan Bayu saat ini, tetap saja baginya Bayu memiliki ruang tersendiri di hatinya. Bayu juga turut mengukir kenangan bersamanya dulu, jadi sudah sepatutnya bagi Ara untuk ikut berbahagia dengan merelakannya. “Anak pintar, sekarang Ansel balik ke kamar yaa istirahat, minum obatnya yang rajin. Besok main lagi sama Kakak Suster Ara”, ucap Ara sambil mengelus puncak kepala Ansel. Dengan tersenyum Ansel menuruti perkataan Ara dan berbalik menuju kamarnya. Ara pun juga harus menyelesaikan tanggung jawabnya disini sebelum sore hari.
Sesampainya di kamar kostnya, saat ia sedang sendiri. Dikuatkan dan diyakinkannya dirinya sendiri sambil menghadap ke cermin. Keputusannya sudah bulat, ia hendak menelpon ibunya untuk memberi kabar. Ku lihat wajahnya serius menunggu sambungan telepon dari seberang. Rasa penasaranku akhirnya menemui ujungnya, ternyata ia menelpon ibunya. Tumben, tidak sering ia memberi kabar pada ibunya, mengingat ia tipikal orang yang akan memendam semuanya sendirian disini, pasti ada hal penting yang ingin disampaikan. “Assalamualaikum bu”, sapanya. “Waalaikumsalam Ra, ada apa?”, sahut ibunya.
Aku menguping pembicaraan mereka, ingin tahu seberapa penting teleponnya kali ini. Ada jeda sejenak, sebelum Ara berkata, “Bu sepertinya aku bisa menghadiri pernikahan Mas Bayu, ternyata aku ada jadwal kosong minggu depan”, ucapnya dengan sekali napas. Cukup terkejut, apa aku tidak salah dengar? Mas bayu? Lelaki yang telah membersamai pemilikku sejak tiga tahun lalu kini akan menikah? Tapi dengan siapa? Lalu bagaimana dengan perasaan Ara sekarang?, cecarku dalam hati. “Apa kamu yakin sanggup melihat mereka Ra? Gapapa ngga usah dipaksakan”, tanya ibunya sedikit ragu dengan keputusan anaknya. “Insya allah Ara bisa bu, nanti biar Ara sendiri yang menghubungi Mas Bayu ya, maaf sudah merepotkan ibu jadi perantara diantara kami”, ucap Ara dengan mantap. “Yasudah kalau gitu Ra, ibu ngikut gimana enaknya di kamu, semoga kamu ngga menyesali apapun keputusan yang sudah kamu buat nanti”, akhir ucapan ibu.
Lihat, bagaimana kuatnya pemilikku saat ini, sekarang ia sedang berusaha agar hatinya tetap tegar dan yakin dengan keputusan yang sudah ia buat. Sepertinya ada sedikit perasaan lega dalam dirinya setelah mengatakannya pada ibu. Ara ingin belajar dewasa, untuk apa-apa yang ada di masa lalu, ia ingin bisa menerima dengan seutuhnya. Tidak seharusnya ia berjalan untuk masa depannya dengan dibayang-bayang kenangan masa lalu. Sudah waktunya ia menghapus jejak rasa yang ada, semoga benar kata ibu, tidak ada penyesalan untuk apapun keputusannya. Dan harapku juga, semoga nanti tidak ada laki-laki lain yang akan membuatnya menangis tersedu-sedu meninggalkan bekas mata sembab keesokan harinya hanya karena pertengkaran dalam suatu hubungan, seperti yang dilakukan Mas Bayu padanya dulu. Semoga nanti, akan ada sesosok laki-laki yang bisa menggantikan peran ayahnya untuk selalu melindunginya dan berjanji tidak akan membuatnya menangis lagi di pakaianku atau merasakan kesepian di setiap malam. Ya, semoga saja takdir membawanya menemui hal bahagia sebagai ganti setiap rasa sakit dan sedih yang ia alami sendiri disini.
Selepas menunaikan ibadah siang di mushola rumah sakit, Ara menyempatkan membeli sebungkus roti dan sekotak susu di kantin untuk ia makan di taman, masih cukup banyak waktu yang ia punya sebelum jam istirahatnya berakhir. Tanpa ia ketahui, diam-diam ternyata Ansel memperhatikan caranya berkomunikasi dengan Tuhan-Nya. Dengan tertunduk lesu, Ansel berjalan perlahan menjauh menuju taman, ia duduk di bangku besi bercat putih pucat itu sendiri. Ansel merogoh saku celananya, diambilnya dua lembar kertas di dalamnya. Tangannya mulai gesit melipat-lipat hingga membentuk pesawat kertas. Baru saja ia akan menerbangkannya, tapi dihentikan oleh kehadiran Ara yang menyapanya. “Hai Ansel, gimana kabarmu?boleh kakak duduk sini?”. “Hai Kakak Suster Ara, keadaanku seperti yang kakak lihat sekarang”, ucapnya masih dengan lesu dan malas. Dilihatnya Ansel yang kurang semangat menimbulkan tanya dalam hati Ara, takut jika kondisinya menurun. “Ada yang ingin Ansel ceritakan ke kakak?”, tanyanya kemudian.
“Kak Suster Ara, ternyata Tuhan kita berbeda, caraku beribadah ngga seperti yang kakak lakukan tadi”, jawabnya. Satu suapan roti yang hendak masuk ke dalam mulut Ara ia urungkan, ia ganti dengan meneguk sekotak susu sejenak sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tidak biasa dari Ansel. Sepertinya mulai saat ini ia harus mempersiapkan jawaban yang mudah dipahami ketika bertemu dengan bocah pintar satu ini. “Tuhan kita satu, tapi cara kita bertemu dengan-Nya yang berbeda Sel, gapapa setiap manusia punya keyakinannya masing-masing, termasuk Ansel dan kakak”. “Kak boleh Ansel minta tolong?”. “Apa?”, dengan santai Ara menjawab sambil melahap roti untuk mengganjal perutnya yang lapar. “Kalau Kakak Suster Ara ketemu Tuhan lagi tolong sampaikan ke Tuhan ya kak, Ansel udah siap pulang, tapi tolong juga minta Tuhan sebagai gantinya buat kasih kebahagiaan ke orang-orang terdekat Ansel”, harap Ansel sambil menatap dalam Ara. Permintaan itu sukses membuat Ara tersedak rotinya, buru-buru ia minum untuk meredakannya.
“Kak, Ansel kemarin ngga sengaja denger pembicaraan mama papa sama Dokter Zayyan, kalau Ansel ngga bisa lama-lama disini, waktu Ansel ngga banyak kak”, sepertinya Ansel sudah mulai pesimis dengan kondisinya terdengar dari nada bicaranya yang putus asa. “Kak Suster Ara, Ansel ingin lebih dekat dengan Tuhan. Biar mama sama papa bisa fokus merawat Abel adik Ansel yang masih kecil”, lanjut Ansel. Masih terdiam, otak Ara buntu, kali ini bagaimana ia harus memberikan penjelasan pada Ansel. Ara menghela nafas dan menggenggam tangan Ansel sambil berkata, “Ansel tahu ngga kalau hidup memang tak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita. Hidup itu adalah semua hal yang hampir kita dapatkan. Tapi, kalau Ansel menyerah disini semua hal yang Ansel inginkan ngga bisa kamu dapatkan. Jadi, selagi Ansel masih bisa melihat dunia tolong tetap kuat berusaha ya buat mendapatkan kebahagiaan yang Ansel pengen”.
“Ansel kadang Tuhan membuat takdir kita ngga sesuai dengan apa yang kita mau. Contohnya kayak kakak, menjadi suster bukan keinginan kakak, bisa dibilang terpaksa. Keinginan kakak bisa jadi penulis melahirkan karya-karya hebat. Tapi, Tuhan selalu punya rencana terbaik-Nya untuk kita Sel. Tuhan pengen Kak Ara jadi suster disini biar bisa ketemu dan jadi teman buat Ansel, begitu juga dengan Ansel”, lanjut Ara. “Kakak punya cara biar Ansel bisa lebih dekat dengan Tuhan tanpa harus pergi dari sini”, ide Ara. “Gimana kak caranya?”, ucap Ansel dengan sedikit bersemangat lagi. “Sekarang coba deh tulis setiap keinginan Ansel di pesawat kertas ini”, kata Ara sambil mengeluarkan pena dari sakunya.
Ansel dengan patuh mengambil pena pemberian Ara, dibukanya perlahan lipatan pesawat kertas yang dibuatnya tadi. Bingung, Ansel tampak berpikir apa yang akan ia tulis, sepertinya ia memiliki banyak keinginan sampai akhirnya ia meminta Kak Suster Ara nya untuk melakukan hal yang sama. "Kak aku bingung, gimana kalau kakak juga ikutan menulis keinginan atau harapan kakak". Ansel memberikan satu lembaran kertas yang lain pada Ara beserta penanya, "Kakak dulu deh, aku mau mikir hehehe", sambungnya dengan cengiran. Ditulisnya harapan Ara untuk saat ini, "Aku ingin ikhlas untuk apapun saat ini". Ya, Ara ingin bisa belajar ikhlas untuk pekerjaan yang ia jalani saat ini, meski tidak sesuai dengan apa yang ia cita-citakan. Dan ia juga ingin ikhlas melepas kepergian Bayu menikah dengan perempuan lain.
Sedang kini gantian Ansel yang menulis keinginannya, “Tuhan, maaf Ansel banyak maunya, tapi sekarang Ansel cuma ingin sembuh”, begitu tulisnya. Pesawat kertas itu dilipat kembali dan sengaja tidak diterbangkan. “Sel, kita terbangkan sama-sama pesawat kertasnya nanti ya kalau Ansel sudah sembuh dan bisa keluar dari rumah sakit ini. Nanti kakak ajak ke suatu tempat dimana Ansel bisa bermain pesawat kertas ini dengan bebas. Kalau diterbangkan disini takutnya ntar dimarahin sama pak petugas kebersihan”, kata Ara dengan senyuman. “Tapi, Ansel harus janji sembuh ya, biar kita bisa segera kesana”, sambungnya. Dengan harapan Ansel berkata,”Semoga ya kak”. “Kalau Ansel bosan dan Kak Ara lagi sibuk merawat pasien lain, coba Ansel tulis setiap harapan Ansel di pesawat kertas ini ya. Tapi ingat habis itu disimpan dulu, nanti baru diterbangkan bareng kakak”, inisiatif Ara menghibur Ansel. “Iya siap Kak Suster Ara”, patuh Ansel dengan semangat dan senyum yang mulai mengembang.
Dua minggu berjalan, Ara semakin jarang pergi ke taman. Waktu istirahatnya hanya untuk ibadah, makan secukupnya, dan kembali berkutat dengan laporan-laporan yang harus segera ia rampungkan. Sesekali ia masih bisa melihat senyum Ansel dari kejauhan, perkembangannya cukup baik, meski setiap malam rasa sakit yang luar biasa itu datang menghampiri tidur nyenyaknya. Di sepanjang koridor, ia tak sengaja berpapasan dengan Dokter Zayyan yang tak kalah sibuknya, mereka hanya saling melempar senyuman. Sejak pertama kali berinteraksi dengan dokter muda idaman para wanita itu, ia jarang berkomunikasi lagi dengannya. Ara terlalu risih menerima gunjingan rekan-rekannya jika ia terlihat terlalu dekat dengan Dokter Zayyan.
Sampai pada minggu terakhir di bulan kelima, Ara berkesempatan merawat Ansel di hari itu. Raut wajah gembira tidak bisa Ansel sembunyikan, ia rindu bermain dengan Kak Suster Ara nya. Ansel membuka laci di samping brankarnya dan mengambil pesawat kertas yang sengaja ia simpan untuk Ara. “Ini pesawat kertas dari Ansel buat Kak Ara, dibuka kalau udah di rumah ya kak”, katanya dengan tulus. Dengan rasa penasaran Ara mengambilnya, “Terima kasih, Cepat sembuh ya Ansel”. Suasana hangat yang tercipta saat itu tidak terbayangkan akan menjadi momen terakhir bagi Ara dan Ansel. Ara mengira dengan kondisi Ansel yang ia lihat belakangan ini cukup menjadi pertanda bahwa Ansel akan segera sehat kembali. Tapi ternyata, malam hari saat Ara telah pulang ke rumahnya justru Ansel pergi untuk selama-lamanya tanpa berpamitan kepadanya.
Ternyata Tuhan lebih ingin bertemu dengan Ansel daripada Ara yang ingin selalu bersama Ansel. “Kak Suster Ara terima kasih ya sudah menjadi teman baik buat Ansel. Janji jangan nangis lagi ya, nanti Tuhan sama Ansel ikutan sedih, jangan lupa bahagia kak”, tulis Ansel di pesawat kertas terakhirnya untuk Ara. Dengan sisa air mata, Ara mulai menggantungkan pesawat kertas Ansel dan miliknya waktu itu di atas langit-langit kamarnya. Hingga seterusnya, Ara selalu menuliskan harapan dan keinginannya yang belum tercapai di pesawat kertas yang akan digantungkannya itu. Dari Ansel, Ara belajar akan selalu berusaha untuk mewujudkan apapun keinginannya selagi masih ada waktu yang ia punya.