Pada hari dimana milikku remuk, aku bertemu denganmu. Hari-hari yang aku tidak pernah jauh darimu. Karena jika bukan aku yang berada di sisi kananmu, maka aku berada di sisi kirimu. Selalu begitu hingga beberapa hari berjalan. Sedekat itu raga kita tapi rasanya kita sangat berjarak, entah oleh apa.
Aku tahu namamu, kamu tahu namaku. Soal cerita, aku belum mendengar milikmu. Pun juga kamu perihal milikku. Tapi setiap kali kamu ada disisiku, aku banyak menerka. Menerka apa-apa yang kamu suka. Menerka jiwa macam apa yang ada di balik parasmu. Dan kamu tahu, aku melihat diriku sendiri pada sosokmu. Aku melihat diriku sendiri dalam tubuh seorang lelaki. Harus kuakui, aku menjatuhkan sesuatu yang aku ingin jaga dengan sangat. Yang hari itu masih berkeping karena seseorang tanpa aba-aba meremukkannya lalu meninggalkannya. Hatiku. Hatiku jatuh. Kepadamu.
Suatu hari kamu menarik bangku disebelahku sambil menyenandungkan lagu yang begitu aku suka. Pupil mataku melebar, sedikit terkejut. Aku ingin berkata, āaku suka sekali lagu ituā. tapi lidahku begitu kelu dan kaku. Kalau aku punya lebih banyak nyali sebagai seorang perempuan, aku ingin berkata bahwa, aku juga mendengar semua lagu-lagu yang kamu dengar. Aku juga sangat suka lagu-lagu yang kamu suka. Aku juga sangat senang pergi ke tempat tinggi dan menanti fajar terbit. Aku suka hal-hal yang kamu suka. Aku suka kamu.
Itu andai, andai aku punya nyali lebih. Tapi aku berakhir berdiam diri di tempatku duduk. Sesekali melempar senyum ditengah obrolan kita yang tidak begitu dalam karena kurasa, kita berada diantara yang lain. Bukan hanya kita yang berada disana sehingga konversasi-konversasi dalam yang aku impikan antara aku dan kamu tidak pernah terwujud. Padahal aku membayangkan, mengingat betapa banyak kesamaan diantara kita, kita mungkin akan sanggup bertahan dua-tiga jam hanya untuk mengobrol tentang kita. Iya, tentang kita, hidup, dunia, musik, alam. Dan apapun itu.
Sampai hari dimana masing-masing dari kita harus pulang. Kesempatan bertemu dan berkenalan denganmu adalah satu hal menyenangkan yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku tidak tahu dan tidak berpikir bahwa kita akan bertemu lagi. Sampai aku diam-diam mengharapkannya dalam hati. Lalu merapal doa yang menyebut namamu di dalamnya.
Beberapa hari setelahnya, tanpa aba-apa, kamu hadir dalam mimpi. Meraih tanganku dan membawaku bersamamu. Aku lalu terbangun dengan sebulir air di ujung mata. Aku menangis. Ada rindu yang tidak mampu kuartikan. Aku ingin bertemu. Mungkin sekali, atau dua kali lagi. Aku ingin bicara banyak kepadamu, dan aku ingin mendengar lebih banyak darimu.
Sudah lama sekali. Sampai aku sudah lupa bahwa temuku denganmu pernah kudamba begitu sangat. Sampai dua hari lalu, kamu datang ke layar ponsel.
Aku tidak tahu. Aku ingin membuka pintuku. Tapi aku takut remuk. Lagi dan lagi.
Haruskah kita mencoba sesuatu?