Saban hari kau bertandang dalam bunga tidurku. Entah aku yang terlalu memikirkanmu hingga terbawa menuju alam bawah sadar atau benar kau juga tengah merindukanku. Sialnya tak bisa ku tanyakan apapun kepadamu.
Aku bersumpah tak ada yang baik-baik saja lepas kau memunggungiku. Dendam dan amarah masih terus ku dendangkan. Benci dan rinduku bercampur menjadi satu.
Tertatih-tatih aku meyakinkan diri untuk bangkit menentukan arah tuju sedang di sana kau tersenyum bahagia bersama perempuan yang berhasil mencuri singgasanaku.
Aku terlalu muak untuk merindukanmu namun tak sampai hati jika harus membencimu dengan sumpah serapahku. Aku minta kepada Tuhan agar memberimu rasa sakit yang sama persis seperti yang ku rasakan dulu.
Pernah pula ku mendoakan agar perempuan itu mencampakkanmu seperti kau membuangku. Aku benar-benar memohon dengan airmata agar kau tahu betapa menyakitkannya perbuatanmu waktu itu, setidaknya terbersit dalam benakmu bahwa hal yang kau lakukan adalah trauma yang menyiksa kelanjutan hidupku.
Tak ada yang bisa ku terima dengan nalar dari semua kecuranganmu itu. Dan waktu telah lama berlalu namun luka-luka itu masih terpahat di dadaku. Menjadikanku tak berani membawa siapapun untuk bercengkrama, mengenalku dari dekat. Ah kau benar hebat dalam memporak-porandakan hatiku atau aku saja yang telah menjadi bodoh karena mencintaimu?
Lihatlah, sekarang pun saat aku masih meraba-raba perihal siapa yang 'kan mendampingiku kau justru telah menimang si kecil yang di dalam tubuhnya mengalir darahmu. Omong kosong macam apa ini!
Aku yang remuk-redam, aku yang terluka. Lantas, kenapa kau yang memperoleh bahagia lebih dulu?
Gelap, 00.15 | 22 Februari 2023.