Sendiri adalah ruang paling lapang yang kau miliki. Kau bisa tidur melintang di ranjang, menyeduh kopi di tengah malam tanpa perlu mengecilkan suara denting sendok, dan pergi ke mana pun tanpa harus memberi kabar ke satu orang pun.
Sendiri itu praktis. Kau hanya perlu mengurus satu kepala, satu isi hati, dan satu set masalah hidupmu sendiri. Tidak ada drama kompromi tentang mau makan apa malam ini, atau perdebatan panjang hanya karena nada bicaramu terdengar sedikit ketus di telepon.
Dunia ini juga terlalu berisik menawarkan pilihan. Di luar sana, orang-orang yang lebih menarik selalu dipajang rapi di etalase media sosial dan sudut-sudut kafe. Yang lebih lucu bicaranya, yang lebih mapan dompetnya, yang lebih nyambung seleranya—semuanya ada dan tak akan pernah habis. Kalau hidup ini adalah perburuan barang terbaik, kau akan lelah seumur hidup karena selalu ada versi yang lebih baru setiap minggunya.
Lalu tibalah suatu hari ketika langkah kakimu terasa berat karena lelah terus-menerus memilih.
Di titik itu, berpasangan menemukan artinya. Sebuah keputusan sadar untuk menancapkan jangkar. Tapi itu bukan karena kapalmu rusak dan tak bisa lagi berlayar. Justru karena kau sadar lautan lepas tidak pernah benar-benar punya ujung untuk ditaklukkan.
Kau duduk di seberang seseorang yang sedang menyeruput tehnya sambil mengeluh tentang harinya yang buruk. Kau menatapnya dan tahu betul, dia bukan manusia paling sempurna di bumi. Dia punya kebiasaan-kebiasaan kecil yang kadang menyebalkan, dan percakapan kalian tak lagi selalu meledak-ledak seperti kembang api tahun baru. Tapi dengannya, rasa damai akan selalu rebah di dadamu.
Kau berhenti menoleh ke pintu keluar, karena di dalam ruangan itu kau sudah merasa hangat.
Kau memilih mencukupkan diri, karena kau akhirnya paham bedanya rasa haus yang wajar dengan keserakahan yang sia-sia.
Berpasangan itu bukan tentang mencari seseorang yang bisa melengkapi semua kepingan hidupmu yang hilang layaknya puzzle surga. Berpasangan itu tentang memilih satu orang yang paling bisa kau ajak berjalan berdampingan tanpa saling menyikut. Seseorang yang tahu kapan harus membiarkanmu hanyut dalam kesibukanmu sendiri, dan tahu kapan harus menarik ujung lengan bajumu saat kau mulai bertingkah konyol dan melampaui batas.
Pada akhirnya, berpasangan adalah tentang memiliki tempat meredakan bising. Saat dunia luar memeras seluruh tenagamu untuk terus mengejar hal-hal yang tak berujung. Dia ada di sana—menyediakanmu kursi yang nyaman di sisinya, menatapmu teduh, tak menuntut apa-apa selain kehadiranmu.