Bersabarlah. Tidak ada hamba yang Allah uji sendirian; selalu ada rahmat yang berjalan diam-diam bersamanya.
Three Goblin Art
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
I'd rather be in outer space 🛸

Andulka
Today's Document
Peter Solarz
$LAYYYTER

tannertan36
we're not kids anymore.
trying on a metaphor
Sweet Seals For You, Always
TVSTRANGERTHINGS

izzy's playlists!

Product Placement
DEAR READER
sheepfilms
seen from United States
seen from Senegal
seen from India

seen from Egypt
seen from Türkiye
seen from Mexico
seen from Mexico

seen from United Kingdom
seen from Canada

seen from Brazil
seen from Japan

seen from Dominican Republic

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@freyasafrina
Bersabarlah. Tidak ada hamba yang Allah uji sendirian; selalu ada rahmat yang berjalan diam-diam bersamanya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Bekerja untuk Bahagia
Makin dewasa, tuntutan hidup seolah tidak ada habisnya. Kita berharap bisa hidup dengan tenang, nyatanya dikejar oleh tagihan. Hidup dari gaji ke gaji. Mau punya rumah, seolah menjadi mimpi panjang. Sementara, untuk bisa hidup dengan cara berbeda, kita tak punya keberanian.
Di tempat kerja, kita bekerja karena uang-nya, itu sesuatu yang umum. Tapi kita bertanya-tanya tentang mengapa kita tetap di sana, meski tidak bahagia tapi juga tidak berani keluar tiba-tiba.
Kita mulai mempertanyakan arah hidup kita sendiri, sebenarnya kemana, seperti apa. Apakah seumur hidup akan tinggal menetap di satu tempat, menjalani pagi hingga sore dengan aktivitas yang sama. Kemudian berkeluarga, anak-anak tumbuh dewasa, mereka menikah, lalu kita tiada? Seluas itu bumi yang kita pijak ini, tapi jarak terjauh yang kita tempuh ternyata hanya provinsi sebelah? Begitu besarnya bumi ini, tapi kita seperti hidup terbentur kanan dan kiri?
Kenapa kita tidak mencoba sesuatu yang selama ini kita takutkan? KG
Tauhid itu, menyerah. lakukan apa yang bisa kamu lakukan. kamu tidak diminta sempurna dalam melakukannya. kamu pun tidak diminta berhasil untuk menyelesaikannya. kamu hanya diminta melakukannya karena Allaah. apapun akhirnya itu bukan ranahmu, sekalipun itu tidak menyenangkan bagimu. sebab hal itu tidak luput dari pengawasan Allaah.
maka, sayang. jangan takut. jangan merasa kecil. bukan urusanmu menentukan apa yang kamu lakukan itu berguna atau tidak. bukan ranahmu menentukan apa yang kamu lakukan itu berhasil atau tidak. sebab itu ranahnya Allaah. kamu tidak boleh ikut campur. nanti kamu kalah. maka, sayang, sekali lagi, tak apa. selesaikan apa yang sudah kamu mulai. lakukan sampai akhir, lakukan dengan terbaik.
Allaah yang menentukan urusanmu berhasil ataupun gagal. Allaah sudah menentukan bagianmu, sekian dan sepersekian. lalu mengapa kamu merasa begitu khawatir. itulah mengapa kamu diminta untuk terus belajar, memperdalam ilmu terutama ilmu Tauhid. karena ketika keyakinanmu mulai goyah, ilmu Tauhid yang kamu pelajari akan memberikanmu pemahaman, bahwa semua ini adalah bagian dari ketetapan Allaah yang sudah ditetapkan.
maka, sayang. jangan menangis lagi ya. ketika kamu merasa begitu khawatir dan takut mintalah pertolongan Allaah dengan berdoa. katakan semuanya, kekhawatiranmu, ketakutanmu yang tidak berujung itu. Allaah akan menolongmu, sebagaimana pertolongan itu hadir ketika Nabi Musa alaihi salam dan kaumnya tersudutkan.
Tauhid itu, menyerah. maka serahkanlah semua khawatir dan ketakutanmu pada tempatnya. Allaah Maha Mendengar. Allaah Maha Tahu. jangan takut, sebab Allaah dekat.
"Ya Allah mampukan langkah ini untuk bersungguh-sungguh kembali pada-Mu. Kembali hanya mengharap ridha-Mu atas segala hal yang tengah hamba-Mu ini rengkuh. Teguhkan jiwa ini dengan pendirian yang berlandaskan iman kepada seluruh takdir-Mu."
Hamba-Mu ini sadar betapa goyahnya langkah kaki ini jika tanpa pertolongan dan petunjuk-Mu. Sirami jiwa yang gersang ini atas segala pengharapan dunia yang secara sadar maupun tidak hamba sempat harapkan dengan siraman kasih sayang-Mu.
Ya Allah, andai kata memang hambamu ini telah melenceng jauh dari jalan yang Engkau ridhoi, bukakan pintu maaf-Mu ya Allah. Jadikan hambamu ini pribadi yang senantiasa rindu bertaubat tiap-tiap kali hambamu ini berbuat hina.
Ya Allah, cukupkanlah hambamu ini dengan iman, iman, dan iman. Karena sungguh, apalah arti dunia beserta isinya jika hati ini hampa dari mengingat-Mu. Jadikanlah iman sebagai satu-satunya perisai yang menjaga hamba dari keputusasaan, hingga tiba masanya hamba berpulang.
Pada akhirnya, hanya kepada-Mu hamba kembali. Fatiros samawati wal ardh, anta waliyyi fid dunya wal akhirah, tawaffani musliman wa alhiqni bish-shalihin (Wahai Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh).
Aamiin ya Rabbal 'alamiin.
Sabar itu bukan sifat bawaan, melainkan sebuah keputusan.
Mungkin pernah kita menjumpai betapa mungkin seorang yang diperlakukan dengan buruk sedemikian rupa, mengapa tidak membalas dengan perlakuan yang sama? Mengapa mereka tidak memilih untuk mengamuk, mungkin memaki balik, atau minimal menunjukkan bahwa mereka punya pilihan juga untuk membalas dendam?
Pertanyaan 'mengapa tidak' ini wajar muncul karena dunia terbiasa dengan reaksi instan. Kita sering mengira bahwa diam atau tidak membalas saat disakiti adlah tanda kalah, takut, atau karena orang tersebut tidak punya pilihan lain. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya. Ada energi yang sangat besar yang sedang ditahan di dalam sana, dan ketidakmampuan orang lain untuk melihat energi itulah yang membuat tindakan ini terlihat membingungkan.
Pertanyaannya, lantas dari mana pilihan sabar itu hadir?
Ia tidak muncul begitu saja, dan jelas bukan bawaan lahir yang diwariskan daei ortu penyabar. Pilihan untuk sabar itu hadir dari kesadaran penuh atas nilai yang ia pegang teguh dalam diri. Seseorang memilih sabar karena mereka sadar, jika mereka ada hal yang lebih esensial ketimbang mencurahkan energi untuk hal yang tidak memberi feedback positif—baik untuk lingkungan, lebih-lebih untuk diri sendiri.
Sabar itu lahir dari sebuah keputusan berani untuk memberikan jeda. Jeda untuk berpikir jernih sebelum bertindak, dan jeda untuk bertanya pada diri sendiri: "Apakah orang ini layak membuat saya kehilangan kendali atas diri saya sendiri?" Ketika seseorang berhasil melewati jeda itu tanpa ikut menjadi orang jahat, di situlah sabar berubah dari sekadar menahan diri menjadi sebuah kemenangan mutlak.
Mereka berhasil menang, bukan dengan cara mengalahkan orang lain, melainkan dengan cara berhasil menguasai diri mereka sendiri. Begitu menawan memang orang-orang yang demikian itu. Mereka meang dan memilih kendali penuh yang ada pada dirinya. Sebuah watak yang bijaksana, dewasa yang tidak dibentuk dalam sekejap, maleinkan perenungan panjang dalam hidup yang ia laluinya.
Semoga kita bisa terus memilih untuk menang atas ego kita pribadi, tahu kapan dan bagaimana harus bersikap atau merespon keadaan.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang tenang, yang percaya akan bertemu dengan-Mu, yang rida atas ketetapan-Mu, dan yang merasa cukup dengan pemberian-Mu.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sembuhkan Dirimu
Orang yang menyakitimu, mungkin ia tak menganggap dirinya sendiri sebagai orang yang jahat. Karena ia telah hidup dengan cara berpikir dan lakunya selama puluhan tahun, baginya, apa yang ia lakukan tidak lebih dari sebuah kewajaran dan kebiasaan.
Tapi bagimu, hal itu menorehkan luka, bahkan trauma. Membuatmu murung berkepanjangan. Tapi baginya, ia tidak peduli. Karena ia hanya peduli perasaan dan hidupnya sendiri, masa bodoh dengan hidup orang lain yang telah dicederainya.
Tapi bagimu, kamu telah belajar sesuatu yang amat mahal. Tidak semua orang layak untuk mendapatkan seluruh energi dalam hidupmu. Tidak semua orang punya nilai hidup yang sama denganmu. Tidak semua orang, punya empati yang sama denganmu.
Sembuhlah. Karena ia sama sekali tidak layak mengisi pikiranmu berkepanjangan. Ia tidak layak untuk meluakaimu.
KG
Mengapa Kamu Berhenti Menulis?
Orang-orang yang dulu kutahu begitu aktif berbagi kabarnya, kini seperti hilang tanpa sisa. Meninggalkan laman media sosialnya seperti rumah tua. Kebahagiaan yang dulu pernah terpancar di sana, seperti tercerabut.
Entah oleh kesibukan, banyaknya pikiran, atau memang sudah kehilangan kebahagiaan. Entahlah. Sayangnya, aku tidak pernah bisa bertanya. Aku hanya bisa berasumsi, menebak-nebak kemana perginya keceriaan dan kebahagiaan itu.
Apakah realita kehidupan dewasa telah menelan seluruh waktunya? Apakah karena ia tidak menemukan lagi kebahagiaan saat menulisnya? Atau memang, ia sedang tidak baik-baik saja hidupnya? Dan sedang berusaha untuk menenangkan diri sendiri, menepuk-nepuk pundaknya sendiri, menyabarkan hatinya sendiri, dan terus menerus berupaya untuk meneguhkan hati pada jalan yang telah dipilih dan keputusan yang telah diambil. Sekalipun, itu membuatnya kehilangan diri. Berusaha untuk percaya bahwa dirinya berada pada arah yang benar.
Sementara hidup terus berjalan dan waktu berlalu. Bagaimana sebenarnya kabarmu?
masa kecilnya
menerima pasanganmu artinya menerima masa kininya, masa depannya, masa lalunya. tapi yang paling harus diterima adalah masa kecilnya--yang entah sudah sembuh dari semua luka pengasuhan atau belum.
oleh karena itulah kamu benar-benar harus selesai sama diri sendiri sebelum memutuskan untuk menikah. selesai sama diri sendiri itu bukan berarti sudah "nggak bingung" sama hidup, melainkan sudah "sadar" akan adanya luka pengasuhan dan sudah berusaha "sembuh". sudah tahu pola kemunculannya, sudah bisa mencegah ledakannya.
tujuannya? agar semua luka berhenti di kamu saja. sebab setiap orang memikul dosa masing-masing (Al An'am: 164). nggak ada dosa yang diwariskan. tetapi luka pengasuhan seringkali menjadi trauma, baik bagi pasangan maupun keturunan hingga bergenerasi-generasi kemudian.
begitu rupanya. kamu menikah dengan anak kecil yang ada pada diri pasangamu. jika anak kecil itu belum bahagia, akan sulit untuk memenuhi tangki cintanya. jika anak kecil itu sudah menerima, hatinya akan terbuka pula untukmu.
setelah menikah apalagi punya anak, terus-menerus memelihara versi diri yang belum sembuh tidak dapat dimaklumi. sebab menjadi dewasa, selesai, sembuh, adalah sebuah tanggung jawab. menghindarinya tidak hanya adalah pengabaian, tetapi juga kelalaian.
selamat menyelesaikan diri sendiri. semoga Allah menolong kita, menyembuhkan setiap luka. yang terdahulu, yang kemarin, yang masih baru, atau yang belum datang. 🤲🏼
Hilangnya Keberkahan Waktu
Saat dulu masih kecil dan belum punya gadget, jeda waktu dari maghrib sampai isya terasa sangat cukup untuk membaca beberapa lembar Al-Qur'an atau menghafal beberapa ayat. Tapi sekarang jadi terasa sangat cepat dan tak cukup untuk barang membaca beberapa lembar atau menghafal beberapa ayat.
Makin kesini, rasanya waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa tau-tau sudah sebulan berlalu, tau-tau sudah setahun berlalu, tau-tau sudah tiga tahun berlalu. Waktu terasa berjalan begitu cepat, sementara kita masih disini, di tempat yang sama dengan tiga tahun yang lalu.
Barangkali betul bahwa waktu berjalan semakin cepat. Tapi saya belum menemukan penjelasan ilmiahnya. Tapi yang saat ini saya rasakan adalah bahwa keberkahan waktu kita berkurang. Waktu yang sudah kita habiskan terhitung cukup lama, tapi hasil yang kita raih terbilang tidak banyak.
Di zaman kita sekarang, ada banyak sekali kemudahan dibandingkan 100 tahun silam. Transportasi, komunikasi, dan informasi, semuanya begitu mudah. Mau belajar apa aja, gampang nyari sumbernya. Mau kemana aja, tinggal pesen tiketnya. Mau bikin apa aja, tinggal bikin.
Distraction is the suspect. Seiring dengan kemudahan yang banyak itu, muncul pula distraksi (gangguan/pengalih fokus) yang semakin banyak dan beragam. Di gadget android saya ada satu aplikasi Al-Qur'an, tapi ada sekitar lima media sosial dan lima aplikasi instant messaging.
Katakanlah kita punya waktu tiga puluh menit untuk tilawah setelah maghrib, lalu dari tiga puluh menit itu setiap lima sampai sepuluh menit ada notifikasi yang masuk dan kamu membukanya sekitar dua sampai tiga menit. Sudah berapa waktu terbuang dari yang tiga puluh menit untuk tilawah itu?
Belum lagi bicara perihal waktu-waktu luang kita, ada Sp*tify, Y*uTube, dan N*tflix yang sudah siap menunggu. Sudah berapa jam waktu luang kita habis setiap harinya?
Sehari, sehari, jadi seminggu. Seminggu, seminggu, jadi sebulan. Sebulan, sebulan, jadi setahun. Gitu aja terus sampe tua. Lalai sama waktu yang terus berjalan gegara gampang banget teralihkan fokusnya.
Pada akhirnya, mumpung masih Ramadan, mari kita sama-sama belajar untuk berpuasa menahan diri dari distraksi-distraksi yang datang agar waktu-waktu menjadi berkah.
Berkah itu kebaikan yang bertambah-tambah. Waktu berkah berarti waktu yang memberikan kita nilai tambah. Yang mengantarkan kita menjadi semakin produktif dalam kebaikan.
Mampang Prapatan | Taufik Aulia
Dunia memang tidak pernah menjanjikan kenyang.
Ia hanya mahir menyajikan sesuatu yang tampak cukup untuk membuat kita terus mengejarnya. Hari ini mengejar nama, esok mengejar pujian, lusa mengejar rasa aman. Begitu seterusnya.
Anehnya, setiap selesai menggenggam satu hal, hati kembali mengulurkan tangan kepada hal yang lain.
Barangkali bukan karena nikmatnya kurang.
Melainkan karena hati diciptakan untuk mencintai Yang Mahakekal, sementara yang terus kita suapkan kepadanya hanyalah yang fana.
Mungkin itulah sebabnya, semakin dunia dipenuhi, belum tentu dada ikut penuh.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
merawat luka
dalam urusan merawat luka, manusia itu ada dua macamnya. yang pertama, orang yang merawat luka untuk sembuh, menyembuhkan luka. yang kedua, orang yang merawat luka agar lukanya tetap ada, memelihara luka. keduanya sangat beda.
iya, ada orang yang merawat luka agar lukanya tetap terpelihara. pasalnya, luka itu memberikannya “kenyamanan”, memberi alasan-alasan untuk tidak menjadi versi diri yang terbaik. bahkan, memberi alasan untuk bersikap tidak baik dan tidak adil kepada orang lain. terus-menerus, dia merasa menjadi korban. terus-menerus, dia menunggu orang lain untuk “bertanggung jawab” atas luka-lukanya.
merawat luka untuk sembuh itu sangat berbeda. orang yang memang bertekad sembuh, sedari awal, sadar bahwa butuh usaha yang tidak setengah-setengah untuk benar-benar sembuh. dia tahu bahwa seringkali yang harus dia lawan adalah hawa nafsu dirinya sendiri. dia harus keluar dari zona nyaman yang berpusat pada lukanya. dia bertanggung jawab atas dirinya. dia mengamini bahwa sembuh adalah keputusan.
tentu saja, merawat luka untuk sembuh ada ujiannya. perasaan ingin marah lagi, perasaan ingin sedih lagi, perasaan ingin relapse lagi. sesekali ada hal-hal yang membuat diri ter-trigger lagi. mereka tidak bisa dihindari, datang sendiri. saat itulah, kemampuan untuk membedakan trigger dan threat (ancaman) menjadi sangat penting.
semoga Allah menyembuhkanmu, merawatmu, menghapus luka-lukamu, memberimu kebahagiaan yang tidak terbatas, melimpahimu dengan ketenangan yang nyata.
arti menikah - serangkain pertanyaan
kenapa laki-laki harus menikah dengan wanita yang dia cintai?
karena laki-laki akan lebih bersemangat dalam melakukan semua hal jika ada sesuatu yang dia perjuangkan, sebab laki-laki adalah makhluk yang tidak peduli dengan dirinya sendiri. ia berjuang, bertanggung jawab penuh atas apa pilihannya, atas amanah yang ia emban. laki-laki akan terus bekerja seumur hidupnya sebagai tanggung jawabnya ia kepada Allaah.
tapi ada yang lebih utama daripada cinta, yaitu laki-laki yang baik agamanya. dan buah dari tauhid dan akidah yang benar adalah akhlak yang baik.
laki-laki yang baik agamanya itu yang seperti apa?
mengutip nasihat indah dari Imam Hasan Al-Basri rahimahullah, "Pilihlah lelaki yang baik agamanya. Jika marah ia tidak akan menghina, jika cinta ia akan memuliakan"
seperti hari ini, aku memasak, blio bebersih rumah. ingat banget saat waktu proses ta'aruf ibu pernah bilang, "mba Nisa ini nggak bisa pekerjaan rumah loh, mas"
dan blio berkata ke ibu, "iya, nggak apa-apa, Bu. nanti saya bantu mengurus rumah."
aku mendengar dari bilik kamar, hatiku hangat. segala puji bagi Allaah yang menggerakkan hatimu untuk memilihku. dan menuliskan ini adalah salah satu upayaku untuk mengabadikanmu dalam tulisanku. kalau nanti aku membacanya kembali, aku ingin rasa syukurku semakin berlipat kepada Allaah.
"Aku sedih karena ketika keinginanku terwujud, aku sudah tidak menginginkannya."
Barangkali itulah yang disebut oleh Marcel Proust sebagai kutukan. Manusia hanya mencapai sesuatu yang diinginkannya tepat pada saat hasratnya terhadap hal itu benar-benar mati. Implikasinya, keinginan yang dibunuh oleh waktu juga membunuh identitas lama kita. Oh man, I hate what time has done to this.
Waktu merambat begitu lambat sedangkan manusia berubah begitu cepat, sehingga ketika sesuatu yang diinginkan dengan gila-gilaan oleh diri di masa lalu itu baru terwujud bertahun-tahun kemudian, "diri lama" yang menginginkan hal itu sudah tidak ada lagi (too late for joy). Kita menghabiskan hidup mengejar sesuatu yang diinginkan oleh diri kita yang sudah lama mati.
"Apa arti semua perjuangan itu jika aku sudah bukan orang yang sama?"
Proust melihat perubahan diri sebagai alasan mengapa pemenuhan keinginan menjadi sia-sia. Masa lalu telah memberiku tujuan dan masa kini yang membuat tujuan itu terasa asing. Lantas siapa aku sekarang? Jadi ini yang dulu kuanggap akan memberiku kebahagiaan dan kepuasan? Apa yang akan terjadi seandainya ini datang sedikit lebih cepat? Apa yang akan terjadi seandainya aku tidak berubah terlalu cepat? Aku bahkan merasa kesal ketika hidup terus melanjutkan alur ceritanya.
Kita berjuang demi memenuhi keinginan-keinginan kita, tetapi proses perjuangan itu sendiri mengubah kita menjadi orang yang berbeda dari orang yang pertama kali menginginkannya. I hate that the person who wanted this no longer exists.
"Mungkin memang tujuan penundaan itu agar kamu berhenti menginginkannya."
Kabar buruknya kau berubah. Kabar baiknya kau telah berubah. Diri barumu mulai menyadari bahwa kamu tidak membutuhkan hal itu. Justru yang disebut kutukan adalah ketidakmampuan manusia itu sendiri untuk lepas dari keinginan lamanya meskipun dirinya telah berubah. Lihatlah kasih Tuhan yang hendak membebaskanmu dari perbudakan atas keinginan-keinginan tersebut.
Sayangnya kau bisa memahami bahwa suatu keinginan memang harus mati (untuk membentukmu menjadi orang yang lebih baik), dan tetap berduka saat keinginan itu mati. Proust begitu jeli melihat fakta bahwa kita tidak bisa lagi merasakan apa yang dulu kita rasakan. Dalam bukunya, In Search of Lost Time, ia menjelaskan dengan lebih rinci,
Hanya saja, kita harus memberi waktu kesempatan untuk bekerja. Namun tuntutan kita terhadap waktu tidak kalah berlebihan dibanding tuntutan yang diajukan hati agar dapat berubah. Pertama-tama, waktu adalah hal yang paling enggan kita berikan, karena penderitaan kita terasa begitu tajam dan kita sangat ingin melihatnya segera berakhir.
Selain itu, waktu yang dibutuhkan hati orang lain untuk berubah akan dihabiskan oleh hati kita sendiri untuk berubah pula. Akibatnya, ketika tujuan yang dahulu kita tetapkan akhirnya menjadi mungkin untuk diraih, tujuan itu sudah tidak lagi menjadi tujuan kita.
Lagi pula, gagasan bahwa tujuan itu pada akhirnya akan dapat diraih—bahwa tidak ada kebahagiaan yang, setelah berhenti menjadi kebahagiaan bagi kita, tidak dapat akhirnya kita capai—memang mengandung kebenaran, meskipun hanya sebagian kebenaran.
Hal itu jatuh ke tangan kita justru ketika kita telah menjadi tak peduli terhadapnya. Namun ketidakpedulian itulah yang membuat kita menjadi tidak lagi terlalu menuntut. Dan karenanya, ketika menoleh ke belakang, kita dapat meyakinkan diri bahwa hal itu pasti akan membuat kita bahagia seandainya datang lebih awal, padahal mungkin pada saat itu kita justru akan menganggapnya jauh dari cukup dan sangat mengecewakan.
— Giza, beberapa kemenangan mungkin tampak seperti pemakaman. Dan jiwa itu sendiri baru bisa merdeka setelah ia terlebih dahulu berkabung atasnya.
𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 ia mengangkat tangan, ia fokuskan hatinya, kemudian dia meminta kepada Allah, maka pada saat itu ia tengah beribadah dengan ibadah yang 𝘢𝘨𝘶𝘯𝘨.
Pada ibadah ini, nampak kehinaan seorang hamba kepada Rabbul allamin, disitulah nampak ubbudiyah, dia adalah seorang hamba yang tempat ia meminta adalah penciptanya, hal itu sangat nampak saat ia berdo'a.
Pada berdo'a terkumpul berbagai macam ibadah.
Tidaklah seorang hamba berdo'a, kecuali ia husnudzon kepada Allah. Ia yakin Allah akan mengabulkan do'anya.
Tidaklah ia berdo'a, kecuali ia mengetahui bahwa Allah maha mendengar, meski ia berbisik bisik.
Dia tau Allah subhanahu wa Ta'ala maha berkuasa, bisa mengabulkan permintaannya. Jika ia ragu ragu, tidak mungkin ia meminta kepada rabbul allamin.
𝘐𝘯𝘯𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘢 '𝘢𝘭𝘢 𝘬𝘶𝘭𝘭𝘪 𝘴𝘺𝘢𝘪'𝘪𝘯 𝘲𝘢𝘥𝘪𝘳, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dia pun bertawakal kepada Allah subhanahu wa Ta'ala dengan do'anya.
Sehingga berdo'a menjadi ibadah yang paling agung.
Pada kajian "Dahsyatnya Do'a" oleh Ustadz Firanda Andirja hafidzahullah.
Selama seseorang bukan hamba Allah, melainkan hamba nafsunya, semua konsep ketaatan akan dianggapnya asing. Orang yang masih berpegang pada konsep taat pada ketuhanan—nonmuslimpun—akan selalu lebih baik akhlaknya ketimbang mereka yang ketaatannya di lisan saja.
Konsep ketuhanan, apalagi tauhid, akan terikat dengan "akuntabilitas." Manusia sadar bahwa dia lemah dan bukan penguasa nasibnya. Yang gagal menerima konsep ketuhanan, akan memiliki worldview yang double standard; semua disalahkan kecuali dirinya. Jika dia menang, dia merasa berkuasa mengurus nasib yang lebih lemah. Jika dia lemah, dia akan memparadekan kelemahannya itu sebagai salah pihak sebelah. Keduanya memiliki wajah dua, tergantung dengan siapa agendanya. Makanya tak heran ada orang yang amat baik di satu waktu, tapi amat jahat di waktu lain.
Parameter objektif bare minimum untuk muslim adalah penegakan shalat. Tak peduli dia pendosa, jika dia merasa dirinya dan keseluruhan kesibukan dirinya lebih penting dari sepuluh menit bersujud pada Penciptanya, maka hati-hatilah. Penegakan shalat bukan cuma menjalankan saja, ya.
— Kevin Kurnia dalam postingannya di X

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Allah tau segala hal yang tidak baik-baik saja pada dirimu.
Allah tau, dan Allah bisa memahamimu lebih dari siapapun.
Allah yang akan menyembuhkanmu, melapangkanmu, dan menenangkanmu.
Bandung, 18 Juni 2026
@monicasyarah
Aturan Tak Umum
Salah satu aturan di umur dewasa yang kuterapkan secara pribadi adalah berhati-hati membangun hubungan dengan orang yang penuh luka dan trauma dalam hidupnya. Aturan tidak umum ini mungkin tidak bisa berlaku untuk semua orang, bahkan kalau dibaca pelan pun, rasanya kurang empati.
Tidak semua orang memiliki kemampuan mental untuk menghadang nilai-nilai baru dalam hidupnya, terpaksa menerima dan menyerapnya, menjadi bagian dari dirinya. Tidak semua orang mampu begitu saja pergi setelah tahu bahwa nilai hidupnya terpengaruh tanpa ia sadari. Dan itulah yang terjadi.
Orang yang masih hidup dalam luka dan traumanya, ia hidup dengan nilai-nilai yang tumbuh karena trauma itu. Proses pemulihan tidak bisa sehari semalam. Sayangnya, tanpa sadar, nilai yang ia yakini itu dibawa kepada orang lain. Menilai hidup orang lain dengan nilai yang ia yakini.
Tanpa ia sadari, beberapa nilai ia paksakan kepada kehidupan orang lain. Tanpa ia pahami, beberapa orang mungkin akan mengalami disorientasi dalam hidupnya, karena nilai yang selama ia miliki, bercampur dengan nilai baru yang bersumber dari luka hidup orang lain.
Pengingat ini berlaku untuk diriku. Karena bagiku, nilai yang kuyakini akan menjadi keyakinan yang menentukan cara berpikir dan langkah hidupku. Di waktu kemarin, aku pun berbuat salah, karena meyakini nilai-nilai yang salah. Salahnya, aku sendiri kebingungan dan mengalami disorientasi nilai. Makin jauh, aku sadar bahwa aku saat itu bukanlah aku yang aku inginkan dalam hidup.
Meski udah jauh. Aku berhenti. Kini menata ulang lagi semua nilai yang kuyakini, lebih tepatnya, sejak dulu kuyakini. KG