Kalau dahulu, ketika kondisi kita sedang futur—ada teman sesama pembelajar & pengemban dakwah yang 'memegangi kita', ada murabbiyah atau musyrifah yang senantiasa mengecek kondisi kita, ada banyak teman² organisasi/komunitas yang tidak ragu mengingatkan dan menguatkan kita.
Tapi ketika sekarang kita sudah lepas dari dunia kampus dan memasuki arena bermasyarakat dengan status sebagai pekerja maupun telah berumah tangga, pada kebanyakan kasus; kita tak lagi punya 'pegangan' kelompok seperti dahulu.
Disinilah letak UJIANNYA.
Akankah kita masih setia berpegang teguh pada nilai & prinsip yang kita anut dahulu?
Pertama, masihkah kita tetap menutup aurat dengan benar? Masihkah kain kerudung itu kita julurkan hingga menutupi dada?
Masihkah jilbab dan rok itu kita gunakan? Ataukah kini beralih menyamankan diri untuk menggunakan celana saja?
Masihkan pakaian longgar, tidak tabarruj, dan kaus kaki itu kita kenakan ketika berada di luar rumah?
Kedua, akankah rutinitas dan kebiasaan baik melaksanakan amalan yaumiah itu tetap kita kerjakan dikala merasa kesepian dalam lingkungan baru yang heterogen itu menampar kita?
Ketiga, akankah kita tetap bersemangat istiqamah dikala sendirian?
Keempat, akankah godaan untuk bertindak diluar nilai ajaran Islam itu kita lakukan juga dan akhirnya menormalisasi banyak hal?
Kita jadi tidak mengapa menjalin komunikasi intens dengan lawan jenis. Penjagaan kita melemah karena sulit sekali menjadi 'berbeda' dengan prinsip-prinsip 'lama'.
Kita jadi mudah lupa, mudah terlena dan mudah sekali terjatuh karena tak ada lagi pegangan jama'ah seperti dahulu. Tak ada kelompok liqa/halaqah yang menjadi pusat penguat kita. Tak lagi nasehat ustadz/ah itu terdengar ditelinga kita. Tak lagi kajian Islam itu jadi rutinitas mingguan/bulanan lagi.
Terlalu sibuk, terlalu jauh. Tidak cocok jadwalnya. Sudah capek dengan aktivitas sehari-hari. Berbagai alasan bisa jadi pembenaran, dan memang ya sesulit itu realitanya.
Berat kawan. Aku akui. Tidak semudah dahulu untuk "bouncing back" ketika futur melanda.
Lalu harus bagaimana dong?
Aku ingat nasehat Imam Syafi'i,
"Ketika engkau sudah berada di jalan yang benar menuju Allah, maka berlarilah. Jika sulit bagimu, maka berlari kecillah. Jika kamu lelah, berjalanlah. Jika itupun tidak mampu, merangkaklah. Namun, jangan pernah berbalik arah atau berhenti."
Kawan, ingatlah futur itu tanda hati kita masih hidup. Alarm batin kita menyala. Jangan diabaikan.
Ketika hati kita terusik, tak nyaman bila tidak melakukan proses ketaatan lagi, itu adalah sinyal kuat keimanan.
Kembalilah sedikit demi sedikit.
Berusahalah untuk mencari kekuatan seperti dahulu. Datangilah pusat-pusat aktivitas kebaikan yang didalamnya berisi para pembelajar. Kita lebih dari mampu sekarang untuk menentukan langkah karena kita sudah dewasa dan mandiri.
Hidupkanlah naluri pembelajar dalam diri kita, ajak pasangan—bersama-sama kita bertumbuh. Ajak teman terdekat—atau hubungi kawan lama yang baik untuk kembali terkoneksi pada tali ukhuwah Islam.
Kita pasti bisa menemukan lagi 'keutuhan' itu. Minta kemudahan pada Allah. Bergeraklah secara aktif menemukan tempat-tempat dimana Islam itu dibicarakan dan diterapkan hingga lini berkehidupan.
Sehingga futur tak lagi lebih lama menetap. Dan kita lebih mudah bahagia dalam proses ketaatan lagi.
Mari saling berpegangan tangan dari jauh. Kondisi kita bisa jadi sama. Mari lupakan kesalahan-kesalahan yang lalu, kita perbaiki dan upgrade diri sama-sama.
Tangerang, 26 Mei 2026 | 00.24 WIB