Berbuat baik sama orang, sering kali bukan karena mereka pantas atau tidak. Tapi karena kebaikan itu sendiri adalah sesuatu yang Allah sukai. Kita melakukannya bukan untuk balasan, bukan juga untuk dilihat, tapi supaya hati tetap dijaga dan tetap hidup.
Kadang memang membingungkan. Ketemu orang dengan sikap yang rasanya di luar nalar. Perkataan yang menyakitkan, perlakuan yang tidak adil. Sempat bertanya dalam hati, “kok bisa ya?” Tapi lama-lama belajar, tidak semua hal harus dimengerti. Tidak semua perlu dijawab.
Yang bisa dijaga adalah diri sendiri.
Belajar punya batas. Belajar memilah. Tidak semua hal harus masuk ke hati, tidak semua orang harus diberi ruang yang sama. Punya “filter” bukan berarti berubah jadi dingin, tapi justru supaya tetap waras. Supaya luka tidak menumpuk diam-diam.
Di situ, mendoakan jadi cara paling tenang.
Mendoakan mereka yang pernah hadir, meski kehadirannya meninggalkan rasa yang tidak enak. Bukan karena membenarkan, tapi karena kita memilih untuk tidak membawa beban itu lebih jauh.
Dan di tengah semua itu, ada hal sederhana yang sering terlupa adalah bersyukur.
Kadang cukup dengan satu hal kecil hari ini.
Satu momen tenang. Satu napas yang lega. Satu perasaan cukup.
Karena bisa jadi, dari hal kecil yang disyukuri itu, Allah sedang menyiapkan banyak hal besar yang belum kita duga.
Seperti janji-Nya bahwa ketika kita bersyukur, akan ada yang ditambahkan.
Mungkin bukan selalu dari arah yang sama. Mungkin bukan dalam bentuk yang kita rencanakan.
Tapi selalu cukup, dengan cara-Nya.
Dan kalau pada akhirnya harus menjaga jarak, bahkan memilih pergi, itu juga tidak apa-apa.
Tidak semua hubungan harus dipertahankan. Tidak semua orang harus tetap punya akses ke hidup kita.
Yang penting, kita tidak kehilangan diri sendiri. Tidak kehilangan cara untuk tetap baik. Dan tidak kehilangan kemampuan untuk tetap bersyukur, bahkan dari hal-hal yang kecil.