cerpen : siapa yang merokok di sini?
Siang itu salah satu whatsapp group riuh dengan hot news yang ada di kantor. Dengan pertanyaan yang serupa: Siapa yang dimaksud oleh pak Slamet? Dan dua puluh orang yang bergabung di dalam grup tersebut satupun tidak tahu akan jawabannya.
“Coba bro @Deras bisa update? Kan tadi pagi kalian habis meeting bareng?” tanya Jamal bagian HR sambil tag namaku yang kebetulan telat membuka chat group dan sama sekali tidak menyimak apa yang sedang dibahas di sana. Karena aku memang baru sampai kembali ke kantor.
“Kalian bahas apa sih? Sorry baru sampai kantor.” Jawabku masih menyimak.
“Itu loh story wa pak Slamet, udah lihat belum bang @Deras?” kata Dian bagian team kreatif ikut menjelaskan. “Lagi heboh nih di ruangan team kreatif.”
Emang pak Slamet update status apa? Tumben. Pikirku. Karena setahuku Pak Slamet jarang sekali update status, kecuali saat moment-moment tertentu. Semisal hari libur Nasional. Itu juga hanya ikut membagikan template ucapan selamat yang dibuat tim kreatif. Semisal Selamat Hari Lahir Pancasila. Dan hari ini bukan momentnya.
Buru-buru aku buka history untuk mencari status pak Slamet yang dimaksud oleh rekan kerjaku.
......................................................................................
“ATTENTION!
Bagi siapa yang masih suka MEROKOK di dalam TOILET UMUM. Kalau sudah tidak punya OTAK untuk BERPIKIR, minimal punya ETIKA untuk BERBUAT!!!”
......................................................................................
Waduh, aku ikutan penasaran siapa oknum yang dimaksud oleh pak Slamet. Tadi pagi aku memang mendampingi beliau ketemu client di luar. Tetapi kami tidak kembali ke kantor bersama, karena aku harus ke kantor cabang untuk mengurus alokasi minggu ini. Dan suasana meeting tadi pagi cukup kondusif.
......................................................................................
“Bagi OKNUM yang dengan sengaja MEROKOK pada pukul sekitar 12.00 – 12.15 di dalam toilet bilik ke-2 gudang utama pada hari ini. Bila tidak ada i’tikad baik mengaku dan bertanggung jawab atas perbuatannya dalam 1x24 jam ke depan. DEMI ALLAH saya SLAMET RAHARJO tidak akan ridho atas perbuatannya dunia akhirat. Terima kasih.”
......................................................................................
Aku menghela napas saat selesai membaca status pak Slamet yang kedua. Pantes saja di grup tadi heboh sekali. Rupanya ini memang serius. Kenapa begitu? Pak Slamet ini salah satu atasan kami yang orangnya terkenal sangat santun, bijaksana dan sabar sekali orangnya. Dan hampir semua karyawan di sini pernah dibantu oleh beliau, karena memang ringan tangan dan baik sekali ke semua orang. Baik dalam urusan-urusan yang berkaitan dengan urusan kantor maupun urusan pribadi kami.
Makanya kami sebagai bawahan ataupun rekan kerja beliau sangat berhati-hati agar tidak membuat orang sebaik beliau sampai marah. Bukan karena kami takut dimarahi, tetapi karena kami segan. Kami yang tahu diri untuk menjaga hal itu.
“Duh, kira-kira siapa ya yang berani-beraninya merokok di toilet kantor?” aku melemparkan pertanyaan serupa di grup.
“Ye... telat banget ini orang.” Jamal menggerutu.
“Hahaha.... kita mah lagi nungguin update dari Mas @Deras malah nanya balik.” Kata Ryan bagian kreatif.
Aku menyeringai.
“Kayaknya, supir pengiriman deh, pak. Hari ini kan toilet di gedung gudang lagi diperbaiki. Jadi sopir-sopir pada ke gedung utama.” Kata Dimas bagian kasir sales menimpali.
“Tolong bilangin ke satpam yang jaga ya, @Dimas. Sopir arahin ke toilet kantin aja untuk sementara. Jangan ke gedung utama.” Kataku mencari solusi terbaik. “Nanti saya coba diskusi ke Pak Slamet juga deh.”
“Baik pak @Deras saya langsung ke pos satpam.”
“Iya coba bro @Deras cari tahu, ditunggu updatenya hehe....” Jamal menimpali lagi.
“Thanks @Dimas. Siap bos @Jamal delapan enam.”
***
Setahuku pak Slamet bukan type yang intoleran terhadap perokok. Selagi memang pada tempatnya. Karena beliau pernah cerita dulu juga sempat menjadi perokok aktif ketika masih muda. Tetapi Alhamdulillah sudah bisa berhenti untuk mengkonsumsi nikotin itu tiga tahun ke belakang. Dan sudah lumrah juga, di setiap perusahan pasti akan lebih banyak perokok aktif dibanding dengan yang tidak merokok. Apalagi perusahan kami sebagai perusahaan distributor memang setiap harinya akan banyak orang yang berlalu lalang keluar masuk mengambil barang ataupun dari ekpedisi pengiriman.
Maka, jika sampai beliau membuat status seperti itu, ini artinya memang sudah keterlaluan. Dan aku makin penasaran untuk mendengar cerita lengkapnya dari beliau. Maka, aku putuskan untuk langsung menemui beliau di ruangannya, kebetulan memang ada report yang harus aku setorkan sore ini.
“Permisi, Pak.” Aku mengetuk pintu dengan sopan, setelah memastikan pak Slamet memang ada di ruang kerjanya.
“Oh, Deras, masuk.” Pak Slamet dengan ramah mempersilakan masuk sembari jemarinya tetap sibuk mengetik di atas keyboard. “Gimana alokasi minggu ini, aman?”
“Alhamdulillah, pak proposenya sudah dibuat sesuai estimasi yang tadi pagi kita bahas.” Aku menyodorkan laporan.
“Mantap. Seharusnya bulan ini kita bisa growth lebih dari bulan lalu. Semoga lancar ya.”
Aku mengangguk setuju.
“Pak Slamet tumben bikin status, pak. Hehe... “Tanyaku tanpa basa-basi.
“Kenapa? Status saya bikin heboh, ya?” Pak Slamet menyeringai.
“Bukan heboh lagi pak, tapi gempar se perusahaan ini.” Kataku mengkonfirmasi apa yang sedang menjadi hot news.
“Iya tadi pak Andre sampai nelpon saya. Dikira saya ada apa, taunya cuma nanya saya apa baik-baik saja, habis itu beliau basa-basi menyinggung status saya.” Pak Slamet menghela napas teringat tadi atasannya menelepon.
“Bayangin aja, Deras. Saya buru-buru kembali ke kantor setelah meeting tadi. Karena sudah kebelet, eh pas sampai sini toiletnya ngebul. Macam habis ada yang bakar sampah. Nggak ada etikanya itu orang.”
“Waduh, parah, pak.” Kataku mengiyakan kalau memang perbuatan tersebut benar-benar tidak beretika. Apakah oknum yang merokok tersebut sampai tidak bisa menunda kebutuhannya ya, sampai di dalam toilet pun yang notabene-nya sebagai tempat yang tidak baik untuk makan, ia tidak bisa bersabar sebentar. Itupun kalau rokok bisa dikategorikan sebagai makanan.
“Saya sudah minta team GA untuk cetak spanduk denda larangan merokok di lingkungan kerja, pak. Termasuk toilet dan kantin dalam. Yang diperbolehkan hanya di luar gerbang kantor atau di area kantin luar.” Kataku memberi laporan.
“Sip, bagus tuh. Meskipun saya membuat status bukan bermaksud untuk itu. Hmm... sebagai makhluk sosial, seharusnya kita semua punya yang namanya etika dasar dalam bersosialisasi. Tanpa harus dibuat larangan ini atau larangan itu. Tidak dibebani dengan denda ini dan denda itu apabila melanggar. Karena sebagai manusia seharusnya kita punya kesadaran diri untuk menjaga lisan maupun perbuatan kita agar tidak mengganggu atau bahkan merugikan orang lain. Kalau sampai orang lain tidak ridho dengan perbuatan kita bagaimana? Berat loh konsekwensinya jika tidak dapat maaf dari yang bersangkutan.”
“Masya Allah, betul sekali, Pak. Hal itu yang sering banget kita abaikan.” Kataku menggangguk setuju.
“Karena hidup ini adalah rangkaian sebab-akibat. Jangan-jangan hari ini kita merasa susah, lagi sial, tiba-tiba dapat kemalangan, itu gara-gara rasa kesal orang lain yang tidak sengaja kita buat susah duluan. Yang udah kita buat hidupnya tidak nyaman karena perbuatan kita. Jangan-jangan doa mereka yang lebih dulu didengar. Dan Allah Maha Adil untuk membalaskannya.”
“Tapi Pak Slamet sudah tahu kira-kira siapa yang siang tadi merokok di toilet?”
“Allah yang Maha lebih Tahu.” Pak Slamet tersenyum mengakhiri diskusi.
Aku kembali ke meja kerja dengan membawa peringatan untuk diriku sendiri. Agar lebih berhati-hati dalam berbuat, dan lebih bijak dalam berucap.
***
“Gimana bro @Deras udah ada update belum?” Jamal kembali tag namaku di grup.
“Duh, semoga aja selamat dunia akhirat dah tuh orang. hehe....” kataku menimpali.
“Waduh.”
@azurazie_













