Ketika Tuhan membagi waktu menjadi pagi,siang,sore, dan malam hari, hanya subuh yang memdapatkan waktu paling pendek, setengah jam. Akan tetapi subuhlah yang memulai semua proses. Subuh menikmati waktunya dengan menghadirkan keindahan dan kehidupan yang tidak bisa diberikan oleh pagi, siang, sore, dan malam. Subuh menampilkan warna langit paling indah sebelum matahari kembali ke panggung waktu. Subuh menurunkan setetes embun ke atas tana, dan dengan embun itu tanah bisa memekarkan setangkai bunga, lalu dengan setangkai bunga itu ia bisa menghidupi seekor lebah, dengan seekor lebah itu bisa membuat sesendok madu, lalu dengan sesendok madu seseorang bisa memulai aktifitas dengan energi yang cukup.
Dengan energi yang cukup, orang bisa menyisihkannya untuk menganugerahkan cinta kepada orang lain yang dikasihinya. Lalu dengan cinta yang ada, setiap manusia di muka bumi bisa bergandengan tangan dengan damai, saling menyayangi dalam keindahan dan aturan, saling menghargai dan tidak perlu ada perang yang membunuh umat manusia. Bisa kita bayangkan manfaat setetes embun?”
Dan semua itu berawal dari kesetiaan subuh menghadirkan kehidupan di dunia ini.
Apalah gunanya pagi bila subuh tidak ada? Subuh menerima waktu sempitnya dengan memberikan keindahan tak terbayangkan oleh seluruh makhluk hidup yang ada di dunia ini. Jika ingin belajar tentang kesetiaan, belajarlah pada subuh.