Kita masih terdiam, dan merasa asing untuk satu sama lain. Tak ada yang membuka perbincangan untuk memecah keheningan yang sedari tadi membatasi. Karena ini mungkin kali pertama aku dan kamu bisa duduk bersama dalam satu meja. Dan mungkin juga akan jadi yang terakhir. Sebab setelah ini tak ada lagi media tegur sapa tanpa duga yang disebut sekolah. (duatigadesember)
Malam ini, kuberanikan diri untuk sekadar melempar senyum, seraya menoleh ke arahmu. Aku tergugu, lidah ini terasa kelu untuk melantarkan kata sapa kepadamu. Andai saja kau tau bahwa selama ini ada yang diam-diam memperhatikanmu dari setiap sudut sekolah. Yang hanya mampu menatap dari kejauhan, bahkan mungkin tanpa pernah kau lihat sedikit pun. Aku; sosok yang kerap kali dengan lirih menyerukan namamu, bersama dersik dedaunan kering yang siap jatuh diterbangkan angin. (hujankopisenja)
Dan inikah akhir bingkai cerita yang kita ciptakan begitupun dulu kau mau,
Tak kau mengertikah dengan sangat, saat begitu letihnya malam terus mencoba mempertahankan indah argumentasi kita,
Biarpun kesejukannya mengajakmu memeluk tubuhmu sendiri,
Berterimakasihlah, saat malam memanggilmu menari di semesta,
Di atas sana, melayang layang, sampai tak sadar, kau kerutkan dahimu, dan saat itu tak sengaja kau kenang beberapa kebodohan milik kita. (badutcerdas)
Malam ini semesta merestuiku dengan memberi sempat untuk menatap matamu sekali lagi. Mata yang tak akan lagi ku tatap untuk waktu yang lama. Aku akan pergi. Bukan dari sampingmu. Melainkan dari daftar orang-orang yang paling mencintai dirimu. Bukan ku tak lagi menjatuhkan pilihan padamu. Melainkan kau terlampau tinggi untuk kuraih. Terlampau jauh tanganmu untuk kuraih. Kau terlalu sempurna untuk seorang pengecut sepertiku. Maaf ya. Aku tak seteguh itu dalam menaruh harapan padamu. Sudah terlalu lama aku bersikeras untuk mempertahankan rasa dan memanjakan rindu ini. Sudah berkali-kali aku ditampar kenyataan bahwa aku tak memiliki tempat di hidupmu. Sekarang saat tamparan semakin keras menampar. Aku memilih mundur. Ku serahkan ruang perjuangan pada mereka yang pantas mendapatkanmu. Aku pergi. (pemahatrasa)
Aku pergi membawa semua rasa yang ini, rasa yang tak pernah kurencanakan sama sekali, bahwa pertemuan pertama dengan mu, membuat aku mengenal getar- getar dalam dada, yang disebut cinta,
cinta pertama pada pandangan pertama,yaa itu yang kurasa 3 tahun ini, sejak hari pertama sekolah hingga kini masa putih abu- abu kita usai, tak pernah sedetikpun kau luput dari ingatan, walau aku tahu, dihidupmu aku tak layak mendapatkan tempat, aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan, dari sudut lapangan basket itu, atau hanya saat upacara. memandangi pipimu yang merah padam saat panas mentari membakar kulit mu, atau hanya melempar senyum saat kita tak sengaja berpapasan di perpustakaan sekolah kita. kini, masa putih abu- abu kita usai, aku mundur dari semua ini, karena hidup terus berlanjut, kamu aku kenang dalam bingkai indah masa putih abu- abuku. walau tak seindah yang lain, tapi untukku, semua indah, walau sakit nya rindu masih getir kurasakan, namun Tuhan begitu baik sudah memberikan aku hadiah terindah di malam perpisahan itu, aku tetap akan mengenang mu seindah itu. (keyshawidya)
Ternyata luka yang kamu berikan terlalu sakit, untuk aku rawat. Biarkan aku menyendiri di sini. Berikan aku waktu untuk memperbaiki hati ini, agar aku bisa mewujudkan rasa untuk bersamamu lagi suatu saat nanti. (Adilah)