“Do'a yang Retak di Penghujung Hari”
Malam selalu tahu bagian mana yang paling sulit disembunyikan—saat sunyi tak lagi menenangkan, tapi justru membuka satu per satu yang selama ini ditahan,
Di titik itu, hidup terasa sesak dengan cara yang tak bisa dijelaskan, seperti dada penuh oleh hal² yang tak pernah selesai—dosa yang berulang, langkah yang kembali salah, dan penyesalan yang datang terlambat,
Ada lelah yang tak terlihat, lahir dari berjalan terlalu lama sendirian.
Dua tahun terasa seperti lorong panjang tanpa pegangan, setiap hari dilewati dengan sisa tenaga yang makin menipis, namun tetap dipaksa lanjut… entah untuk apa. Dan di antara semua yang berantakan itu, muncul satu keinginan yang terasa hampir memalukan—bukan untuk dipahami sepenuhnya, hanya…ingin didekap tanpa ditanya apa². Seolah ada yang datang pelan, tak terkejut oleh segala yang hancur, tak mundur oleh segala yang belum selesai, lalu menetap cukup dekat untuk berbisik, memeluk dengan hangat “Aku di sini, sayang… aku di sini.” Sesederhana itu, tapi terasa sejauh langit dari genggaman.
Sebab jauh di dalam, ada suara lain yang lebih keras—yang terus mengingatkan betapa tak layaknya berharap, betapa semuanya mungkin hanyalah akibat dari do'a lama yang pernah diucapkan tanpa benar² memahami,
Jika memang ini jalan yang pernah diminta, kenapa terasa seperti tersesat di dalamnya?
Sering kali ingin berhenti saja. Menyerah terdengar lebih jujur daripada terus berpura-pura,
Anehnya, setiap kali benar² ingin runtuh, selalu ada sesuatu yang menahan—bukan keyakinan yang utuh, bukan harapan yang besar, hanya sisa kecil yang tak mau padam, yang terus berbisik lirih:
meski harus tersungkur berkali-kali.
Mungkin, di ujung malam yang paling retak itu, ketika semua do'a tak lagi terdengar utuh, masih ada kemungkinan kecil— bahwa suatu hari nanti, akan ada yang benar² datang, bukan untuk menghakimi, hanya untuk tinggal, menyederhanakan sesak yang terlalu lama dipikul sendiri, dan sekali saja, menggantikan semua suara bising di kepala itu dengan satu kalimat:
“Aku di sini, sayang… aku di sini.”