Kepala ini terlalu berisik.
Tak pernah benar-benar diam. Selalu ada percakapan yang tak selesai, saling bersahutan, saling menyangkal, lalu berakhir memengaruhi hati.
Rasanya seperti hidup dengan dua kepala dalam satu tubuh.
Yang satu sibuk meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Yang satunya lagi terus membisikkan segala kemungkinan buruk yang bahkan belum tentu terjadi.
Katanya, hidup itu seperti roller coaster. Naik, turun, melaju, lalu berhenti sejenak sebelum kembali dipaksa bergerak.
Tapi bagiku, hidup lebih mirip jungkat-jungkit.
Selalu ada satu sisi yang harus mengalah agar sisi lainnya bisa merasa lebih tinggi.
Lucunya, saat berada di atas aku takut terjatuh. Saat berada di bawah aku sibuk berharap segera naik.
Di mana pun posisinya, tetap saja melelahkan.
Mungkin karena selama ini aku terlalu sering menoleh ke arah orang lain. Mengukur langkahku dengan langkah mereka. Menganggap apa yang kulakukan tak pernah benar-benar cukup.
Padahal, siapa tahu...
yang kumiliki hari ini bukan sekadar "cukup", melainkan memang sudah menjadi versi terbaik dari diriku yang sekarang.
Sampai hari ini pun aku masih belum tahu bagaimana cara mendefinisikan hidup.
Apakah ia sebuah permainan yang tak pernah memberi petunjuk, sebuah teka-teki yang jawabannya terus berubah, atau puzzle yang sengaja kehilangan beberapa keping agar kita mau mencarinya.
Mungkin hidup memang bukan tentang menjadi utuh sejak awal.
Mungkin hidup hanyalah perjalanan panjang untuk memungut kembali bagian-bagian diri yang pernah hilang, lalu belajar menyusunnya tanpa tergesa-gesa.
Di kota ini, aku bertemu banyak manusia.
Ada yang hanya singgah. Ada yang datang lalu pergi. Ada pula yang, tanpa pernah berniat apa-apa, justru membuatku melihat diriku sendiri dengan lebih jujur.
Dan mungkin, itu sebabnya setiap pertemuan tak pernah benar-benar sia-sia.
Karena pada akhirnya, manusia bukan selalu hadir untuk menetap. Kadang, mereka hanya datang untuk memperkenalkan kita pada diri sendiri.
Tanjung Pinang,
30 Juni 2026
Lunarein_NH













