Kemarin, semuanya kumat lagi.
Biasanya, sehebat apa pun reaksi tubuhku, aku masih bisa mengendalikannya. Masih bisa menahan, masih bisa merapikan apa yang berantakan sebelum siapa pun sempat melihatnya.
Tapi semalam berbeda. Semuanya terlalu kacau. Terlalu berantakan. Sisi gelap yang terlihat itu tidak menyenangkan. Maka, bisakah kita lupakan saja? Anggap tidak pernah terjadi.
Semua bentuk emosi keluar sekaligus. Berisik sekali. Kukira semuanya sudah tenang, tetapi kalimat-kalimat itu masih terus menghantui. Aku berjalan, melangkah dengan jiwa yang dingin, sementara tubuhku gemetar pelan.
Merapikan rumah yang berantakan itu mudah. Benda-benda yang berserakan masih tahu bagaimana cara kembali ke tempatnya. Tapi merapikan jiwa yang kacau jauh lebih sulit. Sebab ada hal-hal yang bahkan tidak tahu harus diletakkan di mana.
Dan di tengah semua itu, aku hanya berpikirāsedikit saja, tak ada yang bertanya kabarku.
Jika kehilangan pekerjaan terlihat rendah, biarlah.
Jika keputusan yang kuambil demi menyelamatkan diriku sendiri terlihat payah, biarlah.
Jika semua usaha yang selama ini kulakukan sering kali tak terlihat, biarlah.
Jika pengorbananku juga tak pernah tampak, baiklah.
Tak apa-apa.
Aku hanya tidak ingin siapa pun melihat sisi gelap itu lagi.
Tidak perlu tahu betapa berisiknya malam tadi.
Tidak perlu tahu betapa keras aku berusaha tetap berdiri.
Tidak perlu tahu betapa dinginnya jiwaku yang kuajak berjalan dengan tubuh yang gemetar.
Aku tidak ingin menjelaskan semuanya. Aku hanya ingin mengatakan satu hal:
Aku aman.
Aku tenang.
Aku baik-baik saja.
Dan meskipun suaraku nyaris tak terdengar,
aku ada.
Aku masih ada.














