âRetak yang Dipelihara-2â
Pondasi rumah itu memang sudah lama retak, bukan hari ini, bukan kemarinâkeroposnya tumbuh pelan, diam², dimakan waktu dan sesuatu yang terus dibiarkan,
Retaknya tak lagi halus, ia menjalar ke setiap sudut, memecah dari dalam sunyi, tapi menekan,
Dinding masih berdiri, atap masih menggantung di tempatnya, seolah semuanya utuh, padahal di dalamnya, udara terasa sesak oleh keputusan² yang lebih memilih luka daripada kejujuran,
Ada yang dipeluk meski ia melukai, ada yang dibiarkan menanggung meski ia tak bersalah,
Benar dan salah diputar arah, hingga yang runtuh bukan hanya tembokâtapi juga rasa percaya, tak ada yang mau merendah untuk memperbaiki, tak ada yang sudi mengakui ada yang keliru,
Ego berdiri paling tinggi lebih kokoh dari tiang mana pun yang pernah menopang rumah ini, dan pada akhirnya berdiri di ambang runtuh dengan napas yang tersengal di dalamnya,
Mungkin masih ada yang akan bertahan, mengais puing, menahan perih, mencoba membangun ulang meski tangan gemetar,
Atau mungkin, akan ada yang memilih pergiâbukan karena tak peduli, melainkan karena ingin menyelamatkan sisa diri yang masih bisa dibawa,
Lucunya, di tengah reruntuhan ini masih terselip tawa yang terdengar ringan, padahal di belakangnya semua menumpuk diam², tanggung jawab yang tak kecil, juga jalan yang semakin sempit,
Dan yang paling ganjil, tak ada yang benar² bisa disalahkan selain diri sendiri yang tetap berdiri di sini,
Hahahahaâkadang terdengar seperti lepas, padahal mungkin hanya cara lain untuk tidak benar² runtuh lebih dulu, sampai akhirnya bertanyaâperlu tetap di sini, atau pergi?,