Aku ingin dirimu bahagia #6 (Terakhir)
Satu minggu berlalu. Hari Sabtu. Pagi hari. Airi sedang menikmati waktunya sendiri membaca buku di kamarnya. Sementara aku baru saja menyelesaikan pekerjaan cuci piring sehabis sarapan bersama Airi. Ketika aku sedang mengelap tanganku yang basah, nada dering hpku berbunyi. Saat aku mendekat, hendak mengangkat telepon itu, aku terdiam mematung. Fatih. Nama itu muncul dalam layar hpku. Fatih yang menelpon. Semenjak pertemuanku dengan Nami di kafe itu, aku dan Fatih tidak saling bertemu maupun saling menghubungi. Teringat kalimat-kalimat yang diucapkan Nami, aku ragu untuk mengangkatnya.
Apa yang harus kukatakan? Pura-pura berbincang seperti biasa? Menanyakan kegiatan untuk minggu ini bersama Airi apa?
Terlalu lama ragu untuk mengangkatnya, hpku berhenti berbunyi.
Hah... aku menghela napas lega.
Tapi rasa lega itu tidak berlangsung lama. Nada dering hpku berbunyi kembali. Muncul nama yang sama.
Aku panik. Langsung berjalan memasuki kamarku dan menutup pintunya. Takut terdengar oleh Airi.
Aku menarik dan melepas napas panjang sebanyak 3 kali untuk menenangkan diri. Kemudian aku mengangkat teleponnya. Walaupun sudah melakukan pernapasan panjang, jantungku masih berdebar keras.
"Han, aku udah ditabok sama Nami."
Mendengar kalimat itu, tak sadar aku menahan napas. Mengerti apa maksudnya.
"Kamu ga perlu jawab apa-apa disini. Cukup dengerin saya aja. Sebelumnya saya mau izin berbicara formal dulu ya, sepertinya akan lebih nyaman."
Aku terdiam. Meski kutau dia tidak bisa melihat, aku menganggukkan kepalaku sekali, tanda mengerti. Kedua tanganku menggenggam hp. Seakan tidak mau ada yang tertinggal atau tidak terdengar.
Haa... terdengar suara tarikan dan hembusan napasnya dari hpku. Sepertinya dia sama gugupnya denganku. Atau mungkin lebih ya? Suara salamnya tadi terdengar bergetar.
"Saya mau melamarmu, Han. Saya mau Hana jadi istri saya."
"Saya kira kamu udah bisa menduganya dengan perilaku saya selama ini.
"Karena kamu bunda Airi. Kalau Hana mau tanya kenapa, itu alasan saya.
"Saya ingin menikah dengan perempuan yang bisa mendidik anak-anak saya nantinya. Kalau kamu bisa mendidik Airi sebaik itu, dan kalau kamu bisa sesayang itu sama Airi. Saya yakin kamu bakal melakukan hal yang sama untuk anak-anak saya dan kamu nanti.
"Pertama kali ngeliat Airi, saya bisa liat gimana Airi sayang banget sama bundanya. Saya tau kita sama-sama masih kurang untuk jadi orang tua Airi. Saya mau kita belajar bersama. Saya mau nanggung beban itu bersama.
"Saya ga akan tanya masa lalumu, Han. Tapi saya bisa mengira-ngira gimana perlakuan suamimu terhadapmu dulu, sampai kamu ga bisa egois untuk dirimu sendiri.
"Saya bersumpah, InsyaaAllah, ga akan main tangan kepadamu maupun Airi.
"Hana ga perlu jawab langsung. Gausah buru-buru. Ambil waktumu seperlunya."
Fatih menutup teleponnya.
Aku terdiam. Larut dalam pikiran. Menikah lagi?
Jika ditanya apakah aku menyesal atau tidak, telah menikah dengan Ivan, aku tidak menyesal. Karena dari pernikahan itu aku bisa mendapatkan Airi.
***
Malam itu Airi memasuki kamarku.
"Bunda, hari ini Airi boleh tidur di sini?"
Aku bergeser, meluangkan tempat untuk Airi tidur. Airi memanjat tempat tidurku, yang sedikit tinggi untuknya.
"Bunda matiin lampunya ya."
Kami berdua sudah berbaring bersama menghadap langit-langit kamar. Aku memejamkan mataku untuk siap tidur. Sambil memikirkan kalimat-kalimat tadi pagi. Tiba-tiba Airi memiringkan badannya ke arahku dan memelukku. Aku pun memiringkan tubuhku, membalas pelukannya. Membelai rambut panjangnya yang lembut.
Setelah beberapa menit, Airi menolehkan kepalanya yang tadinya tenggelam dalam pelukanku. Kini menatap wajahku. Suasana kamar sudah remang tapi aku masih bisa menatap wajahnya. Begitu pula sebaliknya.
"Kalau memang Bunda suka sama paman, Airi akan dengan senang hati terima paman jadi ayah."
Aku terdiam. Sepertinya Fatih sudah pernah menyinggung hal ini kepada Airi.
Aku mengangguk pelan. "Makasih ya sayang."
Kemudian kami berdua terlelap.
Dini hari aku terbangun. Berniat untuk sholat tahajud dan istikharah. Berharap mendapat petunjuk dari-Nya. Jam menunjukkan pukul 02:36. Airi masih pulas dengan tidurnya.
Setelah berwudhu dan memakai mukena, aku menggelar sajadah empuk di kamarku dan memulai sholat dengan khusyuk. Menenangkan diri dan hanya berharap kepada-Nya.
Dalam sujud terakhirku aku berdoa.
Ya Allah, kalau mengikuti hati, aku sudah tau jawabannya.
Kalau mengikuti pikiran, aku sudah tau jawabannya.
Hamba meminta kepada-Mu, arahkan kepadaku jawaban terbaik dari-Mu.
Selesai sholat, aku membaca doa sholat istikharah dan menangis. Mengharapkan jawaban semata-mata hanya dari-Nya.
Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah dengan pengetahuan-Mu, aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan sementara aku tidak mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib.
Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam bagi agamaku, kehidupanku, akhir urusanku, duniaku, dan akhiratku, maka takdirkanlah hal tersebut untukku. Mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, akhir urusanku, duniaku, dan akhiratku, maka palingkanlah aku darinya dan palingkanlah dia dariku. Takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya. Sesungguhnya engkau Yang Maha Bisa atas segala sesuatu.
Aku keluar kamar menuju ruang tamu tanpa melepas mukenaku. Aku mengambil mushaf Al Quran dan membukanya secara acak. Hatiku merasa terketuk. Yang terbuka adalah Surah An-Nahl ayat 72.
“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri, menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik-baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?”
Ya Allah, apakah ini jawaban terbaik-Mu untukku?
Aku sudah mandi dan selesai mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. Kemudian dengan hpku dalam genggaman, aku memasuki kamarku. Hendak menelpon Fatih untuk menjawabnya.
Seperti biasa aku menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Untuk menenangkan diri. Tapi suara detak jantungku tetap terasa.
Tuuut... Nada sambung pertama. Telponku langsung diangkat oleh Fatih.
Kami berdua terdiam. Fatih menunggu jawabanku.
"Sebelumnya ada yang aku mau tanyain, Tih.
"Aku kan janda dengan 1 anak. Apa keluargamu bisa nerima aku dan Airi nantinya?" Tanyaku.
"Aku udah bicara ke mereka. Dan ibuku juga janda dini. InsyaaAllah mereka udah mengerti. Kalian tinggal datang membawa diri aja."
"Kalau gitu, aku jawab iya dengan senang hati."
"Alhamdulillah. Makasih banyak, Han. Aku tau, mungkin ini bisa jadi jalan yang sulit. Aku mau menjalaninya bertiga. Dan aku yakin dibalik itu, ada kebaikan yang yang ga kalah indahnya."
Keesokan harinya, menjelang subuh, aku membangunkan Airi untuk sholat subuh. Kami sholat berjamaah.
Seusai sholat, berdzikir, dan berdoa, aku mengatakan kepada Airi, "Airi. Bunda mau diimamin sama paman fatih. Airi mau juga jadi makmumnya paman fatih?"
Airi tersenyum girang dan langsung memelukku. Aku ikut tersenyum senang dan membalas pelukannya.
Ini adalah kejadian yang baru kuketahui setelah 1 tahun menikah dengan Fatih.
Hari itu Fatih pertama kali datang ke rumahku, berjumpa dengan Airi dan membuat layangan bersama. Saat itu aku meninggalkan mereka berdua dan pergi ke dapur. Mereka banyak bertanya satu sama lain untuk mengenal lebih dekat.
"Paman sekarang kerja sebagai dokter."
"Sama-sama dokter.. Tapi bunda dokter gigi. Kalau paman dokter anak. Airi kalau sudah besar mau jadi apa?"
Airi terdiam sejenak. Tangannya sibuk untuk menempelkan kertas minyak layangan ke lidi bambunya.
"Airi ingin menjadi ibu seperti Bunda."
P.S. Terima kasih kepada teman-teman career class yang sudah membuat kesempatan ini dan teman-teman yang sudah membaca tulisan saya, mendorong saya untuk melakukan hal baru, yang akhirnya menjadi salah satu hal yang saya sukai.
Semoga tulisan saya dapat memberikan manfaat, sedikit hiburan, terutama untuk para single mom, yang senantiasa berjuang untuk anaknya.