Berteman dengan โInsecuritiesโ
Merasa insecure (meragukan diri sendiri) itu kadang-kadang perlu juga. Dengan takaran yang pas, insecurity malah bisa berguna. Seperti kata dr. Gerald Stein di blognya:
โHow can something bad be something good? The answer: in moderate doses. We all benefit from a bit of insecurity.โ
Insecure adalah salah satu wajah dari rasa takut. Sementara rasa takut punya manfaat dan tujuan: memberi sinyal agar kita meningkatkan keamanan. Memberi tahu bahwa kita mesti berhati-hati.
Lawan insecure itu overconfident, yang mana ngga sehat juga. Titik moderatnya bisa tercapai kalau kita tambahkan sejumput insecurity dalam mangkuk percaya diri kita.
Jadi, alih-alih mengutuki diri sendiri karena terus menerus merasa insecure, coba kurangi dosisnya sedikit lalu lihat itu sebagai sesuatu yang berguna. Jadikan itu alat untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Jadikan itu sebagai dorongan untuk maju.
Beberapa kegunaan perasaan insecure:
1. Membuat kita lebih realistis. Karena insecurity membuat kita mampu melihat risiko dan ancaman. Kita pun jadi bisa lebih awal mengantisipasinya.
2. Memudahkan untuk berempati dan rendah hati. Pada kadar yang moderat, insecurity membuat kita sadar bahwa diri kita โbukan siapa-siapaโ. Gunanya, kita jadi ngga meninggikan diri di depan orang lain.
Kita pun bisa lebih jernih melihat ketidaksempurnaan manusia, yang dengannya kita jadi lebih mudah berempati pada orang lain. Tidak mudah menghakimi, toh kita semua tidak ada yang sempurna.
3. Mendorong kita agar terus belajar. Kalau kata Steve Jobs, stay foolish, stay hungry. Karena dengan menjadi bodoh, kita ngga akan berhenti belajar.
Intinya, insecurity membuat kita bertanya pada diri kita sendiri,
โApakah ini hal terbaik yang bisa aku lakukan?โ
โApa yang harus aku perbaiki?โ
โApa yang harus aku lakukan kalau aku ngga berhasil?โ
Insecurity itu semacam suara di kepala kita yang menjadi pemandu. Seringkali ia juga mengingatkan kita bahwa ada tujuan yang kita perjuangkan.
Sama seperti kesedihan yang harus diterima sebagai bagian dari hidup, sebagai emosi yang wajar dan justru berguna, demikian pula perasaan insecure. Menerima dan mengakuinya adalah bagian penting dari proses pengelolaan diri, proses belajar, proses bertumbuh.