#EducationCorner-1
Pada suatu acara sarasehan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X, Gusti Bimo pernah mengungkapkan kalimat "Membenahi satu generasi dimulai dari membenahi keluarga". Kalimat ini bagi saya sangat tepat, karena keluarga adalah fondasi utama pembentuk karakter. Cara mengubah dan memperbaiki tatanan masyarakat harus berakar dari unit terkecil ini, di mana nilai moral, mental, dan emosional pertama kali ditanamkan.
Dari hasil prompt AI, berikut adalah langkah-langkah dalam membangun dan memperbaiki generasi melalui keluarga:
1. Keluarga sebagai Sekolah Pertama (Madrasatul Ula)
Penanaman Karakter: Di dalam lingkup keluarga, anak pertama kalinya belajar tentang kejujuran, empati, tanggung jawab, dan toleransi. Karakter anak tidak dibentuk melalui instruksi semata, melainkan dari konsistensi perilaku yang dicontohkan oleh orang tua setiap harinya.
Seperti teori Montessori, anak usia emas memiliki kemampuan absorbent mind. Kemampuan alami anak usia dini (0-6 tahun) untuk menyerap informasi, bahasa, budaya, dan emosi dari lingkungan sekitar secara refleks dan tanpa usaha sadar. Fenomena ini membentuk fondasi kepribadian, memori, dan kecerdasan anak.
2. Memutus Mata Rantai Trauma (Generational Trauma)
Banyak generasi saat ini berjuang melepaskan diri dari pola asuh yang salah dari masa lalu. Pembenahan keluarga berarti berani menghentikan kebiasaan beracun (toxic) agar tidak diteruskan ke anak-cucu.
Pola Asuh Terbuka: Menerapkan komunikasi dua arah yang sehat sehingga anak tumbuh menjadi individu yang berani berpendapat dan memiliki kesehatan mental yang stabil.
3. Membangun Ketahanan Keluarga
Waktu Berkualitas: Keharmonisan keluarga sangat bergantung pada kualitas kebersamaan yang dibangun, bukan sekadar kuantitas.
Manajemen Emosi & Finansial: Keluarga yang kuat membutuhkan kemampuan memecahkan masalah (konflik) dengan bijak serta mengelola ekonomi secara stabil.
Ulasan lama pada tahun 2021 dari situs resmi Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia terkait urgensi ketahanan keluarga, bisa menjadi referensi bacaan bahwa pemerintah seharusnya memang harus terus menggaungkan akan hal ini.
https://setneg.go.id/baca/index/membangun_bangsa_harus_dimulai_dari_membangun_keluarga
Selain itu, saya yang penggemar dari channel YouTube Ngaji Filsafat Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta, terdapat referensi pembelajaran dalam mendidik anak maupun keluarga dengan bisa menonton series Filosofi Pendidikan Anak. Ada empat topik pemikiran dari tokoh yang peduli terhadap pola asuh dalam mendidik anak, yaitu filosofi dari:
Maria Montessori
Rabindranath Tagore
Abdullah Nashih 'Ulwan
Ki Hadjar Dewantara
Edisi Juli 2023
Filosofi pendidikan anak dari Maria Montessori sekarang sudah banyak diterapkan di sekolah-sekolah formal maupun non formal di Indonesia. Selain itu, sebagai upaya menjaga identitas nasional bangsa, filosofi pendidikan anak dari Ki Hadjar Dewantara juga bisa menjadi referensi pondasi pola asuh yang masih relevan dengan masyarakat Indonesia pada zaman sekarang dan kedepannya.
Setiap perubahan besar di masyarakat selalu bermuara dari rumah. Dengan menghadirkan lingkungan keluarga yang aman, suportif, dan penuh kasih, kita telah menyumbang fondasi bagi lahirnya generasi penerus yang tangguh, cerdas, dan berakhlak.
-Bontang, 05 Juni 2026-














