Sudut Pandangku Tentang Sore, Jonathan, dan Waktu.
Nonton karena fomo? Enggak. Nonton karena pengen tau sinematografi dan shoot filmnya. Sekaligus nikmati ceritanya juga sih. Review di Tiktok cukup singkat, aku jabarin disini biar lebih panjang dan jadi kenang-kenangan.
Aku nonton film Sore di tanggal 31 Juli 2025. Masih di bulan lahir ku, dan jadi self rewardku juga. Nonton sama mba Fasya, karena aku bener-bener butuh yapping. π Kerja kantoran membuatku jadi super introvert dan jiwa ekstrovertku butuh dikasih makan.
Awal cerita agak cukup kaget ya, aku ga nonton seriesnya juga. Pure dari film aja, kaget waktu sore muncul sih. Sempet mikir, ini film romance atau horor? Tapi mataku termanjakan lewat petualangan si Jonathan as Photografer π©΅.
Jadi sore capek? Iya, capek banget. Aku pernah ada diposisi Sore, nyoba buat ngubah orang yang aku sayang. Tapi, yaa ga ada perubahan. Endingnya yang bisa aku lakuin ya berdamai, karena hal itu bisa aku torerir. Tapi kalo posisinya kayak Sore yang ga mau kehilangan karena sakit/penyakit. Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama.
Melakukan sampai ga ada penyesalan.
Apakah itu cinta atau obsesi? Bisa jadi cinta dan obsesi yang menjadi satu. Kenapa? Karena mereka sama-sama saling memiliki. "Kalau aku harus hidup 1000 kalipun, aku akan tetap memilihmu" Padahal hubungan mereka juga banyak pertengkarannya, bukan yang selalu bahagia, tapi mereka mengerti makna pulang.
Karena aku telah memilihmu, tiada alasan untukku memilih seseorang yang lain. Untukku, kamu sudah cukup. Kira-kira begitu yang bisa ku tangkap dari rasa mereka untuk satu sama lain. Tapi, Sore lupa. Tidak mengetahui luka pasangan juga bagian dari bunuh diri.
Jonathan hidup dalam banyak pertanyaan.
Kenapa ayahnya memilih pergi?
Kenapa ayahnya menikah lagi?
Kenapa ayahnya tak pernah memberikan alasan?
Kenapa sosok ayah yang aku butuhkan tak pernah muncul?
Hanya gambaran kecilnya saja yaa. Kalo ditarik garis, anak yang tumbuh tanpa peran seorang ayah ia sulit untuk mengutarakan atau mengekspresikan perasaannya dengan baik. Ada luka yang belum sembuh dan secara tidak sadar menyakiti dirinya sendiri.
Yang aku sadari saat beranjak dewasa, setiap orang punya luka. Tidak terkecuali, ada yang sadar, ada yang belum divalidasi, ada yang diabaikan, ada yang disembunyikan, ada yang dibesar-besarkan. Macam-macam, tapi poinnya bukan itu.
Saat kita mengerti seseorang punya luka, pendekatannya menjadi berbeda. Yang bisa menolong orang yang terluka, hanya orang itu sendiri.
Dan hingga akhirnya, Sore tertelan oleh waktu.
Alur cerita yang maju mundur, jujur aja membuat aku capek. Asli capek banget jadi Sore, mau ngubah beribu kalipun kalo orangnya belum mau ya gak akan mau. Bener kok kata-kata di filmnya, "Laki-laki tidak akan bisa dirubah sesuai dengan kemauan wanita, tapi laki-laki akan berubah karena dia benar-benar mencintai wanitanya."
Jujur aja agak iri, ada bapak temenku yang berhenti merokok karena temenku infeksi saluran napas. Aku kadang sampe mikir, "Apa aku harus sakit gitu dulu baru abiku juga berhenti ngerokok ya?" Hehehe. Jujur aja, udah ditahap sesek yang kepalanya pusing dan ga bisa napas kalo masih ada aroma asapnya. Dan makin kesini, makin ga bisa nolerir asap apapun. Sedih banget.
Tapi endingnya, Jonathan tumbuh. Ia merasa kosong, hampa, kehilangan. Fokus dengan dirinya sendiri, memaafkan apa yang perlu dimaafkan. Mengikhlaskan apa yang perlu diikhlaskan. Menyembuhkan apa yang perlu disembuhkan.
Hingga akhirnya, ia pulang ke rumah terakhir dan selamanya. Sore.
Setiap kali alunan lirik lagu bagian ini terputar,
"Melihatmu bersemi dan bermekaran. Tawa candamu berikan kekuatan. Sisa hariku pagi berganti waktu. Memelukmu
Kita kan tua dan kehilangan pegangan. Lihat senyummu memberikan kekuatan. Sisa nafasku cinta tak kenal waktu. Menjagamu."
Aku memejamkan mataku dan tersenyum.
Aku ingin melihatmu bersemi dan bermekaran.
Dan kesimpulan saat film ini berakhir, waktu kita terbatas. Manusia memang bisa berubah, tapi tidak bisa kalo bukan dari kemauannya sendiri. Dan mungkin, aku tak akan pernah bosan untuk mengulang hal ini lagi dan lagi cintai dirimu sebelum memilih untuk saling mencintai.
Seperti kamu yang senang melihatnya bersemi dan bermekaran. Dia juga ingin melihatmu bersemi dan bermekaran. π»
Waktu memang terbatas, tapi ia selalu tepat pada waktunya juga. Tidak kurang dan tidak lebih. Jadi tolong hargai waktu yang kamu punya. Selagi masih ada, dan selagi masih bisa.