Oke, sekali lagi saya punya sedikit waktu untuk liburan. Sangat sedikit tepatnya, hanya 1 hari.
Jalan-jalan ke Curug Cilember dan hiking di kebun teh Puncak memang bikin ketagihan nih. Sempat riset untuk hiking ke puncak Gede-Pangrango, tapi butuh minimal 3 hari 2 malam untuk bisa summit attack dua gunung keren itu.
Sepertinya hiking Jayagiri ke kawah ratu Tangkuban Parahu ide bagus nih!
Hari rabu adalah satu-satunya hari dalam seminggu dimana saya dan Cindy punya hari libur yang sama, jadi sejak dini hari kami sudah siap!
DayTrans adalah pilihan utama kami ke Bandung. Letak poolnya dekat dari meeting point di Palmerah Selatan, dan angkutan umum ini punya jadwal keberangkatan jam 5 pagi. Jadi, setelah membayar ongkos 105 ribu rupiah per orang (diskon hari rabu jadi @ 90 ribu rupiah) berangkat lah kami ke Bandung sebelum matahari terbit!
Jam 7.50 wib kami tiba di pool DayTrans Cihampelas. Sarapan nasi kuning singkat di dekat situ dan membeli minum di Indomaret yang ada disebelah poolnya, kami menyebrang jalan ke Cipaganti dan naik angkot jurusan terminal Ledeng.
Ongkos dari Cipaganti ke Ledeng @3000 rupiah. Setelah sampai di terminal Ledeng, kami pindah kendaraan naik yang jurusan Lembang.
Mobilnya lebih besar dari angkutan kota pada umumnya. Angkutan umum jurusan Ledeng mengunakan mobil Mitsubitshi L300, memang lebih cocok sih untuk angkutan lintas kabupaten yang sering ditunpangi penumpang yang bawa hasil bumi.
Oke lanjut! Dari terminal Ledeng perjalanan lanjut ke tujuan berikutnya, desa Jayagiri. Jaraknya lumayan jauh tapi hanya butuh 15 sampai 20 menit lah dari Ledeng untuk sampai di depan jalan masuk desa Jayagiri yang berada di sekitar pasar Lembang. Ongkosnya pun ngga terlalu mahal, kami bayar 4000 rupiah per orang.
Sampai di depan jalan desa Jayagiri, saya dan Cindy memutuskan jalan kaki sampai ke pintu masuk kawasan Wana Wisata LHI Jayagiri. Kayaknya 1 km gitu deh jaraknya dari jalan raya, lumayan jauh sih tapi gengsi juga balik lagi panggil ojek yang tadi udah kami cuekin hehehe.
Jalan menuju loket Wana Wisata LHI Jayagiri
Akhirnya sampai juga di pintu masuk Wana Wisata LHI Jayagiri. Bentuknya sederhana dengan sebuah loket kecil yang menempel dengan gapura. Oiya, kami tiba di loket sekitar jam 09.50 wib.
Di depan loket ada halaman sedang untuk menampung 10-15 motor lah. Di dekat parkiran motor ada beberapa warung kopi yang buka, tapi karena kami masih semangat jalan, lanjut terus!
Ongkos masuk Jayagiri @5000 rupiah per orang, untuk turis asing lebih mahal lagi sih tapi ngga tanya berapa harganya.
Karena wana wisata LHI Jayagiri ini juga jadi lokasi berkebun masyarakat setempat, jalan utamanya cukup bagus dan landai karena juga sering dilewati petani atau peternak yang menggunakan motor membawa hasil kebun atau rumput untuk makan ternak. Pipa air yang berada di jalan utama ini pun seperti menjadi tulang punggung jalan ini.
Kurang lebih 200 meter dari pintu masuk ada warung cukup besar yang menjual kopi, teh dan snack untuk petani atau pengunjung yang kecapean. Selepas warung, jalur hiking langsung menuju hutan pinus.
Hiking di Jayagiri gampang banget. Ikutin aja jalan utamanya atau jalan alternatif tepat disebelah jalan utama. Bedanya, jalan alternatif lebih setapak, berkelok-kelok dan beberapa tempat ada akar yang melintang. Hiking banget deh pokoknya.
Tidak ada pemandangan selain barisan rapi pepohonan pinus di sepanjang jalur ini yang sangat keren untuk foto-foto!
Pepohonan pinus dan karet mendominasi lanskap hutan Jayagiri
Karena kami hanya berdua dan pengalaman terakhirku kesini adalah 13 tahun yang lalu saat masih SMP, saya benar-benar terpaku pada jalur yang ada.
Sekitar 1 jam hiking dan foto-foto, kami tiba di meeting point. Sebuah halaman luas dan ada tiga warung tak berpenghuni, sepertinya hanya digunakan saat weekend. Disini kami istirahat 5 menit untuk minum.
Di halaman ini jalan mulai bercabang dua. Kami memilih jalan yang lurus seperti petunjuk di blog orang-orang yang sudah pernah kesini.
Eh, baru jalan 10 meter, jalan kembali bercabang tiga. Saya baru sadar, ini jalan bercabang yang dimaksud penulis blog itu. Menurutnya, jalan ke kiri akan mengarah ke kebun teh, lurus ke Tangkuban Parahu, kanan ke Cikole (bahkan ada yang bilang mengarah ke gunung Putri).
Ya jelas aja kami ambil jalan yang lurus. (Anaknya alim hehehe)
Jalan lagi sekitar 20 menit plus foto-foto, sayup-sayup mulai kedengeran suara cewek cewek lagi ngobrol kenceng. Sudah dekat nih, pikir ku.
Sedikit menanjak, eh malah ketemu jalan aspal!! Apa-apaan ini? Baru hiking 1,5 jam udah ketemu jalan aspal? Padahal hasil riset, bilangnya hiking 3 jam, akan ketemu menara petir, sungai kecil bla bla bla. Lah, ini malah jalan aspal?!
Ya udahlah, karena udah jam 11 siang dan males cari jalan lagi kami terusin aja jalan kali di jalan aspal ini. Jalanan ini paling lebar ya 3 meteran, kondisinya rusak berat dengan lubang disana sini. Saya sudah 4 kali ke Tangkuban Parahu, dan tidak pernah lewat jalan ini, kayaknya ini jalan pertama yang dibuat untuk akses ke kawah Ratu, sebelum dibuat jalan lain yang lebih lebar dan lebih bagus.
Lanjut lagi hiking meniti jalan aspal dan mulai kepanasan karena ngga tertutup pepohonan, akhirnya kami ketemu rombongan cewek-cewek SMA yang suaranya kedengeran sejak kami masih di dalam hutan. Tanya arah jalan ke Tangkuban Parahu, eh mereka ngga tau! Dasar tukang bolos sih!
Beneran deh, ragu banget ngikutin jalan aspal ini karena seingat saya dulu waktu SMP hiking disini, saya ketemu aspal ya ketika sudah sampai di kawah Ratu. Tapi ya gimana lagi, mau cari jalan lain juga malah nguras tenaga.
Ragu-ragu ikutin jalan aspal yang semakin rusak dan bahkan ngelewatin jembatan yang rusak berat, kami ketemu pasangan yang hiking turun dan meyakinkan kami berada di jalan yang benar.
Benar saja, tepat jam 12 siang, kami akhirnya sampai di pintu masuk taman wisata alam Tangkuban Parahu. Lega!
Harga tiket masuk Tangkuban Parahu 15 ribu rupiah ditambah PNB 2000 rupiah, total kami membayar 34 ribu rupiah untuk 2 orang.
Jarak dari loket masuk ke kawah Ratu 1,2 kilometer. Sedikit menjauh dari loket dan halaman parkir bus, ada pintu kecil dari bambu dengan petunjuk “Jalur alternatif” melewati hutan sejauh 0,8 km. Tentu saja kami ambil jalan ini!
Jalur alternatif ini menyenangkan. Buat saya dan Cindy yang suka hiking santai tapi bukan pecinta alam, jalur ini sangat oke. Jalurnya sudah dirapikan dan nyaman, bahkan di beberapa tempat yang cukup menanjak telah dibuat anak-anak tangga dengan tepian dari bambu yang memudahkan pengunjung.
Katanya sih kalo lewat jalur alternatif ini bisa ketemu dua jenis monyet ekor panjang dan beberapa burung, tapi sampai ujung jalan ngga ketemu tuh.
Setelah hiking sejauh 7 kilometer selama 3 jam ke ketinggian 1830 mdpl, kami pun tiba di Tangkuban Parahu!!
Karena lagi musim kemarau, kawah Ratu sedikit kering dan bagusnya bau belerang tidak menyengat!
Meskipun weekday, tetap saja banyak yang datang kesini. Dari pasangan muda, rombongan ibu-ibu arisan, tur mahasiswa hingga turis dari Timur Tengah.
Tangkuban Parahu banyak berubah. Fasilitasnya lebih baik, pagar pembatasnya cukup rapi, banyak tempat duduk dipinggiran kawah ratu dan tempat parkir luas untuk mobil dan motor. Para PKL pun punya tempat sendiri untuk menjual oleh-oleh atau makanan.
Yang kurang adalah angkutan umumnya. Ada terminal kecil sih diatas sini, tapi shuttle yang seperti odong-odong, ngga terlihat lagi. Padahal angkutan itu bantu banget buat orang yang datang dengan angkutan umum. Pintu utama Tangkuban Parahu di jalan raya Lembang jaraknya saja 5 kilometer untuk sampai ke kawah Ratu.
Dan satu lagi yang bikin kecewa, untuk masuk kawah Domas yang jaraknya kurang lebih 1,3 kilometer ke bawah, sekarang harus dipandu guide dengan tarif untuk turis lokal sebanyak 1-5 orang adalah 100 ribu rupiah!
Selama saya ke kawah Domas ngga pernah harus dipandu guide apalagi harus bayar 100 ribu rupiah! Jalan ke kawah Domas sebelum ganti pengelola aja udah bagus, apalagi sekarang. Masa harus pake pemandu?!
Saya percaya aturan ini untuk meningkatkan pendapatan penduduk setempat, tapi rasanya konyol memasang tarif 100 ribu rupiah untuk guide, bagi 2 turis lokal berpengalaman. Menurut saya aturannya akan efektif jika diatas 5 orang atau untuk turis asing.
Tapi jangan sampai aturan konyol ini merusak tujuanmu kesini, ya kan! Jadi, segera angkat tasmu, ikat kuat tali sepatumu, dan mulai hiking di gunung terdekat!
7K to Kawah Ratu Oke, sekali lagi saya punya sedikit waktu untuk liburan. Sangat sedikit tepatnya, hanya 1 hari. Jalan-jalan ke Curug Cilember dan hiking di kebun teh Puncak memang bikin ketagihan nih.