HARI BAHAGIAMU
Nak, senyummu sumringah sekali hari ini..
Aku memandangimu dari kejauhan. Kamu duduk di antara puluhan wisudawan lainnya, sembari sesekali memperbaiki letak toga. Biasanya aku yang melakukan hal itu, membenahi pakaianmu dengan saksama. Kamu berbincang ringan dengan teman di sampingmu, lalu menertawakan sesuatu yang tak bisa kudengar dari sisiku.
Tiba-tiba waktu terasa berjalan mundur.
Aku melihat diriku sendiri yang bertahun-tahun lalu itu. Perempuan muda yang pernah begitu khawatir saat pertama kali diamanahi menjaga kehidupan serentan dan sekecil dirimu. Memaksaku mengingat banyak hal yang selama ini kusimpan rapi tanpa kusadari.
Suara langkah kecil yang berlarian di dalam rumah. Jemari mungilmu yang selalu mencari tanganku saat terjaga dari tidur. Wangi minyak telon yang dulu sering kuoleskan untuk menghangatkan tubuhmu. Malam-malam panjang ketika demammu membuatku harus terjaga hingga pagi.
Lucu. Tak ada yang mengajariku bagaimana menjadi ibumu, cara menyaksikan kamu bertumbuh, lalu perlahan menjauh dari pelukanku. Tak ada buku yang memberitahuku bagaimana aku tetap harus tersenyum tabah saat tiba waktunya melepasmu. Tak ada yang berkata bahwa ini tak akan mudah.
Untuk pertama kalinya, aku merasa waktu memiliki wajah. Ia berdiri di hadapanku dengan sorot matamu yang kini tak lagi mencari-cari aku. Dan hal-hal yang terasa begitu sederhana dulu itu… kini menetap di masa yang tak bisa lagi kukunjungi.
Ternyata beginilah rasanya.
Seperti berdiri di tepian dermaga saat kapalmu berlayar meninggalkan pantai. Aku tersenyum melihatnya, tapi kakiku tak mampu beranjak. Air mataku merebak. Aku terus mengikuti titik kecil kapalmu hingga perlahan memudar di keemasan cakrawala.
Kelak… Takkan ada lagi cerita-cerita yang kau kisahkan sebelum tidur. Ada keputusan-keputusan yang tak lagi memerlukan pertimbanganku. Bahkan… ada jalan yang akan kau pilih sendiri.
Aku menarik napas dalam-dalam. Tapi paru-paruku terasa terlalu sempit untuk menampungnya. Dadaku berkecamuk menyadari aku tak lagi menjadi tempat pertama yang kau tuju untuk segala hal. Aku bangga padamu atas itu. Juga sedikit berduka. Serta diam-diam berterima kasih pada waktu. Karena meski ia telah meminjam begitu banyak hari dariku, ia mengembalikannya dalam bentuk dirimu hari ini.
Nak, mataku berkaca-kaca sepanjang hari bahagiamu.
Bukan… bukan karena aku kehilangan sesuatu. Tapi karena… beberapa kebahagiaan terkadang terasa sangat mirip dengan kesedihan.
*Teruntuk @innshter Nak, selamat hari kelulusanmu. Semoga berkah ilmumu🌹











