PADAM SEBELUM MENYALA
Pernah ada masa ketika kau terasa seperti pusat gravitasi. Segala yang kumiliki berputar mengitarimu; teratur, lembut, seolah semesta memang dirancang untuk kita berdua.
Kita adalah dua massa yang saling mengunci, memilin cahaya menjadi selimut, menamai gelap sebagai rahasia.
Aku tak mengenal cara mencintai yang separuh; maka seluruh nyalaku kuserahkan pada porosmu. Kukira di dalam pusaran itu waktu bisa berhenti, dan dunia tak perlu ke mana-mana lagi.
Namun, Kau ternyata ledakan yang menyamar sebagai diam.
Kau geser poros itu tanpa aba-aba. Keseimbangan koyak.
Aku terlempar ke ruang hampa, sementara kau buru-buru menyusut, kembali aman dalam semesta yang tak menuntut apapun darimu kecuali kepura-puraan.
Tali-tali cahaya yang pernah kita rajut kau putuskan sendiri. Binar yang kita pijar kau padamkan, bukan karena ia redup, tapi karena kau takut pada terang yang menuntutmu tinggal. Sebab terang seperti itu membutuhkan keberanian.
Maka, jadilah ketiadaan.
Namamu kehilangan gema. Tak ada lagi frekuensi yang sanggup memantul di dinding ingatan yang kini lebih lapang.
Langit yang dulu kita tafsir bersama, telah kuurai simpulnya satu per satu. Kini kau hanya gurat redup di temaram senja, hilang sebelum malam sempat menuliskanmu di gugus bintang.
Dan di sini, di ruang yang tak lagi berdenyut untukmu Aku tetap ada. Tenang. Bernapas. Nyata.
Sebab kau hanyalah sisa cahaya dari bintang yang memilih padam sebelum sempat benar-benar berani meledak dengan benderang.











